Hukum Kekekalan Nafsu

0
52 views

Sudah merupakan fenomena biasa jika harga barang-barang merangkak naik menjelang bulan Ramadan dan mencapai puncaknya menjelang Hari Raya. Seharusnya tidak, demikian jeritan ibu-ibu rumah tangga. Tentu mereka bukan ibu-ibu rumah tangga yang sekaligus ahli ekonomi sehingga tidak mudah menerima kenyataan itu secara akademis.

Secara sederhana dipahami bahwa kenaikan harga suatu barang dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan terhadap barang tersebut. Pada bulan Ramadhan, kebutuhan rumah tangga lah yang mengalami kenaikan signifikan karena tingkat kebutuhan terhadapnya juga meningkat. Bukan kah seharusnya menurun karena orang-orang sedang berpuasa? Bukankah seharusnya harga ayam potong tidak naik karena tidak lama lagi orang-orang akan melaksanakan hari-hari di mana mereka menahan diri untuk tidak makan apapun, termasuk ayam potong, di siang hari?

Mungkin di situ masalahnya. Energi yang tertahan di siang hari menemukan pelampiasannya ketika bedug maghrib ditabuh hingga fajar menjelang dan meledak tak terkendali. Ayam potong yang seharusnya habis seekor menjadi dua-tiga ekor hanya lewat sekali pertemuan di meja makan. Di sini, ungkapan bahwa pembalasan lebih kejam dari perbuatan menemukan pembuktiannya.

Fenomena ini juga membuktikan bahwa ternyata ada benarnya rumusan para ilmuwan fisika tentang hukum kekekalan energi. Kemampuan untuk menahan diri di siang hari bulan Ramadhan ternyata lebih merupakan energi yang tidak terlampiaskan daripada nafsu yang diupayakan untuk dijinakkan lewat lembaga pendidikan Ramadhan. Nafsu angkara tidak tidak melemah karenanya, hanya mengalami hibernasi selama bulan Ramadhan. Setelah itu, bangun lagi seperti sedia kala. Karenanya, sangat wajar jika nafsu-nafsu yang terbelenggu selama bulan Ramadhan akan meledakkan dirinya di luar bulan Ramadhan.

Ramadhan dalam bentuk ini tidak lagi menjadi training bagi para pelakunya untuk menjinakkan hawa nafsu mereka tetapi menjadi masa-masa penumpukan energi dengan cara mengekangnya untuk di suatu saat nanti dilepaskan dari kandang. Pada suatu titik di mana energi yang terkumpul mencapai puncak kebuasannya, dia dilepas dan melahap apa saja di sekelilingnya.

Ramadhan yang awalnya adalah upaya solusi bagi bara hawa nafsu yang merajalela, berubah menjadi kontraproduktif. Setan-setan yang diborgol di bulan Ramadhan tidak menjadi jinak, malah lebih buas setelah bulan puasa berlalu.

Pada masa-masa seperti ini, kita akan teringat lagi sabda Rasulullah yang masyhur tentang adanya orang-orang yang berpuasa tetapi tidak menemukan apa-apa selain lapar dan dahaga. Rasulullah mungkin sedang berbicara tentang dampak paling minimal dari dari puasa yang tanpa makna, yaitu hanya lapar dan dahaga tanpa pahala. Bagaimana jika dampaknya tidak sebatas itu? Bagaimana jika dampaknya adalah pengembangbiakan kekuatan nafsu? Jika itu yang terjadi, maka tidak lagi mengherankan jika puasa hanya tinggal ritual semata hingga banyak orang yang berpuasa tetapi tidak banyak yang memetik manfaat dari puasa, terutama manfaat puasa bagi upaya penjinakan hawa nafsu, malah sebaliknya. Namun, apapun itu, Selamat Berpuas

(Artikel ini pernah dibuat di Harian Republika, Sabtu, 23 Juli 2001)

http://koran.republika.co.id/koran/25/139537/Hukum_Kekekalan_Nafsu