Hadis

0
150 views

Hadis menurut bahasa berarti baru. Hadis menurut istilah adalah: Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi saw, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, dan sifat beliau. Contoh perkataan Nabi saw adalah sabda beliau:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى (رواه البخاري و مسلم)

”Perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang tergantung pada niatnya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Contoh penetapan (taqrîr) Nabi saw adaah sikap diam beliau dan tidak mengingkari terhadap suatu perbuatan, atau persetujuan beliau terhadapnya. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata : “Ada dua orang musâfir, ketika datang waktu shalat tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayamum dengan debu bersih lalu mendirikan shalat. Kemudian keduanya mendapati air, yang satu mengulang wudhu dan shalat, sedangkan yang lain tidak mengulang. Keduanya lalu menghadap Rasulullah saw dan menceritakan semua hal tersebut. Terhadap orang yang tidak mengulang beliau bersabda:

أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلَاتُكَ

”Engkau sudah benar sesuai sunnah, dan sudah cukup dengannya shalatmu”

Dan kepada yang mengulangi wudhu dan shalatnya, beliau bersabda:

أَمَّا أَنْتَ فَلَكَ مِثْلُ سَهْمِ جَمْعٍ

”Bagimu pahala dua kali lipat” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Contoh dari sifat Nabi saw,

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالطَّوِيلِ وَلاَ بِالْقَصِيرِ

”Rasulullah saw tidak tinggi dan tidak pendek” ( HR. Tirmidzi).

Kita juga mengenal kata sunnah lalu apa makna sunnah?

Sunnah menurut bahasa berarti: Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelak. Menurut M.T.Hasbi Ash Shiddieqy, pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa bermakna jalan yang dijalani, terpuji, atau tidak. Sesuai tradisi yang sudah dibiasakan, dinamai sunnah, walaupun tidak baik.

Berkaitan dengan pengertian sunnah ditinjau dari sudut bahasa, perhatikan sabda Rasulullah saw, sebagai berikut:

مَنْ سَنَّ سُنَّة حَسَنَة فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَة فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa mengadakan sesuatu sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat” (H.R.Ibnu Majah).

Sedangkan, Sunnah menurut istilah muhadditsîn (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi saw, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrîr (ketetapan), sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi saw, dibangkitkan menjadi Rasul, maupun sesudahnya.  

Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas, kata sunnah menurut sebagian ulama sama dengan kata hadis.

Kedudukan hadis dan sunnah dalam syariah Islam.

Ummat Islam sejak zaman Nabi saw meyakini bahwa al-Sunnah merupakan sumber ajaran Islam disamping al-Qur’an. Bahkan al-Sunnah adalah wahyu sebagaimana sabda Rasulullah saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

Ketahuilah sesungguhnya aku diberi Al-Kitab (Al-Qur’an) dan yang sepertinya bersamanya.(HR. Ahmad)

Maksud dari kalimat: “Dan seperti itu bersamanya” adalah al-Sunnah.

Di antara dalil lain yang menegaskan keotentikan al-Sunnah sebagai sumber hukum, bahwasanya Allah swt telah menjadikan Rasulullah saw sebagai penutup seluruh Nabi dan Rasul dan syariahnya sebagai penutup syariah sebelumnya. Maka Allah swt telah mewajibkan kepada manusia untuk beriman dan mengikuti segala ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw hingga hari Kiamat. Allah swt telah menghapus segala syariah yang bertentangan dengan syariah beliau saw. Semua ini menunjukkan bahwa Allah swt telah menjadikan syariah yang dibawa oleh Rasulullah saw sebagai syariah yang abadi dan terpelihara. Allah swt telah mewajibkan bagi setiap muslim bila berselisih tentang sesuatu untuk kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Dan jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS al-Nisa [4] :59).

Sumber:

Ibnu Manzhur, Lisân al-Arab

Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Pustaka Rizki Putra, Semarang, Cet. Kedua, 1998