Habl Min an-Nafs

0
35 views

Habl min an-Nafs adalah salah satu bentuk komunikasi internal yang selama ini sering luput dari perhatian kita. Padahal mengenali diri sendiri sangat penting sebagai landasan untuk membangun komunikasi yang baik dengan manusia (habl min an-naas) dan Tuhan (habl min Allah). Dalam ilmu tasawuf, bentuk komunikasi internal ini disebut muhasabah yaitu berkomunikasi dengan diri sendiri dalam rangka koreksi dan introspeksi untuk menjadi pribadi yang memiliki kualitas lebih baik.

Kita tentu menyadari bahwa habl min Allah dan habl min an-naas tidak selamanya berlangsung dengan baik. Dalam melaksanakan ibadah shalat misalnya, sering kali kita terjebak pada aspek formal dan melaksanakannya sekedar rutinitas yang hanya menggugurkan kewajiban semata daripada sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Begitu juga halnya dengan komunikasi dengan sesama manusia (habl min an-naas). Sering terjadi kesenjangan hubungan bahkan permusuhan antar satu dengan lainnya; saling mencurigai hingga malapetaka datang silih berganti.

Jika berkomunikasi dengan sesuatu di luar diri sendiri saja sulit, bagaimana halnya dengan berkomunikasi dengan diri kita sendiri, tentu lebih sulit lagi. Peribahasa mengatakan, “Gajah di hadapan mata tak keliatan, semut/kuman di seberang lautan terlihat.” Ini artinya lebih mudah mencari/mendapatkan kesalahan orang lain, meski di seberang lautan (gampang mencarinya), daripada melihat dan mengakui kesalahan dan kekurangan sendiri. Intinya adalah bahwa tingkat kesulitan habl min an-nafs sama dengan sulitnya melihat pelupuk mata kita sendiri; telinga dan tengkuk sendiri sendiri yang susah dilihat tanpa bantuan pihak luar. Dan ini menunjukkan betapa pesimistisnya melihat kemampuan seseorang untuk mendeskripsikan dirinya sendiri secara objektif.

Akan tetapi sesulit apapun itu, sebagai orang yang beriman kita harus yakin bahwa manusia dengan fitrahnya diberi kemampuan untuk mengenal dan menguasai dirinya. Salah satu bentuk mengenali diri sendiri adalah mengenali apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan. Bila sudah mampu melakukan itu, akan lebih mudah mengaturnya dan kalau perlu menghiasinya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, mengenali dan menerima diri sangat terasa urgensinya. Banyak karakter dalam hubungan sosial dibelahan dunia manapun dari setiap ras, bangsa, agama, umur, budaya dan lingkungan yang membutuhkan pengertian jiwa dan logika kedewasaan agar semua itu bisa diterima dengan hati legowo.

Salahsatu penyakit pergaulan yang sebagian manusia tidak mampu mengelakkan dirinya yakni sifat iri/dengki/hasad/cemburu. Biasanya orang iri itu tidak senang melihat orang lain bahagia. Apa yang dimiliki orang lain seakan memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang dimiliki dan tidak dimilikinya. Padahal yang terjadi adalah, dia tidak mau mengenali dan menerima ketidakmampuannya untuk memiliki kelebihan/nikmat seperti orang lain dan itu diproyeksikan dalam ketidakmampuan dia menerima kelebihan orang lain.

Oleh karena itu, mari kita cintai diri kita sendiri dengan mengenalnya lebih dalam serta menjaga tatanannya agar sehat, kuat dan indah. Ini penting karena sikap dan perilaku yang sehat, penuh cinta kasih hanya akan lahir dari mereka yang memiliki kepribadian sehat dan memiliki cinta untuk dirinya. Wallahu A’lam.