Hanya Soal Waktu

0
64 views

Bicara soal waktu, tidak lengkap rasanya jika kita tidak menyinggung sebuah firman Allah yang sangat dahsyat yang terkandung dalam al-Qur’an yang berbicara mengenai tips jitu bagaimana menaklukkan waktu serta bagaimana supaya waktu yang kita miliki itu berkualitas. Ya, al-Ashr, sebuah surah dimana di dalamnya Allah ta’ala berfirman:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. al-‘Ashr: 1-3).

Surah ini diawali dengan kata Wal-’Ashr, demi masa. Al-‘Ashr” artinya masa, zaman, sore dan hal memerah atau memeras. Ibn Katsir mengatakan: al-‘Ashr adalah rentang waktu yang di situ terjadi aktivitas manusia anak Adam, baik atau buruk. Kita sering mendengar kata ‘ashrirrasuul artinya masa Rasulullah yang dianggap seluruh mazhab sebagai masa yang paling penting. Dikarenakan masa itu ialah ‘ashruttasyri’ (masa ditetapkannya syari’at), masa diturunkannya al-Qur’an, dan masa dikembangkannya agama Islam.

Pakar tafsir ternama, Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab ada beberapa istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan kata waktu. Pertama, ad-dahr yaitu masa keberadaan alam raya ini sebelum manusia dilahirkan. Kedua, al-‘ashr yakni masa yg dilalui manusia sejak lahir sampai mati, atau masa hidup. Ketiga, ajal (waktu berakhirnya sesuatu). Ketika gelas pecah berarti sudah tiba ajalnya karena tidak bisa dipakai lagi, sudah tidak memberi manfaat. Keempat, waqt yakni masa dimana pekerjaan harus selesai, contohnya seperti waktu shalat. Jadi bisa dikatakan maksud waktu di sini adalah masa hidup (‘ashr) atau rentang waktu kehidupan manusia dari lahir sampai mati terkait dengan nilai kemanfaatannya dimana tugas kehidupan manusia harus sudah selesai.

Dalam ayat ini, Allah bersumpah “demi masa” secara umum. Ada juga yang memahami demi waktu asar akan tetapi kurang kuat riwayatnya. Mengapa Allah menggunakan kata ashr untuk menyampaikan makna masa dalam surah ini? Karena secara bahasa ‘ashr artinya memeras. Allah bersumpah demi masa/saat menjelang matahari tenggelam dimana manusia selesai melaksanakan aktivitas hariannya dan seakan-akan terperas keringatnya. Inilah waktu sore, ujung hari, dan bisa juga disebut masa tua dimana biasanya penyesalan muncul. jadi seolah-olah Allah ingin mengatakan, “Sebelum kalian menyesal kemudian, maka berbuatlah!”

Allah menggunakan kata qasam/janji dengan pemakaian huruf waw dalam kata wal ‘ashri mengindikasikan betapa pentingnya pesan yang ingin disampaikan dalam ayat ini. Allah berjanji dalam surah ini “Demi masa” yakni demi rentang waktu yang dilalui manusia sejak lahir sampai mati yang di situ terjadi aktivitas manusia, baik atau buruk.

Dalam al-Qur’an, Allah memang sering bersumpah. Allah bersumpah dengan benda-benda, misalnya wasy-Syamsi, “demi matahari” (QS. as-Syams: 1). Allah bersumpah dengan waktu, misalnya wadh-Dhuhaa, “demi waktu dhuha” wallaili idzaa sajaa “demi malam apabila mulai gelap” (QS. ad-Dhuha 1-2). Allah juga bersumpah dengan jiwa, wanafsiw wa maa sawwaahaa, “Demi jiwa dan yang menyempurnakannya” (QS. as-Syams 7). Namun, Allah paling sering bersumpah dengan waktu, laa uqsimu bi yaumil qiyaamah, “kami bersumpah dengan hari kiamat” (QS. al-Qiyamah: 1). Wallaili idzaa yaghsyaa, wannahaari idzaa tajallaa, “demi malam apabila gelap dan demi siang apabila terang benderang” (QS. Al-Lail 1-2).

Dalam surah al-’Ashr ini Allah bersumpah dengan waktu, wal-’Ashr, “demi masa”. Hal ini mengisyaratkan tentang urgensi waktu dalam kehidupan semua orang dalam dunia ini. Dan jika Allah bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya, itu menunjukkan bahwa makhluk itu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pandangan Allah SWT. Maka apabila seseorang tidak segera menggunakan waktu itu dengan semestinya, maka ia akan dalam kerugian yang sangat luar biasa kecuali dengan empat syarat sekaligus: iman, amal shaleh, saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.

Allah Swt. memulai surah ini dengan bersumpah Wal ‘ashr  (Demi masa),   untuk   membantah   anggapan   sebagian   orang  yang mempersalahkan waktu dalam kegagalan mereka. Tidak ada sesuatu yang   dinamai   masa   sial  atau  masa  mujur,  karena  yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang. Dan inilah  yang  berperan di dalam baik atau buruknya akhir suatu pekerjaan,  karena  masa  selalu  bersifat  netral.   Demikian Muhammad ‘Abduh menjelaskan sebab turunnya surat ini.

Lalu apa sebenarnya keistimewaan waktu itu sampai dengannya Allah berjanji?

Pertama, waktu adalah kehidupan. Dan kehidupan adalah batas masa kerja yang membentang dari kelahiran hingga kematian. Itulah yang kita sebut umur atau usia. Setiap manusia yang hidup mendapatkan karunia umur sebagai batas masa kerja. Jumlahnya berbeda pada setiap orang. Akan tetapi, perbedaan itu tidaklah penting, karena  pertanggungjawabannya tidak terletak disitu. Namun, yang akan kita pertanggungjawabkan adalah muatan umur itu atau cara kita menjalani kehidupan kita. 

Setiap satu satuan waktu berlalu, setiap itu pula satu bagian dari kehidupan kita berlalu. Cara kita memberikan arti dan harga bagi kehidupan kita ditentukan dari cara kita menggunakan waktu, serta cara kita menyusun aktivitas dan menyimpannya dalam wadah waktu. Jadi, nilai dari setiap satu satuan waktu adalah kegiatan yang mengisinya, dan nilai dari total kehidupan kita adalah total kegiatan yang mengisi kehidupan kita. Hidup kita akan bermakna jika tidak ada waktu yang terbuang percuma.

Kedua, waktu adalah kesempatan yang tidak terganti. Waktu, dengan berbagai kondisi dan momentumnya, tidak mengalami pengulangan. Ia merupakan sumber daya yang tidak tergantikan. Oleh karenanya, waktu adalah hal paling berharga yang bisa dimanfaatkan oleh seseorang. Kehilangan uang dapat dicari, tapi waktu yang hilang tak akan terganti. Waktu yang kita lewati akan hilang selamanya. Waktu yang terbuang tidak bisa direka ulang; nama hari, jam, detik boleh jadi sama tapi hari ini berbeda dengan yang kemarin. Banyak orang merayakan hari ulang tahun, tapi itu sebatas persamaan tanggal dan bulan. Itu sudah menjadi sejarah dengan embel-embel kata “yang lalu” yang dimiliki oleh seseorang. Masa yang sudah dilewatinya kian bertambah dan itu menandakan berapa banyak waktu/masa yang sudah dia habiskan.

Kita hanya bisa mengenang masa-masa umur yang telah kita lalui, tetapi tidak bisa menghadirkannya kembali. Kita hanya bisa menghadirkan masa lalu dalam ingatan, tetapi tidak bisa menduplikasi dan mengulanginya. Karena sifatnya yang tidak tergantikan, maka setiap satuan waktu atau umur yang kita lalui, berarti satu pengurangan pada jatah kita. Umur kita sesungguhnya tidak pernah bertambah, tetapi berkurang. Sebab, umur adalah “jatah tetap” yang kita habiskan setiap hari.

Apabila disini Allah bersumpah dengan waktu, maka sadarlah kita betapa pentingnya waktu dalam kehidupan kita. Waktu adalah batas masa kerja yang membentang antara kelahiran dan kematian. Maka itulah jatah hidup kita.

Dalam menjalani kehidupan, waktu yang dimiliki manusia hanya saat ini, yang lalu sudah berlalu, sesaat kemudian kita tak bisa jamin. Oleh karena itu kita harus menghabiskan waktu dengan bijak mulai saat ini. Melalui surah al-‘ashr ini, Islam sebagai agama yang sempurna, memberikan tuntunan dalam memanfaatkan waktu. Sementara hidup adalah ujian. Dalam kerangka ujian itu, Allah menyebutkan syarat sukses bagi setiap manusia; iman, amal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan dalam kesabaran. Wallahu A’lam.