Harapan di Balik Kecewa

0
57 views

Abd. Muid N.

Sebuah drama pun tersaji. Setelah unggul sejak menit ke-8, Chelsea lalu berhasil mengatur tempo permainan hingga tidak satupun tendangan dari para punggawa-punggawa Barcelona yang tepat mengarah ke gawang Petr Cech meski mereka lebih sering menendang dan mendominasi penguasaan bola hingga hampir 70%.

Menginjak menit 65, peluang Barcelona seperti telah pupus untuk berjumpa Manchester United di Roma menyusul dikartumerahkannya Eric Abidal karena dianggap melanggar Anelka, padahal dari tayangan ulang tampak benturan antara keduanya tidak begitu berarti.

Tertinggal satu gol dan harus menghadapi Chelsea dengan 10 pemain bukan kondisi yang ideal bagi Barcelona, maka protes pun dilancarkan oleh para pemain Barcelona. Menarik, protes itu tidak berlangsung lama dan tidak melibatkan adu emosi yang berlebihan. Pertandingan kembali berlanjut seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Keputusan aneh yang lahir dari wasit Avrebo ternyata tidak berhenti di situ.  Di menit 82, Gerard Pique dengan sangat nyata menyentuh bola dengan tangannya namun tidak digubris oleh wasit. Kenyataan ini semakin menegaskan betapa laga ini sarat drama. Lagi-lagi tidak ada protes berlebihan (apalagi kerusuhan) dan pertandingan kembali berjalan seperti sedia kala.

Puncak segala drama malam itu terjadi di menit ke-3 masa injury time. Tendangan Andres Iniesta dari luar kotak pinalti Chelsea melesat tak terbendung merobek jala Petr Cech sekaligus mengoyak mimpi balas dendam Chelsea atas kekalahan mereka yang menyakitkan atas Manchester United pada final Liga Champions tahun lalu. Di layar kaca tampak seorang anak fans Chelsea menangis sejadi-jadinya. Mimpi itu hanya berjarak beberapa detik dari kenyataan tapi justru detik-detik itulah yang menguapkan segalanya. Emosi, kecewa, dan perasaan remuk redam bercampur aduk menjadi satu.

Di saat-saat seperti itu, ada 1001 alasan konyol untuk menyalakan kerusuhan, sebagai ungkapan ketidakpuasan atas kelamnya kenyataan, sebagaiamana yang terjadi ketika berlangsung pertandingan antara Persebaya vs Gresik United sehari sebelumnya. Namun, tidak terjadi apa-apa. Hanya kecewa. Guus Hiddink, pembesut sementara Chelsea, pun tampak remuk redam, tapi, sekali lagi, hanya kedewasaan yang ditampakkan. Didier Drogba yang pada pertandingan itu tampak sangat sulit menerima hasil pertandingan, tak lama kemudian menyampaikan permintaan maaf secara resmi jika tindakannya malam itu malebihi batas.

Dua hal yang menjadi catatan penting. Pertama, betapapun mengecewakan sebuah kenyataan, dia tetap kenyataan yang tidak mungkin dipunggungi tapi harus dihadapi dengan jiwa besar. Kedua, setipis apapun harapan, dia tetap harapan yang punya potensi besar untuk memodifikasi kenyataan. Dan jangan lupa, harapan lah yang menjadi esensi agama. Tanpanya, agama bukan apa-apa. Maka siapa saja yang berharap berjumpa Tuhannya, hendaklah dia melakukan amal shalih dan tidak menyekutukan Tuhannya dalam ibadah dengan siapapun. (QS. Al-Kahf [18]: 110)