Hilal

0
67 views

tribunindonesia.files.wordpress.comHilal dalam bahasa Arab adalah sepatah kata isim yang terbentuk dari 3 huruf asal yaitu ha-lam-lam (ل – ل), sama dengan terbentuknya kata fi’il هَلَّ dan اَهَلَّ. Hilal artinya bulan sabit yang tampak pada awal bulan.

Sedangkan dalam istilah hilal adalah bulan sabit yang tampak saat matahari terbenam yang dilihat dari bumi setelah ijtimak atau konjungsi untuk menandai masuknya bulan baru pada sistem kalender tahun hijriyah.

Hilal ini ada pada setiap bulan, jadi istilah hilal tidak hanya dipakai ketika bulan Ramadhan, Syawal, Dzulhijjah saja, tetapi untuk semua bulan hijriyah.

 

Cara Menentukan Hilal

Pertama, Ru’yah.

Ru’yah dalam bahasa arab adalah sepatah kata isim yang terbentuk dari kata رأى yang mengandung makna melihat.

Sedangkan dalam istilah ru’yah adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Ruyah dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Dan apabila hilal terlihat maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1. Lalu adakah syarat seseorang diterima ru’yahnya? dalam sebuah hadis disebutkan:

Rasulullah saw tidak langsung menerima kesaksian seseorang tentang ru’yah. Beliau baru mau menerima kesaksian ru’yah orang itu setelah diketahui bahwa dia adalah seorang Muslim. Andaikan status Muslim tidak menjadi syarat diterimanya kesaksian ru’yah Ramadhan, maka Rasulullah saw tidak perlu melontarkan pertanyaan yang mempertanyakan keislamannya.

Datang seorang Badui ke Rasulullah saw seraya berkata: Sesungguhnya aku telah melihat hilal. (Hasan, perawi hadis menjelaskan bahwa hilal yang dimaksud  orang Badui itu adalah hilal Ramadhan). Rasulullah saw bersabda, “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Dia berkata, “Benar.” Beliau meneruskan pertanyaannya seraya berkata, “Apakah kau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Dia berkata, “Ya benar.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal umumkan kepada orang-orang untuk berpuasa besok.” (HR Abu Daud and al-Tirmidzi, disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Dalam penentuan awal bulan dengan metode ru’yah, terutama untuk awal bulan ramadhan terdapat tiga pendapat:

Pertama, satu ru’yah untuk semua negeri.

Pendapat ini mengandung maksud: Jika suatu negeri telah menyatakan telah melihat Hilal melalui ru’yah dengan terpercaya dan terbukti, maka negeri lain wajib mengikutinya walaupun negeri tersebut tidak melihat Hilal di negerinya sendiri.

Contoh : Jika Arab Saudi telah menyatakan telah melihat hilal, negara-negara lain di seluruh dunia yang belum melihat hilal harus mengikuti hasil ru’yah Arab Saudi.

Pendapat satu ru’yah untuk semua negeri ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama).

Kedua,  Satu ru’yah untuk satu negeri dan negeri yang berdekatan.

Maksudnya : Jika suatu negeri telah menyatakan telah melihat Hilal melalui ru’yah dengan terpercaya dan terbukti, maka negeri yang berdekatan wajib mengikutinya walaupun negeri tersebut tidak melihat Hilal di negerinya sendiri.

Contoh : Jika Indonesia telah menyatakan telah melihat hilal, negara-negara tetangga Indonesia (Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand, ) yang belum melihat hilal harus mengikuti hasil ruyah Indonesia. Ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi’iyyah.

Ketiga, Setiap negeri memiliki ru’yah masing-masing.

Maksudnya : Jika suatu negeri telah menyatakan telah melihat Hilal melalui ru’yah dengan terpercaya dan terbukti, maka negeri lain tidak wajib mengikutinya jika mereka tidak melihat Hilal di negerinya sendiri.

Contoh : Jika Arab Saudi telah menyatakan telah melihat hilal, negara-negara lain di seluruh dunia yang belum melihat hilal tidak harus mengikuti hasil ru’yah Arab Saudi, melainkan mengandalkan hasil ruyah di negerinya sendiri.

Ini adalah pendapat Ikrimah, Qasim bin Muhammad, Salim, Ishaq, dan pendapat yang dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyyah.

Ketiga pendapat dalam masalah ru’yah Hilal tersebut memiliki dalil/argumen yang sama (dengan pemahaman yang berbeda), yaitu suatu hadits riwayat Bukhari dan Muslim :

 

‏ ‏صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ ‏ ‏غُبِّيَ ‏ ‏عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

 

Rasulullah saw bersabda, “Shaumlah kalian karena melihat hilal (awal Ramadhan), dan berbukalah kalian karena melihat hilal (awal Syawwal). Jika (hilal) tertutup atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban 30 hari.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah. Redaksi hadits ini adalah riwayat Bukhari)

Sedangkan pendapat setiap negeri memiliki ru’yah masing-masing memiliki tambahan dalil dari hadits Kuraib/Ibnu Abbas :

 

: قدَمْتُ الشَام، وَاسْتهَلَ عَلَي هِلال رَمَضَان وَأنَا بالشَام، فَرَأيْتُ الهِلال لَيْلةَ الجُمْعَة.

ثمَّ قَدَّمْتُ المَديْنَة فيْ آخِر الشَّهْر، فَسَألنِيْ ابن عباس ثم ذَكَر الهِلال فقَال: مَتَى رَأيْتهُم الهِلال؟ فَقُلتُ: رَأيْنَاه لَيْلة الجُمْعَة فقال: أنْتَ رَأيته؟ فَقلتُ: نَعَمْ، وَرآه النَاس، وَصَامُوا، وَصَامَ مُعَاويَة، فقال: لَكنَّا رَأينَاهُ لَيْلَة السَبْت، فَلا نَزَال نَصُوْمُ حَتى نُكْمِل ثلاثين، أوْ نَراه، فقلت: ألا تكتفِي بِرُؤيَة مُعاويَة وَصِيَامه؟ فقال: لاهَكَذا أَمَرَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم.

 

Kuraib berkata : Aku tiba di Syam, lalu diumumkan tentang hilal Ramadhan ketika aku masih di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum’at. Lalu aku tiba di Madinah pada akhir bulan (Ramadhan), lalu Ibnu Abbas menanyakanku –lalu ia menyebut hilal–. Ibnu Abbas bertanya, “Kapan mereka melihat hilal?” Aku menjawab, “Kami melihat hilal pada malam Jum’at.” Ibnu Abbas bertanya, “Kamu melihat hilal?” Aku menjawab, “Ya, dan orang-orang melihat hilal, lalu mereka shaum, dan Mu’awiyah juga shaum.” Ibnu Abbas berkata, “Tapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka kami tidak berhenti shaum hingga kami menyempurnakan 30 hari atau kami melihat hilal.” Aku bertanya, “Apakah tidak cukup bagimu ru-yah Mu’awiyah dan shaumnya?” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak, begitulah Rasulullah telah memerintahkan (kami).”

(HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi. Tirmidizi berkata : Hasan, Shahih, Gharib).

 

Kedua, Ikmal (إكمال = penyempurnaan)

Ikmal dalam bahasa arab sepatah kata isim yang berasal dari kata أكمل yang mengandung makna penyempurnaan.

Dalam istilah ikmal adalah aktivitas penyempurnaan atau penggenapan tanggal pada akhir bulan dengan hitungan 30 hari, ini dilakukan jika hilal tidak terlihat pada proses ru’yah.

 

Ketiga, Hisab.

Hisab dalam bahasa arab adalah sepatah kata isim yang berasal dari kata حسب yang mengandung makna perhitungan, dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Walaupun ru’yah merupakan cara yang paling banyak dipakai dalam menentukan awal/akhir bulan Hijriyah, sebagian Muslim memakai ilmu hisab dengan memperhitungkan gerak Bulan mengitari Bumi, bahkan ilmu hisab saat ini sudah didukung dengan alat-alat astronomi dengan teknologi yang canggih.

Dalil diperbolehkannya hisab dipakai dalam menentukan awal/akhir bulan adalah :

Terdapat perintah dalam al-Qur’an yang menyuruh umat Muslim mempelajari ilmu hisab, antara lain adalah :

 

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

 

 Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji (QS. al-Baqarah [2]: 189)

 

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآياتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. (QS. Yunus [10] : 5)

 

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ءايَتَيْنِ فَمَحَوْنَا ءايَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا ءايَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ.

 

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. (QS. al-Israa’ [17]:12)

 

فَالِقُ الإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’am [6] : 96)

 

Hukum Hilal Yang Diketahui Pada Akhir Siang

 

عن أبي عمير بن أنس ، عن عمومته ، عن النبي -صلى الله عليه وسلم-” أَنَّ عُمُومَةً لَهُ شَهِدُوا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُؤِيَةِ الْهِلالِ ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَخْرُجُوا لِعِيدِهِمْ مِنَ الْغَدِ .

Dari Umair bin Anas bin Malik dari pamannya dari kalangan shahabat bahwasanya ada sekelompok pengendara datang. Mereka mempersaksikan bahwa telah melihat hilal kemarin. Maka Nabi saw memerintahkan mereka untuk berbuka (Iedul Fithri) dan pergi pagi-pagi ke tanah lapang keesokan harinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/214, hadits ke 1026).

 

Hadis ini sebagai dalil bagi orang yang berkata bahwasanya sahalat Ied boleh dilakukan pada hari kedua, apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar waktu shalatnya. Pendapat ini adalah pendapat Al-Auza’I, At-Tsauri, Ahmad, Ishaq, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, Syafi’I.

Referensi :

1.    Fiqhu as-Sunnah juz 1 oleh Sayyid Sabiq.

2.    Majmuah ar-rasail ats-tsalatsah [yang sudah diterjemahkan oleh Agus Hasan Bashari pada majalah Qiblati No.1 Vol.2].

3.    Al-masaail fii syahri Ramadhan.

4.    Subulus Salam 2/133)