Hidayah

0
56 views

Hidayah berasal dari bahasa arab dari kata Hada,yang biasa di terjemahkan dalam bahasa indonesia petunjuk. Kata-kata hidayah sering pula kita jumpai dalam al-qur’an, kata-kata yang bersangkut paut dengan hidayah kurang lebih 276 kali di dalam al-qur’an.Hal itu menunjukan akan pentingnya makna yang terkandung di dalamnya buat kehidupan di dunia sekarang ini,lebih-lebih untuk kehidupan di akhirat kelak.

 

Dalam agama hidayah mengandung kekhususan,yaitu satu petunjuk yang datangnya dari yang maha suci yaitu Allah swt  yang di karuniakan kepada semua mahluk-Nya.

Muhammad Abduh merumuskan pengertian hidayah : “Petunjuk halus yang menyampaikan kepada tujuan.” Maksudnya,Petunjuk itu dikaruniakan Tuhan kepada Mahluk-Nya,sehingga dengan petunjuk tersebut ,seseorang dalam menempuh jalan yang di tujuanya dapat tercapai, lurus tidak terperosok dalam jurang kenistaan.

Dalam masalah ini hendaknya di ketahui, bahwa pemberian hidayah itu tidaklah ada sangkut pautnya/hubunganya misalnya hubungan darah, turunan dan lain-lain sebagainya. Sekalipun ia seorang raja atau bangsawan, jika Allah swt tidak memberikan Hidayah, maka tidak ada yang berhak/kuasa untuk memberikanya. sebaliknya ia rakyat biasa, seorang nelayan apabila ia di beri hidayah,maka tidak ada yang dapat menolaknya/menyesatkanya.

Al-Qur’an telah menceritakan dan mengabadikan masalah ini, misalnya Nabi Nuh as, sebagai seorang nabi dan seorang bapak yang telah mendapat Hidayah dari Allah swt. namun anaknya dan isterinya tidak mendapat Hidayah dari Allah swt, sehingga ia memilih jalan hidupnya sendiri, tidak mau ikut bersama suami dan bapaknya.

 ‘Asiyah seorang wanita permaisuri Raja Fir’aun yang mendapat hidayah dari Allah swt, sedangkan suaminya (Raja Fir’aun) ia tidak mendapat hidayah dari Allah swt, sehingga ia mengikuti jejaknya setan, bahkan ia mengaku sebagai tuhan.

Azar seorang yang terkenal pembuat patung untuk sesembahan orang-orang musyrik pada zaman Raja Namrudz, bahkan ia sendiri (Azar) ikut menyembahnya. Tetapi anaknya (yang ada hubungan darahnya) telah mendapat hidayah  dari Allah swt sehingga jalan hidupnya menurut hidayah Allah swt, di tuntun dengan sinar hidayah-Nya, Anak Azar tersebut bernama Nabi Ibrahim as.

Apabila Allah swt hendak mengaruniakan hidayah-Nya kepada seorang hamba,maka tidak ada satupun kekuatan yang dapat menyesatkanya. dan sebaliknya, jika Allah swt menghendaki untuk menyesatkanya (tidak memberikan hidayah-Nya), maka tidak ada satupun kekuatan  atau kekuasaan yang dapat menunjukinya.Hal yang demikian telah di tegaskan oleh Allah swt dalam al-Qur’an:

 

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

“Barang siapa yang mendapat hidayah dari Allah, maka dia mendapat pimpinan yang benar, dan barang siapa yang di biarkan-Nya tersesat. tidaklah ada kawan yang akan memberikan pimpinan ke jalan yang benar.”(QS. Al-kahfi [18]: 17)

Hidayah merupakan perkara yang paling penting dan kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia. Karena hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah swt untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. Allah swt berfirman:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS. al-A’raaf[7]:178).

Kebutuhan manusia kepada hidayah Allah swt

Allah swt memerintahkan kepada kita dalam setiap rakaat shalat untuk selalu memohon kepada-Nya hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah Allah swt berfirman:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Ibnu Taimiyah berkata: “Seorang hamba senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (Neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di Surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah Ta’ala) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah (seperti orang-orang Yahudi) atau orang-orang yang tersesat (seperti orang-orang Nashrani)”.

Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan sehubungan dengan makna ayat di atas: bagaimana mungkin seorang mukmin selalu meminta hidayah di setiap waktu, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, padahal dia telah mendapatkan hidayah, apakah ini termasuk meminta sesuatu yang telah ada pada dirinya atau tidak demikian?

Imam Ibnu Katsir berkata: “Jawabannya: tidak demikian, kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya. Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dan keadaan sangat membutuhkan (pertolongan) Allah Ta’ala untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya.Sungguh seorang hamba tidak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah Ta’alamembimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’alauntuk (selalu) memohon kepadanya, karena Allah Ta’ala telah menjamin pengabulan bagi orang yang berdoa jika dia memohon kepada-Nya, terutama seorang yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya (dengan selalu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya) di waktu-waktu malam dan di tepi-tepi siang”.

Macam-macam hidayah

Ibnul Qayyim membagi hidayah yang dinisbatkan kepada Allah swt menjadi empat macam:

1. Hidayah yang bersifat umum dan diberikan-Nya kepada semua makhluk, sebagaimana yang tersebut dalam firman-Nya:

قَال َرَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى

Musa berkata: “Rabb kami (Allah Ta’ala) ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada setiap makhluk bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk” (QS Thaahaa: 50).

2. Hidayah (yang berupa) penjelasan dan keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk, serta jalan keselamatan dan jalan kebinasaan. Hidayah ini tidak berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna, karena ini hanya merupakan sebab atau syarat, tapi tidak mesti melahirkan (hidayah Allah Ta’ala yang sempurna). Inilah makna firman Allah:

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى

Adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk” (QS Fushshilat: 17).

Artinya: Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mereka (jalan kebenaran) tapi mereka tidak mau mengikuti petunjuk.

3. Hidayah taufik, ilham (dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar) dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah swt. Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya:

فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ

Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Faathir: 8).

4. Puncak hidayah ini, yaitu hidayah kepada Surga dan Neraka ketika penghuninya digiring kepadanya.

Allah swt berfirman tentang ucapan penghuni Surga:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ

Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke Surga) kalau sekiranya Allah tidak menunjukkan kami” (QS al-A’raaf: 43).

Adapun tentang penghuni Neraka, Allah swt berfirman:

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَمِنْ دُونِ اللهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ

Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman-teman yang bersama mereka dan apa yang dahulu mereka sembah selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka” (QS ash-Shaaffaat: 22-23)”.

Referensi:

1.       Kitab “Majmuu’ul fata-wa” (14/37).

2.      Kitab “Risaalatu Ibnil Qayyim” (hal. 8-9).

3.      Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (1/50).

4.      kitab “al-Qaamuushul muhiith” (hal. 1733).

5.      “Bada-i’ul fawa-id” (2/271-273)

6.      “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 225).

BAGI
Artikel SebelumnyaWorkshop Dakwah Mamuju
Artikel BerikutnyaLompat