Hedonisme Religius

0
54 views

Apa salahnya jika keyakinan beragama menelurkan kekerasan? Begitu kira-kira pikiran sebagian besar ulama yang hadir dan bersuara di televisi belakangan ini. Jika disimak argumen yang mereka lontarkan, maka tersirat pesan bahwa bukan masalah jika memang keyakinan beragama melahirkan kekerasan. Sangat jarang argumen yang mereka bangun dimaksudkan sebagai landasan untuk hidup bersama sebagai bangsa Indonesia. Argumen yang mereka bangun adalah bagaimana cara mengeliminasi sekelompok orang yang mereka anggap salah, baik dengan kekerasan verbal, lewat kata-kata maupun lewat perundang-undangan.

Mereka seperti ingin berkata: “Jika harus ada kekerasan, mengapa tidak?” Di tingkat bawah (grassroot), pesan-pesan semacam itu bermakna “surat mandat” untuk melakukan kekerasan atas nama keyakinan beragama. Karena itu, tidak sulit dipahami bagaimana teriakan “Allahu Akbar” kemudian bisa disusul dengan tumpahnya darah dan melayangnya beberapa lembar jiwa manusia.

Jika kita menyimak sejarah, maka tidak perlu muncul keheranan berlebihan melihat fenomena semacam itu. Keyakinan beragama—dalam bentang sejarah—memang adalah salah satu pemantik paling ampuh untuk meledakkan kekerasan. Tidak sedikit kisah tentang bagaimana para pembawa ajaran agama terlibat perang yang mengakibatkan korban jiwa yang melimpah. Bahkan ada pembawa ajaran agama yang harus wafat dalam misinya.

Semua mengenal Perang Salib dengan segala dampaknya baik darah, harta, jiwa dan air mata. Sampai kini, memori tentang Perang Salib masih membekas di ingatan umat beragama, khususnya Islam dan Kristen, bahkan mungkin sampai kapan pun. Setiap terjadi letupan hubungan antaragama, ingatan tentang Perang Salib selalu kembali muncul atau dimunculkan.

Dalam hal segala kekerasan yang bermotivkan keyakinan beragama, menjadi sulit untuk memisahkan yang mana merupakan keyakinan yang sebenarnya dan mana yang merupakan pelampiasan hawa nafsu untuk menyingkirkan orang-orang yang berbeda dari mereka. Menganggap diri paling benar dan yang lain salah serta patut disingkirkan adalah hasrat yang sangat mungkin ada di segala aspek kehidupan, bukan hanya agama. Ketika hal itu merasuk ke agama, maka agama menemukan alasan untuk melahirkan kekerasan. Keyakinan beragama beraduk sempurna dengan pelampiasan hawa nafsu; sebentuk hedonisme religius.

Yang pasti, para pembawa ajaran agama tidak pernah memakasudkan ajarannya sebagai biang kekerasan, apalagi mengajarkan hedonisme berkedok religiusitas.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi