Hilangnya Kekuatan Politik Resmi Arab

0
49 views

Komunitas kebangsaan Arab dikenal paling kuat dalam persatuan. Ini karena faktor geografis dan massanya. Namun tidak ada kekuatan politik paling lemah melebihi politik negara-negara resmi Arab, meski mereka memiliki faktor sumber daya alam dan SDM paling kuat.

 

Bangsa Arab seharusnya memiliki bobot di dunia internasional. Mereka memiliki penopang-penopang budaya yang bisa menaikkan warganya dengan cara pengembangan dan pembangunan. Seharusnya mereka bisa meredam konflik dunia, membatasi hegemoni imperialisme dan pengaruh Israel terhadap bangsa-bangsa yang ada. Sehingga dunia hidup aman dan damai. Terutama karena bangsa Arab memiliki warisan budaya dan sejarah kemanusiaan. Memiliki teori kebangsaan dan kemanusiaan, SDM terlatih dan ahli, kekayaan alam di dalam buminya. 

 

Namun dengan semua itu, Arab kini hidup dalam fase “kehilangan politik” karena negara-negara Arab resmi mengalami kelemahan, kehinaan dan ketidakwibawaan. Sebab mereka menggantungkan diri dan nasib bangsanya kepada kekuatan internasional, terutama kekuatan imperialisme modern dan Israel yang menyimpan kebencian dan ingin menguasai kekayaan alamnya serta memecah belah persatuan mereka. Sebab negara-negara resmi Arab hanya peduli dengan jabatan pemerintahan, meski tenggelam dalam kelemahan, kebodohan dan keterbelakangan.

 

Negara-negara resmi Arab telah mengeluarkan bangsa Arab dari sejarah. Bangsa Arab tidak lagi memiliki sandaran dari warisan budaya mereka. Bahkan batas-batas geografi pun dimanfaatkan oleh pemerintah resmi untuk kepentingan pribadi mereka melawan umat. Buktinya adalah yang terjadi di Palestina dan Irak. Kini juga terjadi di Somalia, Sudan, Yaman dimana batas-batas geografi berjuang sendiri melawan musuh-musuh umat dan itu terjadi di parit bersama para pembangkang, agen dan penghianat.

 

Hilangnya (kekuatan politik) negara-negara resmi Arab terjadi karena mereka tidak komitmen dengan prinsip-prinsip kebangsaan. Sebuah bangsa yang menganggap remeh kesatuan tanahnya (geografinya) dan kesuciannya, mereka tidak akan bertahan. Bangsa yang meremehkan harga diri warga negaranya, tidak menghormatinya, mereka tidak layak hidup. Manusia dan wilayah geografi Arab tidak lagi memiliki makna di mata para pemimpinya. Sebab standar mereka berbeda dengan standar yang digunakan oleh massa (warganya) yang ingin menjaga wilayah mereka dan menjaga harga diri mereka.

 

Bangsa memiliki perangkat-perangkat untuk bertahan dan bangkit. Mereka masih memiliki peluang untuk membangun sistem pemerintahan politik yang menjamin kebebasan warganya, demokrasi, menjaga HAM, membangun persatuan dimana kini terpecah-pecah dan diacak-acak Israel.

 

Hilangnya sistem pemerintahan Arab resmi tidak meski Arab hilang sebagai bangsa. Sebab bangsa tidak meski diwakili oleh pemerintah resmi mereka. Namun mereka harus berjuang pada dua front; pada tataran internal mereka harus berjuang mengakhiri hegemoni pemerintah diktator yang sudah kehilangan legalitasnya untuk bertahan sebab mereka sudah gagal dalam pembangunan dan memberikan keamanan warganya. Tataran kedua; mereka harus berjuang memerangi serangan imperialisme Israel dan fanatisme kelompok yang memporak-porandakan mereka. Perjuangan ini melelahkan namun akan membersihkan mereka dari faktor kelemahan dan kehinaan.

Sumber: Dr. Ghalib Farijat (infopalestina.com)

BAGI
Artikel SebelumnyaWazîr
Artikel BerikutnyaTuhan Masa Depan