Hidup dan Mati, Dunia dan Akherat

0
43 views

`Ali bin Abi Thalib -radiyallahu `anhu- sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori,  beliau mengatakan :

“Dunia pergi membelakang dan akherat datang menghadap, maka jadikanlah dirimu anak-anak akherat dan janganlah engkau menjadi anak-anak dunia, karena sesungguhnya kehidupan sekarang adalah amal tiada hisab, sedang esok adalah hisab tiada lagi amal”.

Al-Hasan Al-Bashri –rahimahullah- pernah mengatakan bahwa kematian telah membuka kedok dunia yang sebenarnya dan tidak membiarkan rasa gembira untuk mereka yang benar-benar berakal.

Seorang penyair berkata :

“Tiada negeri yang ditempati oleh seseorang setelah matinya

kecuali negeri yang telah ia bangun sebelum kematianya.

 Jika ia membangunnya dengan baik, baik pula tempat tinggalnya.

Jika membangunya dengan buruk akan kecewalah yang membangunnya.

Harta yang telah kita himpun  adalah untuk ahli waris

Rumah yang telah kita bangun akan menjadi puing-puing setelah kematian kita,

Kemanakah raja-raja yang dahulu berkuasa, hingga penyaji minunnya menyajikan gelas kematian kepadanya ?

Dalam firmannya Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman :

“Kullu nafsin dzaaiqatul mauut….  Setiap yang berjiwa pasti merasakan kematian”

Seorang penyair berkata :

“ Kamu menangis dan menjerit saat dilahirkan oleh ibumu,

sedang orang-orang yang di sekitarmu tertawa karena gembira.

Maka beramallah untuk dirimu sampai kamu tersenyum gembira pada hari kematianmu sedang mereka menangisi kepergianmu”.

Dalam salah satu sabdanya Rasulullah saw berkata : “Amalan itu tergantung pada niatnya” . beliau juga bersabda bahwa “Amalan itu tergantung pada penutup akhirnya” 

adapun pertanda akhir yang baik (husnul khotimah) adalah ;

Benar kepada Allah, Senantiasa memperbaharui taubat, Bersegera mengerjakan amal-amal sholih, Mengikuti sunnah, Mengingat akherat dan menyiapkan bekal  untuk menyambutnya.

Sedang pertanda akhir yang buruk (su`ul khotimah) adalah ; Kemunafikan dan riya`, Terpedaya oleh dunia, Merasa aman dari Pembalasan Allah swt, Lalai dari mengingat Allah dan menunda-nunda taubat.

Maka pertahankanlah setia kebaikan yang terlaksana, dan hentikan segera segala keburukan.

Bumi yang kita huni ini memiliki daya gravitasi, demikian Allah swt menciptakannya, dia akan menarik segala mendekati dirinya, semakin dekat  semakin besar tarikannya. Maka semakin  melambung tinggi ke angkasa semakin lemah pengaruh gaya gravitasinya. Demikinan pula dunia ini, ia memiliki daya tarik yang besar, menarik  manusia untuk larut dalam cintanya, terbuai dengan keindahannya, terlena dengan gemerlapnya sampai lupa akan arah tujuan dan berhenti menapaki jalan panjang yang harus dia tempuh  menuju Tuhannya. Dialah yang dikenal dengan Mata`ul Ghurur kesenangan yang menipu.

Namun demikianlah adanya, sebagian manusia tidak mau menikmatinya atau cenderung mengambil jarak bahkan takut karena tidak ingin tertipu dan khawatir dirinya tidak sanggup membagi perhatianya dengan akherat yang jadi prioritas. Namun sebagian ada yang tidak peduli, yang penting nikmati apapun yang bisa dinikmati, puaskan diri dengan segala hal yang menurutnya bisa memuaskan segala dahaga, walau itu mustahil, karena jiwanya tidak akan pernah terpuaskan dengan gemerlapnya dunia.

Yang pertama, menyentuh untuk merasakan kesegaran airnya pun takut, sedang yang kedua menceburkan dirinya hanyut dalam alirannya, tenggelang dalam kubangannya.

Namun masih ada yang mecoba mensikapinya dengan baik.  Dia tau, bahkan merasakan dengan baik kekuatan gravitasinya, akan tetapi dengan perlahan dia naik untuk mengurangi tarikannya. Mengangkat dan meninggikan dirinya mendekati nilai-nilai langit yang tinggi, nilai-nilai yang luhur itu membuatnya mampu beradaptasi dengan tarikan bumi dan dunianya. Namun tetap saja dia tidak akan membiarkan dirinya tidak lagi punya hubungan dengan dunia, itu karena dia faham bahwa dengan itu ia akan memanen pahala kebaikan di akherat.  Dia ingin mendapatkan berlipat ganda balasan dari setia biji dan benih kebaikan yang ditanamnya, dengan begitu dia meraih kesuksesan yang sesungguhnya. Dia pun sangat sadar, benih dan biji yang diharapkannya itu harus ditanamnya di Bumi… yach…di dunia ini, di dunia yang penuh fitnah dan yang sering membuat orang terlena. Dia tahu harta dunia itu penuh fitnah, bahkan anak dan pasangan hidup di dunia ini adalah fitnah buat dirinya, namun dia tetap berani berkeluarga karena mendidik dengan benar,  balasannya adalah syurga. Dia tetap berani memililiki harta, meraihnya dengan jalan yang diridhoi Tuhannya, karena dia tau untuk meyempurnakan pilar(rukun) keislamannya ada banyak yang memerlukan harta misalnya syariat zakat, ada haji bahkan berjihad fii sabilillah dengan harta.

Maka beramallah untuk dunia seakan permainan ini kan diperpanjang selamanya, dan beramallah untuk akherat sekaan peluait panjang segera berbunyi, tanda berahirnya kesempatan berkarya di medan laga. Dan janganlah pernah lupa hidup ini adalah pengabdian dan kematian adalah bagian dari perjalanan. Kalau iman kepada Allah swt yang melandasi segala amal baik, maka yang paling berpengaruh mendorong seorang mukmin untuk berkarya adalah keimmannya kepada hari akhir. Wallahu a`lam.(sm,200111)

BAGI
Artikel SebelumnyaJangan Bunuh Diri
Artikel BerikutnyaBalas Budi