Hayaatan Thayyibah

0
56 views

Ada banyak permintaan yang kita panjatkan kepada Allah swt dalam do’a kita sehari-hari, salah satunya adalah memohon agar dianugerahi kehidupan yang baik, di dunia maupun di akhirat. Kehidupan yang baik diistilahkan oleh Al-Qur’an dengan hayatan thayyibah sebagaimana firman Allah swt: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS An Nahl [16]:97).

docwhisperer.files.wordpress.comDari ayat di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa permintaan kita dalam doa meminta kehidupan yang baik akan dikabulkan oleh Allah swt bila kita baik laki-laki maupun perempuan beriman kepada Allah swt dan membuktikan keimanan itu dalam bentuk beramal shaleh, bahkan balasan yang diberikan Allah swt jauh lebih besar dari amal yang kita lakukan. Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Mishbah menjelaskan bahwa hayatan thayyibah bukan berarti kehidupan mewah yang luput dari ujian, tetapi ia adalah kehidupan yang diliputi oleh rasa lega, kerelaan serta kesabaran dalam menerima cobaan dan rasa syukur atas nikmat Allah (Vol 7 hal 344).

Yang menjadi persoalan kita kemudian adalah apa saja kriteria yang harus kita penuhi agar kehidupan kita termasuk hayatan thayyibah. Berdasarkan pendapat para mufassir mulai dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas sampai Sayyid Quth, Wahbah Zuhaili dan Quraish Shihab dan sebagainya, paling tidak ada tujuh kritreria kehidupan seseorang yang mendapatkan hayatan thayyibah.

1.    Rizki Yang Halal

Setiap manusia tentu membutuhkan rizki berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha yang halal. Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal merupakan salah satu prinsip hidup yang sangat mendasar. Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak yang bisa kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya. Namun seandainya sedikit yang kita dapat, susah mendapatkannya selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tidak halal. Yang lebih tragis lagi adalah bila seseorang mencari nafkah dengan susah payah, sedikit mendapatkannya, status hukumnya juga tidak halal, bahkan resikonya sangat berat, inilah sekarang yang banyak terjadi. Kita dapati di masyarakat kita ada orang yang mencuri sandal atau sepatu di masjid, mencopet di bus kota dan sebagainya sampai korupsi dalam segala bentuknya. Karena memperoleh rizki yang halal merupakan ciri kehidupan yang baik, maka Allah swt mencintai orang yang demikian sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

ِإنَّ للهَ تَعَالَى يُحِبُّ أَنْ  يَرَى عَبْدِهِ تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ

Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hamba-Nya lelah dalam mencari yang halal (HR. Ad Dailami).

2.    Qonaah

Ketika rizki halal sudah kita peroleh, orang yang mencapai derajat kehidupan yang baik adakan selalu qonaah atau menerima rizki itu dengan senang hati meskipun jumlahnya belum mencukupi. Apa yang kita peroleh tidak selalu jumlahnya mencukupu apalagi melebihi dari seperti yang kita inginkan. Sikap yang bagus adalah menerima dulu apa yang kita peroleh, sedangkan kurangnya bisa kita cari lagi. Orang yang tidak qonaah tidak menghargai jerih payahnya sendiri karena ia merasa percuma sudah berusaha karena hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Bila usaha sendiri saja sudah tidak bisa dihargai, apalagi usaha orang lain.

3.    Kebahagiaan

Bagi seorang mukmin, ukuran kebahagiaan bukanlah hanya semata-mata dari aspek duniawi, tapi yang terpenting adalah bila bisa menjalani kehidupan dalam kerangka pengabdian dan ketaatan kepada Allah swt. Oleh karena itu bila seseorang sudah beriman dan beramal shaleh ia akan merasakan kebahagiaan karena kehidupannya di dunia memberi kontribusi manfaat kebaikan, sedangkan di akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam surga dan ini merupakan kebahagiaan yang tidak terkalahkan oleh apapun juga.

Sebaliknya bila seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam apalagi sampai merugikan orang lain, maka tidak ada kebahagiaan yang ia rasakan, tapi justeru hidupnya diliputi oleh kegelisahan dan kekhawatiran, tidak hanya dalam konteks kehidupan dunia tapi juga kehidupan akhirat yang tidak memiliki harapan yang cerah bagi kebahagiaan.

4.    Ketenangan

Bagi seorang muslim, dosa membuat kehidupan menjadi tidak tenang, karenannya dengan iman dan amal shaleh, kehidupan yang kita jalani insya Allah terhindar dari dosa yang membuat kita menjadi tenang, ini merupakan salah satu essensi hayatan thayyibah yang amat penting untuk kita miliki. Dosa menjadi faktor kegelisahan disebut dalam hadits Rasulullah saw:

اَلإِثْمُ مَاحَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dalam hati seseorang, sedangkan ia tidak setuju kalau hal itu diketahui oleh orang lain (HR. Ahmad).

Bagi mukmin sejati enak dan tidak enak merupakan ujian yang harus dihadapi sehingga ia tidak takut dengan akan kemungkinan hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi pada diri dan keluarganya, sesulit apapun pasti ada jalan keluar dan kemudahan.

5.    Ridha

Kehidupan yang baik bagi seorang muslim tercermin pada sikap ridha kepada Allah swt sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Nabi Muhammad saw sebagai Rasul yang diyakini dan diteladani dalam kehidupan ini. Sikap ini merupakan sesuatu yang amat penting sehingga bisa menjalankan ajaran Islam dengan senang hati dan penuh penghayatan dan sikap seperti inilah yang memastikan seorang muslim akan dimasukkan oleh Allah swt ke dalam surga, dalam satu hadits, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَّبِيًّا وَرَسُوْلاً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, wajib baginya surga (HR. Muslim).

6.    Syukur

Sudah pasti bagi manusia adanya kenikmatan yang diperolehnya dalam hidup ini sehingga kehidupan yang baik menuntutnya untuk bersyukur kepada Allah swt. Ketika menafsirkan ayat: Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim [14]:7). Sayyid Quthub mengemukan bahwa ada dua prinsip bersyukur. Pertama, bukti bagi lurusnya barometer dalam jiwa manusia. Kebajikan itu harus disyukuri, sebab syukur adalah balasan alamiahnya dalam fitrah yang lurus. Kedua, jiwa yang bersyukur akan selalu bermuraqabah (mendekatkan diri kepada Allah Swt) dalam mendayagunakan nikmat yang diberikannya itu. Selanjutnya beliau menyatakan bahwa prinsip bersyukur seperti di atas bisa memberikan empat manfaat yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu mensucikan jiwa, mendorong jiwa untuk beramal shaleh menjadikan orang lain ridha serta dan memperbaiki serta memperlancar interaksi sosial.

7.    Sabar

Sabar adalah menahan dan mengekang diri dari melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan Allah swt karena mencari ridha-Nya. Orang yang hidupnya baik tidak mungkin melepaskan sifat sabar dari dirinya, apalagi dalam situasi sulit,  karenanya Allah swt mencintai siapa saja yang sabar, Allah berfirman: Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada manusia), dan Allah mencintai orang yang sabar (QS 3:146).

Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa kehidupan yang baik tidak hanya membawa kebaikan bagi dirinya, tapi juga kebaikan bagi orang lain  bahkan terhadap alam semesta.[]

 

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id
BAGI
Artikel SebelumnyaSpiritualitas Internet
Artikel BerikutnyaAmbisi Akhirat