Haji

0
60 views

Secara etimologi haji dalam bahasa arab berasal dari kata hajja yahujju yang mengandung makna qoshoda yaqshidu yang berarti bermaksud, bertujuan, menyengaja atau menuju dan mengunjungi.

Menurut istilah syara’, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu pada waktu-waktu yang telah ditentukan untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah dengan memenuhi segala rukun dan syarat yang telah ditentukan syari’at Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Penjabaran definisi

Baitullah adalah ka’bah yang berada di masjidilharom di Arab Saudi.

Tempat-tempat tertentu adalah tempat-tempat yang dikunjungi oleh kaum muslimin yang ada kaitannya dengan rangkaian ibadah haji baik yang menyangkut dengan rukun haji atau wajib haji seperti Arofah, Mina, Muzdalifah, Shofa dan Marwa.

Waktu-waktu tertentu adalah waktu pelaksanaan ibadah haji yang telah ditentukan oleh Allah swt yaitu bulan Syawal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah sebagaimana firman Allah swt:

 

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang mewajibkan(atas dirinya) untuk beribadah haji dalam bulan-bulan itu, maka tidak ada rafats, tidak ada kefasikan dan tidak ada bantah-bantahan di dalam haji (QS. Al-Baqarah[2]:197).

Dalil Pensyari’atannya

Haji merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima dan dia merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan bagi seorang muslim yang mampu, sebagaimana telah digariskan dan ditetapkan dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’.

Adapun dalil dari al-Qur’an:

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS. ali Imran[3]: 97).

Dalil dari as-Sunnah:

Hadis yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا(رواه مسلم)

“Telah berkhutbah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kepada kami dan berkata: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.” (HR. Muslim)

Dalil ijma’ (konsesus) para Ulama’

Para ulama dan kaum muslimin dari zaman Nabi saw sampai sekarang telah bersepakat bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib.[2]

Syarat-syarat haji

Haji diwajibkan atas manusia dengan lima syarat:

1. Islam

2. Berakal

3. Baligh

4. Memiliki kemampuan perbekalan dan kendaraan

5. Merdeka

Miqat-miqat untuk haji

Miqat adalah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh syari’at untuk suatu ibadah baik tempat atau waktu.[3] Dan haji memiliki dua miqat yaitu miqat zamani dan makani. Adapun miqat zamani dimulai dari malam pertama bulan syawal Dzul Qa’dah, dan 10 hari dari Dzul Hijjah

Adapun miqat makani, maka berbeda-beda tempatnya disesuaikan dengan negeri dan kota yang akan menjadi tempat awal para haji untuk melakukan ibadah hajinya. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasullulah saw sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu:

 

وَقَّتَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لأهل المدينة ذا الحليفة، ولأهل الشام الجحفة ولأهل نجد قرنَ الْمَنازِلِ، ولأهل اليمن يلملم. فَهُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ لِمَنْ كانَ يُرِيْدُ الْحَجَّ أَوِ الْعُمْرَةَ. فَمَنْ كانَ دُوْنَهُنَّ فَمَهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ، وَكَذَلِكَ أَهْلُ مَكَّةَ يَهِلُّوْنَ مِنْهَا

 

“Rasulullah saw menentukan miqat bagi penduduk Madinah adalah Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam adalah Juhfah, bagi penduduk Najed adalah Qarn Al-Manazil, dan bagi penduduk Yaman adalah Yalamlam. Miqat-miqat ini bagi penduduk negeri-negeri tadi dan juga bagi penduduk negeri lain yang datangnya dari jalur negeri mereka, bagi yang ingin berhaji atau umrah. Siapa yang tinggalnya setelah miqat-miqat ini maka ihramnya dia mulai dari rumahnya, demikian pula penduduk Makkah mereka melakukan ihram dari rumah mereka masing-masing.” (HR. Al-Bukhari no. 1526 dan Muslim no. 1181)

Jenis-jenis Manasik Haji

Jenis-jenis manasik haji yang telah ditetapkan syariat ada tiga,yaitu:

Pertama, Ifrad

Ifrad merupakan salah satu dari jenis manasik haji yang hanya berihram untuk haji tanpa dibarengi dengan umroh, maka seorang yang memilih jenis manasik ini harus berniat untuk haji saja, kemudian pergi ke Makkah dan ber-thawaf qudum, apabila telah ber-thawaf maka dia tetap berpakaian ihram dan dalam keadaan muhrim sampai hari nahar (tanggal 10 Dzul hijah dan tidak dibebani hadyu (sembelihan), serta tidak ber-Sa’i kecuali sekali dan umrohnya dapat dilakukan pada perjalanan yang lainnya.

Kedua, Tamattu’

Tamatu’ adalah berihram untuk umrah di bulan-bulan haji setelah itu berihram untuk haji pada tahun itu juga. Dalam hal ini diwajibkan baginya untuk menyembelih hadyu (sembelihan). Oleh karena itu setelah thawaf dan sa’i dia mencukur rambut dan pada tanggal 8 Dzul Hijjah berihram untuk haji.

Ketiga, Qiran

Qiran adalah berihram untuk umrah dan haji sekaligus, dan membawa hadyu (sembelhan) sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Referensi:

1.    Kamus al-Bisyri

2.    Al-Ijma, oleh Ibnul Mundzir hal 54 dan Al-Mughny 5/6

3.    Syarhl Umdah oleh Ibnu Taimiyah 2/302

BAGI
Artikel SebelumnyaTiga Hal yang Dibenci
Artikel BerikutnyaKhadafi