Gurutta

0
111 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Bagi saya, beliau adalah sosok yang jauh tapi dekat. Namun kata “jauh” mungkin lebih tepat karena di antara ribuan santri yang pernah dididiknya, saya tidak punya satu keistimewaan pun untuk mengklaim diri dekat. Tidak cukup nakal dan bandel untuk selalu mendapatkan “terapinya”, dan juga tidak cukup jenius untuk mendapatkan pujian langsung darinya, kecuali ketika beliau memanggilku dengan kata, “Muide!” Panggilan itu seperti menawarkan semacam keintiman, dan juga kehangatan. Tetapi barangkali itu lebih merupakan tanda bahwa beliau memang orang baik daripada bahwa saya dekat. Setiap orang baik terasa selalu menawarkan kehangatan.

Orang tua santri yang tidak pernah melihat sosoknya langsung dan hanya mendengar suaranya lewat load speaker masjid pesantren pasti tidak akan pernah menyangka bahwa orang yang bersuara menggelegar dan membuat santri lari terbirit-birit itu sebenarnya bertubuh tidak cukup besar. Saya tidak pernah lupa ketika pertama kali melihat beliau. Langkah kakinya yang cepat dan ringan membuat jenggotnya yang cukup panjang meriap-riap ditiup angin. Bersama kibaran baju gamis putih yang dikenakannya, beliau hampir seperti melayang.

Kini langkah itu telah terhenti. Mungkin beliau kini benar-benar melayang dan benar-benar jauh. Meninggalkan duka. Yang tersisa adalah kenangan. Yang ditinggalkan hanya bisa berdoa dan sesekali mengais kenangan-kenangan yang mulai tertimbun masa.

Pernah di suatu Jumat, saya dengan dua santri lain tertangkap basah terlambat masuk kampus setelah membeli sayur dan beberapa potong ikan asin di pasar yang cukup jauh dari pesantren. Hukumannya adalah menyapu rumah beliau dan mencuci piring. Beliau sendiri mengisi kolam kamar mandinya dengan beberapa ember air. Beliau berkata: “Jangan pulang dulu, ya. Makan siang di sini saja.” Setelah itu, beliau meminta tolong dengan lembut kepada istrinya agar menyiapkan dua atau tiga telur mata sapi. Ini hukuman atau apa? Lalu kami makan bersama. Dan yang ada hanya kebersahajaan.

Saya harus berkata, selain terlalu baik, beliau juga terlalu bersahaja. Untuk ukuran seorang magister di tahun 80-an, alumni perguruan tinggi luar negeri terkemuka dan tertua di dunia, dengan spesifikasi bidang ilmu politik, bahkan konon yang pertama bagi orang non-Arab, seharusnya beliau sudah tidak tinggal di pesantren itu dan bergaul dengan santri-santri yang susah diatur dan malas mandi.

Seharusnya beliau, paling tidak, berdomisili di ibukota provinsi dan menjalani aktivitas intelektual di sana dengan sederet jadwal mengajar yang padat di berbagai perguruan tinggi, mengisi seminar di seluruh pelosok negeri, plus jadwal khutbah jumat dan ceramah yang penuh sepanjang tahun di masjid-masjid besar, dengan bayaran besar pula. Ok, bolehlah sekali-kali datang ke pesantren almamaternya sebagai tamu kehormatan. Dengan itu, kehidupan beliau bisa jadi lebih “layak”.

Sekitar dua bulan sebelum pergi untuk selamanya, ada yang menanyakan hal tadi kepada beliau dan beliau tertawa. “Dulu, sepulang dari Kairo, saya pun berfikir begitu,” kata beliau. “Gurutta Ambo Dalle sama sekali tidak melarang. Beliau hanya berpesan dengan sepotong ayat: Wa man yattaqi Llâh yaj’al lahû makhrajâ, wa yarzuqhu min haytsu lâ yahtasib.”

Ternyata, bagi beliau, pesan Gurutta Ambo Dalle itu bermakna “perintah” untuk mengabdi di DDI Mangkoso. Entah bagaimana beliau bisa sampai pada kesimpulan seperti itu. Bukankah kesimpulannya tidak harus begitu? Saya hanya bisa menduga bahwa yang sebenarnya terjadi adalah sebuah bukti pertalian batin yang sangat erat antara seorang guru dengan seorang murid. Begitu halus pesan itu terselip dan begitu cerdas sang murid menangkapnya. Lalu sang murid pun menghabiskan hidupnya dalam menunaikan pesan sang guru. Benar-benar sepenuh hidupnya. Dalam arti yang sebenarnya.

Doaku untuk guruku, KH. Abd. Wahab Zakariya, MA.