Honor Dakwah

0
140 views

islamedia.web.idSaya ingin menanyakan soal honor para dai. Hal ini saya ungkapkan karena kaget dengan honor para dai kondang yang bisa mencapai jutaan rupiah untuk sekali tampil. Mereka pun dilengkapi dengan sekretaris pribadi. Dari situlah ada semacam ‘bandrol’ untuk sekali tampil.

Sebenarnya, bagaimana masalah honor buat para dai. Dan sejauh mana kelayakan dan kepatutan seorang dai bisa memberi ‘bandrol’ buat dirinya?

Ahmad Nafis, Jakarta.

Jawaban

Dakwah, termasuk di dalamnya tabligh yang dilakukan melalui khutbah dan ceramah merupakan tugas yang amat mulia untuk diemban oleh kaum muslimin, apalagi hal ini memang amat dibutuhkan. Mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat banyak menuntut adanya keikhlasan sehingga tugas yang berat ini bisa dilaksanakan dengan perasaan yang ringan. Namun tanpa keikhlasan, jangankan tugas yang memang berat, yang ringanpun akan terasa menjadi berat. Dalam dakwahnya, para Nabi tidak mengharapkan imbalan yang bersifat duniawi sehingga mendapatkan imbalan duniawi atau tidak bukanlah persoalan dalam dakwah, Allah Swt berfirman: Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an)”. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat (QS 6:90).

Nabi Nuh as, Musa as dan Yunus as menegaskan kepada umatnya tentang maksud dakwah yang mereka lakukan sehingga ditegaskan tidak adanya mengharapkan imbalan sehingga bila orang-orang kafir tidak mau mengikutinya, hal ini bukanlah kerugiaan bagi diri sang da’i, hal ini dinyatakan dalam firman Allah: Jika kamu berpaling dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu, upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya). (QS 10:72, lihat pula QS 11:29, 51. 12:104. 25:57.26:109, 127, 145, 164, 180. 38:86).

Dari keterangan di atas, dengan amat jelas bisa kita simpulkan dan kita tegaskan bahwa dalam dakwahnya, para da’I pada dasarnya tidak dibenarkan untuk meminta upah, apalagi dengan nilai yang besar sehingga ia baru mau ceramah di suatu tempat bila panitia atau jamaahnya mau membayar sekian ratus ribu atau sekian juta rupiah.

Meskipun demikian, bukan berarti seorang da’i tidak boleh menerima honor dari pengurus, panitia atau jamaah yang didakwahkannya. Seorang ustadz mengilustrasikan: Seorang petani pergi ke sawah tentu dengan niat hendak menggarap sawah agar bisa ditanami padi. Ketika sawah sedang digarapnya, tiba-tiba terdapat seekor atau dua ekor belut. Petani itu boleh menangkap dan membawanya pulang untuk digoreng dan dimakan. Tapi, besok datang ke sawah lagi tidak boleh niatnya untuk mencari belut, karena belutnya belum tentu ia dapatkan sedangkan sawah bisa acak-acakan, akhirnya belut tidak diperoleh, sawah tidak bisa ditanami padi.

Menurut informasi yang kami terima, di negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Brunei dan sebagainya, para imam dan khatib statusnya sebagai pegawai kerajaan, mereka digaji dalam jumlah yang cukup sehingga tidak perlu lagi diberi amplop. Di negara kita, jangankan da’I, guru sekolah saja banyak sekali yang belum menjadi pegawai negeri.

Dalam aktivitas dakwah sekarang memang sudah biasa adanya khatib dan muballigh yang mendapatkan amplop dari pengurus atau panitia kegiatan dakwah. Selama tidak ditetapkan oleh sang da’I besaran jumlahnya, mungkin tidak terlalu masalah selama sang da’I juga harus tetap meluruskan dan membersihkan niatnya, apalagi jangan sampai nantinya memilih-milih dimana dia harus berceramah berdasarkan besaran amplop yang diterimanya.

Namun, kegiatan dakwah zaman sekarang ternyata tidak semata-mata dakwah yang merupakan aktrivitas sosial. Kalau dulu orang main sepakbola sekedar hobi atau memang untuk berolah raga, sekarang sepakbola itu sudah menjadi bagian dari bisnis sehingga banyak orang yang bisa hidup berkecukupan bahkan lebih dari cukup dari sepakbola. Pada masa sekarang, ketika ada perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan Islam dan mendatangkan seorang da’I, panitia sudah menyiapkan anggaran untuk sang da’i. Acara televisi juga punya program dakwah dan mendapatkan sponsor dengan nilai yang besar sehingga sang da’I yang ditampilkannyapun mendapatkan honor bahkan karena memang media sudah menjalankan bentuk bisnis dari programnya, maka menjadi wajar bila sang da’I yang menjadi nara sumber menentukan nilai yang harus diterimanya.

Oleh karena itu, para da’I harus pula menyadari bahwa bila kegiatan dakwahnya di media seperti televisi dan radio yang memang unsur bisnisnya kuat lalu ia menetapkan nilai yang harus diterimanya, maka tidak tepat bila hal itu diberlakukannya juga kepada masyarakat yang akibatnya menjadi tidak mampu pada masyarakat dengan kondisi keuangan yang sulit untuk bisa mendapatkan nasihat-nasihat yang bersifat langsung dari sang ustadz, apalagi untuk bisa mendatangkan sang ustadz ke sebuah kampung harus menempuh birokrasi yang sulit melalui sekretarisnya. Selama sang da’I masih bisa mengatur dan mencatat sendiri jadual aktivitasnya, tentu tidak perlu adanya sekretaris pribadi.

Dengan demikian, sangat tidak tepat apabila ada da’I yang memasang atau menetapkan bandrol untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat luas, dan tanpa mengurangi kadar keikhlasan, mungkin saja ia menerima honor dalam berdakwah.

Demikian jawaban singkat pengasuh, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Kirimkan pertanyaan anda ke: ayani_ku@yahoo.co.id

BAGI
Artikel SebelumnyaKeluarga Pejuang
Artikel BerikutnyaBerdakwah kepada Keluarga