Hari Jumat dan Surah Al-Kahfi

0
45 views

Salah satu dari sekian banyak yang disunnahkan oleh Nabi kita Muhammad Saw untuk dilaksanakan pada hari Jum’at adalah membaca surat Al Kahfi.

Dalam satu hadits Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ اَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, cahayri Jum’at, cahayum’at akan menyinarinya (HR. Hakim).

Isyarat disunnahkannya membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at dapat kita tangkap betapa penting surat ini kita kaji untuk selanjutnya menjadi rujukan sehingga memberikan petunjuk kepada kita dalam kehidupan ini. Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fi Dzilalil Qur’an menyebutkan bahwa tema sentral surat ini pada tiga hal yang penting sekali untuk kita pahami, karena itu wajar bila kita harus membacanya setiap Jum’at.

Koreksi Atas Aqidah

Surat Al Kahfi ini diawali dan diakhiri dengan menyoroti persoalan aqidah. Sebagaimana kita sudah pahami, aqidah merupakan persoalan yang mendasar dan penting dalam Islam. Bedanya Islam dengan agama lain salah satu persoalannya adalah pada konsep aqidahnya. Surat ini dimulai dengan ayat yang memuji Allah yang menurunkan Al kitab (Al-Qur’an) yang lurus, tanpa kebengkokan dan basa-basi, berisi peringatan akan siksa yang pedih dan kabar gembira untuk siapa saja yang mau beriman dan beramal shaleh dengan balasan yang menyenangkan, Allah Swt berfirman: Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya sebagai bimbingan yang lurus untuk memperingatkan akan siksa yang pedih dari sisi  Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh,  bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak”. Mereka sekali-kali tidak punya pengetahuan tentang itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan sesuatu kecuali dusta (QS 18:1-5).

farm4.static.flickr.comSelanjutnya surat inipun diakhiri dengan persoalan aqidah, karenanya keimanan kepada Nabi Muhammad Saw harus dilakukan dengan benar, Nabi bukanlah seorang malaikat, Muhammad adalah seorang manusia biasa seperti kita yang tidak perlu dikultuskan secara berlebihan, karena itu dalam beramal shaleh, setiap manusia harus menyadari bahwa amal shaleh merupakan bekal untuk bias menghadap Allah Swt dan Dia tidak suka kepada segala bentuk kemusyrikan yang justeru sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah, Allah Swt berfirman: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhyannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya (QS 18:110).

Koreksi Atas Metode Berpikir

Sesudah memiliki aqidah yang lurus, manusia juga harus berpikir yang benar sehingga menghasilkan konsep dan amaliah yang benar. Segala sesuatu yang dikatakan harus dengan landasan yang jelas dan benar, bukan beradasarkan anggapan-anggapan yang berdasar apalagi sekedar ikut-ikutan, apalagoi boila hal itu terkait dengan persoalan aqidah. Karenanya pada ayat 4-5 di atas, Allah Swt membantah anggapan mereka yang mengatakan bahwa Allah mengambil seorang anak, padahal itu semua hanyalah dusta belaka.

Isyarat lain tentang keharusan berpikir dengan landasan yang jelas dan benar adalah pada kisah ash habul kahfi, mereka bertanya-tanya tentang berapa lama mereka berada di dalam gua, mereka merekapun menyandarkannya kepada Allah Swt, Allah Swt berfirman: Dan mereka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua). Kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan_Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya (QS 25-26).

Dalam kaitan itulah, maka setiap manusia apalagi mereka yang mengaku beriman kepada Allah Swt untuk tidak sembarangan mengikuti apalagi melakukan sesuatu tanpa pijakan dan dasar yang jelas dan benar, hal ini karena semua yang dilakukan manusia, baik berupa sikap, perkataan maupun perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah Swt, hal ini bias kaitkan pula dengan firman-Nya dalam surat Al Isra:36: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hatin, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Koreksi Atas Norma-Norma

Dalam kehidupan ini segala sesuatu ada tolok ukur kebenaran dan kebaikannya. Kepada manusia, khususnya kaum muslimin diingatkan agar jangan sampai terjebak pada penilaian dan tolok ukur yang bersifat duniawi. Hal ini karena hal-hal yang bersifat duniawi justeru untuk menguji manusia, apakah mereka bisa menunjukkan kebaikan atau malah sebaliknya, Allah Swt berfirman: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka yang terbaik perbuatannya. Sesungguhnya  Kami benar-benar akan menjadikan (pula) yang diatasnya menjadi tanah rata lagi tandus (QS 18:7-8).

Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang kafir dengan iming-iming yang bersifat duniawi, apalagi hati mereka sebenarnya dilalaikan oleh Allah Swt. Hal ini terkait dengan kemauan para pembesar kafir Quraisy yang menyatakan mau masuk Islam kalau Rasulullah mau mengusir sahabat-sahabat yang martabat duniawinya rendahn seperti Bilal, Suhaib, Ammar, Khabbab dan Ibnu Mas’ud atau ada majelis tersendiri untuk mereka. Keinginan mereka itu tidak boleh dituruti karena watak da’wah islam itu bukan untuk menjilat seseorang. Da’wah hanya akan berdiri dan terbangun dengan hati-hati yang menghadap Allah dengan ikhlas dan murni bagi-Nya, hal ini terdapat dalam firman-Nya: Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan Tuhan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini dan janganlah mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Dan katakanlah: “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah kafir (QS 18:28-29).

Lebih lanjut Allah Swt memperjelas tentang kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat dengan perumpamaan sebagai berikut: Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) kehidupan dunia adalah seperti air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi. Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS 45-46).

Oleh karena itu, seorang muslim jangan sampai terpedaya oleh kehidupan duniawi, hal ini terus dilatih setiap hari dengan shalat yang lima waktu, setiap pekan dengan shalat Jum’at, setiap tahun dengan ibadah Ramadhan dan sekali seumur hidup dengan ibadah haji. Dalam konteks ibadah Jum’at, seorang muslim harus meninggalkan segala urusan guna menunaikan ibadah pekanan ini sehingga ia tidak termasuk orang yang terlambat datang ke masjid, dia sudah dating dan siap mendengarkan khutbah sebelum khatib naik ke mimbar, Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (segala urusan), itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS:9).

Akhirnya, menjadi penting bagi kita untuk menjadikan momentum hari Jum’at sebagai upaya memperkokoh komitmen keimanan kita yang sejati.[]

Penulis: Drs. Ahmad Yani