Ibadah Sunyi

0
260 views
jual sepatu futsal
jual sepatu futsal

Abd. Muid N. (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Kontributor www.nuansaislam.com)

Di dalam salah satu Hadits yang sangat populer, Nabi Muhammad saw bersabda bahwa Allah swt berfirman: Ash-shawmu lî wa ana ajzî bihî. Artinya: Puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan Membalasnya. Ada pertanyaan yang mungkin ditimbulkan oleh Hadits tersebut. Jika puasa adalah untuk Allah swt, apakah ibadah lain bukan untuk Allah swt? Dan jika puasa akan dibalas oleh Allah swt sendiri, apakah ibadah lain tidak dibalas oleh Allah swt sendiri?

Biasanya, jawaban untuk kedua pertanyaan di atas adalah bahwa itulah istimewanya puasa. Ya, puasa memang istimewa dan itu adalah jawaban yang benar. Namun apa keistimewaan puasa dalam hal itu? Kita akan coba menjawab meski mungkin jawaban yang hadir tidak memuaskan semua.

Pertanyaan pertama tentu jawabannya adalah puasa dan ibadah lain semuanya adalah untuk Allah swt. Tidak satupun ibadah yang bukan untuk Allah swt. Bahkan jika ada ibadah yang bukan untuk Allah swt, maka ibadah itu tertolak dan pelakunya terancam tidak ikhlas, riya, bahkan musyrik. Lalu mengapa puasa mendapatkan penekanan seperti itu?

Puasa adalah ibadah sunyi, bukan ibadah hingar bingar. Tidak ada gerak tubuh yang menjadi penanda khas orang berpuasa dan tidak ada orang lain yang terlibat dalam puasa seseorang selain dirinya sendiri. Yang tersisa dari kesunyian puasa adalah pelaku puasa dan Allah swt. Kesunyian puasa inilah yang membuatnya berbeda sehingga keikhlasan bisa mencapai titik tinggi pada puasa.

Bisa kita bayangkan kedahsyatan sebuah ibadah yang mampu menyisakan kehadiran seorang hamba sendirian bersama Tuhannya, berdua, bersyunyi-sunyi. Jauh dari hingar-bingar pujian, kehormatan, demonstrasi, penampilan, bahkan iming-iming surga. Bukankah itu sesungguhnya semua itulah yang menggaggu ibadah kita yang sering bukan mendekatkan kita kepada Allah swt, malahan menjadi penghalang keintiman hubungan kita dengan Allah swt?

Itulah yang ditawarkan oleh puasa dan karena itulah Allah swt berfirman: Puasa itu untuk-Ku.

Pertanyaan kedua sama dengan yang pertama. Jawabannya adalah sebagaimana ibadah yang lain, puasa juga mendapatkan balasan baik dari Allah swt, tidak ada pengecualian. Lalu  mengapa puasa mendapatkan penekanan berbeda?

Karena puasa adalah ibadah sunyi, maka keterlibatan orang lain untuk membalasnya sangat minim. Berbeda dengan zakat, puasa, dan haji. Pelakunya bisa mendapatkan penghormatan dari orang lain (bukan hanya dari Allah swt) dan mendapatkan sebutan sebagai orang dermawan, orang shalih, atau seorang haji.

Selain itu, puasa adalah pengorbanan sangat mendasar karena mengorbankan kebutuhan paling mendasar yaitu makan, minum, dan hubungan seksual. Karena itu, pembalasan puasa yang utuh adalah hanya dari Allah swt dan karena itulah Allah swt berfirman: Wa ana ajzî bihî. Artinya: Akulah yang mengganjar ibadah orang yang berpuasa.[]