Haji Mabrur

0
50 views

Secara harfiyah, mabrur artinya baik. Haji yang mabrur berarti haji yang membuat orang yang menunaikannya menjadi baik bila sebelumnya ia orang yang tidak baik dan bila ia sudah baik akan bertambah kebaikannya yang tidak hanya dirasakan oleh diri dan keluarganya tapi juga oleh masyarakat banyak. Ini berarti, Seorang haji disebut mabrur hajinya bila kehidupannya sesudah menunaikan ibadah itu semakin disesuaikan dengan segala ketentuan Allah swt sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul-Nya.

Makkah 1937 multazam.co.idNamun kebaikan yang harus ditunjukkan tidak hanya pada sepekan atau dua pekan sesudah pulang haji, bukan pula sebulan atau dua bulan atau setahun dua tahun. Tapi kebaikan itu harus dibuktikan hingga akhir hayatnya. Karenanya, ibadah yang menggabungkan seluruh rangkaian makna ibadah di dalam Islam diwajibkan hanya sekali seumur hidup sehingga pengaruh positifnya seharusnya terbawa sampai mati, bila itu yang terjadi, maka pantaslah kalau seorang haji itu akan memperoleh imbalan berupa surga sebagaimana hadits Rasulullah saw:

Haji yang mabrur tidak ada balasannya selain syurga (HR.Bukhari dan Muslim).

Hakikat Kebajikan

Kita sudah sama-sama memahami bahwa manusia yang paling mulia disisi Allah swt adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya. Untuk menjadi orang yang bertaqwa, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh agar kita bisa memiliki sifat dan kepribadian orang yang bertaqwa. Salah satunya adalah dapat menunjukkan kebajikan. Disinilah letak pentingnya bagi kita memahami hakikat kebajikan. Di dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan ke barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (QS Al Baqarah [2]:177).

Dari ayat di atas, kata kunci yang harus kita pahami adalah al birr atau kebajikan. Al Birr adalah himpunan dari semua kebaikan (al khair) yang meliputi nilai-nilai luhur rohani dan akhlak yang baik serta segala yang lahir dari keduanya berupa amal shaleh yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah Swt, demikian menurut Prof. DR. Muhammad Syaltut, ulama Mesir di dalam tasirnya.  Selanjutnya, beliau membagi kebajikan ke dalam tiga bagian.

1. Kebajikan Dalam Aqidah.

Aqidah merupakan ikatan antara manusia dengan Allah swt. Keterikatan kepada Allah swt membuat manusia tidak akan menyimpang dari ketentuan-Nya, bagaimanapun situasi dan kondisinya. Kebajikan dalam aqidah disebutkan dalam bentuk iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi. Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengemukakan bahwa iman kepada Allah merupakan titik perubahan dalam kehidupan umat manusia dari segala macam ibadah kepada segala macam kekuatan, sesuatu dan simbol untuk beribadah hanya kepada Allah, titik perubahan dari kekacauan kepada keteraturan, dari kebingungan kepada tujuan yang pasti dan dari ketercerai-beraian kepada kesatuan arah. Iman kepada hari akhir adalah percaya kepada keadilan Tuhan yang mutlak dalam segala pembalasan-Nya dan bahwa kehidupan ini bukanlah suatu kesia-siaan. Dan kebaikan tentu akan mendapatkan balasannya, tidak hilang sia-sia. Iman kepada malaikat adalah sebagian dari iman kepada yang gaib yang manusia tidak bisa mengindranya. Iman kepada kitab dan nabi-nabi adalah percaya kepada risalah yang dibawa oleh nabi Allah seluruhnya yang juga berarti percaya kepada kesatuan manusia, keesaan Allah, kesatuan agama dan kesatuan manhaj (sistem) ilahi.

2. Kebajikan Dalam Amal

Kebajikan dalam amal yang shaleh merupakan bukti dari kebajikan dalam aqidah sehingga antara aqidah dengan amal yang shaleh bukanlah sesuatu yang terpisah, tapi satu kesatuan seperti dua sisi mata uang. Dengan kata lain, iman harus dibuktikan dengan amal dan amal harus didasari pada iman. Bentuk-bentuk kebajikan dalam amal shaleh disebutkan dalam ayat di atas adalah Pertama, mengorbankan harta bagi keperluan orang lain seperti kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir (orang yang dalam perjalanan dan memerlukan pertolongan), peminta-minta dan untuk memerdekakan budak. Ini semua menurut Sayyid Quthb adalah untuk membebaskan jiwa manusia dari sifat serakah dan kikir serta hawa nafsu mementingkan diri sendiri. Ini merupakan nilai syu’uriyah (perasaan) yang akan menjadikan tangannya terbuka untuk mendermakan harta yang dicintainya, bukan harta yang murah dan jelek, Allah swt berfirman:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Mengetahui (QS Ali Imran [3]:92).

Selanjutnya, Sayyid Quthb memaparkan bahwa keluarga adalah unsur pertama di dalam jamaah sehingga yang disebutkan pertama adalah memberikan harta kepada kerabat, sedangkan anak yatim merupakan tanggung jawab orang yang lebih tua kepada yang lebih muda dan dari yang kuat kepada yang lemah, ini sekaligus untuk memelihara keutuhan pergaulan dari kerusakan anak-anak yang terlantar yang mungkin dapat membangkitkan dendam mereka kepada masyarakat yang tidak mau menghiraukan mereka. Memberikan harta kepada orang miskin adalah untuk mengangkat mereka dari keimiskinan sehingga mereka tidak meminta-minta atau cara-cara mencari nafkah yang bisa menghilangkan kemuliaan mereka, sedangkan untuk musafir adalah sebagai bukti ukhuwah islamiyah dan memerdekakan budak merupakan upaya mengembalikan kehormatan mereka sebagai manusia.

Kedua, mendirikan shalat yang ditegakkan dengan kehadiran jasmani, rohani dan akal pikiran. Karena itu shalat yang hanya dilaksanakan dengan gerakan fisik dan lisan yang komat-kamit tapi tanpa kehadiran hati tidaklah menunjukkan menunjukkan penyerahan  dan pengorbanan diri, hal ini tidak termasuk kebajikan tapi justeru kelalaian, yakni lalai dalam shalatnya karena shalat menuntut penghayatan.

Ketiga, menunaikan zakat,hal ini sekaligus menunjukkan bahwa antara infak dalam bentuk emmberikan harta kepada orang-orang yang sudah disebutkan berbeda dengan zakat, sehingga meskipun orang sudah berinfak ia tetap harus berzakat sehingga harta dan jiwanya menjadi semakin bersih dari sifat-sifat buruk yang berkaitan dengan harta.

3. Kebajikan Dalam Akhlak.

Akhlak yang mulia merupakan harga diri seorang muslim dan ukuran bagi kualitas aqidahnya, karena itu kebajikan juga harus ditunjukkan dalam bentuk akhlak yang mulia. Di dalam ayat di atas, bentuk-bentuk kebajikan di atas disebutkan dalam dua hal yang sangat penting. Pertama, menegakkan kewajiban yang memang harus ditunaikan seperti memenuhi janji apabila berjanji kepada siapapun. Ada ungkapan yang sangat populer, janji itu utang dan utang harus selalu ditunaikan. Bila seorang muslim tidak memenuhi janji kepada orang lain, maka citra dirinya menjadi rusak dan akibatnya hilang kepercayaan orang lain kepadanya. Sayyid Quthb di dalam tafsirnya menyatakan bahwa bila pada suatu masyarakat janji tidak dipenuhi, maka setiap orang akan hidup dalam suasana cemas, kalut, hilang pegangan dan saling mencurigai. Oleh karena itu, perjanjian harus berlangsung secara terang, jelas dan terbuka, bukan dengan maksud melakukan penipuan.

Bentuk kebajikan kedua dalam kaitan dengan akhlak adalah, melawan keburukan dan menghadapi serta mengatasi rintangan-rintangan hidup dalam bentuk sabar dalam berbagai situasi, yakni situasi sempit, menderita dan perang. Kesempitan hidup bukan berarti seseorang bebas melakukan hal-hal yang tidak halal, penderitaan yang dialami bukan berarti seseorang boleh menghalalkan segala cara dalam mencapai sesuatu guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan peperangan yang dahsyat bukan berarti seseorang boleh melakukan tindakan membabi buta sehingga mengabaikan etika dan perasaan orang lain atau ketakutannya kepada musuh membuat ia dibolehkan lari dari medan perang. Sabar adalah menahan diri dari segala yang tidak dibenarkan oleh Allah swt karena mengharap ridha-Nya. Oleh karena itu Allah swt sangat mencintai orang yang sabar sehingga Dia akan selalu bersamanya.

Tiga bentuk kebajikan yang telah diuraikan di atas merupakan pokok-pokok ajaran Islam, bila ketiganya dapat kita wujudkan dalam hidup ini, maka kita termasuk orang yang memiliki iman yang benar dan memiliki ketaqwaan yang sejati.[]