Ghibah dan Infotaimen

0
45 views

Maraknya acara infotaimen di berbagai stasiun televisi, dinilai memberi dampak negatif yang berpengaruh kepada perilaku dan pola hidup masyarakat. Ketika acara infotaimen ramai menayangkan kasus perceraian misalnya, statistik perceraian di masyarakat juga meningkat. Pada saat infotaimen mempopulerkan isu perselingkuhan, ternyata di masyarakat pun ramai terjadi perselingkuhan. Memang belum diteliti secara serius hubungan antara infotaimen dengan kehidupan masyarakat, namun kasat mata menyaksikan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat, antara tayangan televisi dengan perilaku masyarakat.

Di sini akan dibahas mengenai gibah dalam infotaimen dalam perspektif hukum Islam.  Setidaknya ada tiga hal yang menjadi pokok persoalan dalam bahasan ini. Pertama, Gibah dan seluk beluk dan batasan-batasannya, kedua, infotaimen dan hal-hal yang melingkupinya dan, ketiga, hubungan keduanya dalam perspektif hukum Islam.

Ruang Lingkup Ghibah

Dari segi definisi, gibah berasal dari bahasa Arab dengan akar kata ghaaba, yang berarti ‘tidak hadir’, atau lawan kata dari hadhara. Asal usul kata ini memberi pemahaman adanya unsur ‘ketidakhadiran seseorang’ dalam gibah, yakni orang yang menjadi obyek pembicaraan. Dari segi definisi istilah atau terminologi, gibah diartikan sebagai pembicaraan tentang seseorang yang tidak hadir dalam pembicaraan itu, yang apabila dia mendengarkannya akan menjadi terganggu atau tidak senang. Dalam bahasa Indoneisa, gibah diterjemahkan sebagai “menggunjing”. Dari sini, dapat disebutkan unsur-unsur gibah yaitu:

  1. Pembicaraan atau pemberitaan negatif tentang pribadi atau kehidupan pribadi seseorang
  2. Dipastikan atau dapat diduga yang bersangkutan tidak senang jika mendengarnya.
  3. Tidak karena tujuan tertentu yang dibolehkan agama seperti untuk mengetahui calon suami/isteri.

Dalam Islam, pembahasan tentang gibah biasa dimasukkan ke dalam persoalan akhlak  kemasyarakatan dan kelompok dosa-dosa besar. Ayat yang menjelaskan status gibah ini dalam al-Qur’an terdapat dalam QS. Al-Hujurat/49: 12

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ayat tersebut menegaskan posisi hukum gibah sebagai sebuah perbuatan yang merusak tata hidup kemasyarakatan sekaligus sebagai “pengkhianatan” terhadap sesama manusia. Sebuah perumpamaan yang sangat tegas dan to the point dari al-Qur’an tentang gibah ini adalah “sukakah engkau memakan daging saudaramu yang sudah mati”. Pertanyaan yang ironis dari kata “ayuhibbu“ (sukakah) melambangkan bahwa terdapat kecenderungan orang untuk suka bergibah, namun kesukaan itu dicela agama. Lalu ada kata “memakan daging” yang berarti menikmati suasana gibah itu bagaikan seseorang yang mamakan daging dengan nikmatnya.  Sedangkan kata “maytan” (mati) berarti bahwa orang yang digibah itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu dan tidak sempat membuat pembelaan karena dia tidak hadir.

Dalam konteks al-akhlaq al-Islamiyah (akhlak Islam), gibah dan kawan-kawannya seperti kazb (dusta), namimah (mengadudomba), sabbab (mengumpat/memaki) selalu muncul di posisi tercela. Imam al-Ghazali memasukkan persoalan gibah kepada subtema penjagaan seorang muslim terhadap pendengaran dan lisannya. Menurutnya, seorang muslim harus menghindarkan lidahnya dari 8 hal; berdusta, sumpah palsu, gibah, berdebat yang tidak substantif, menyebut-nyebut kebaikan sendiri, suka melaknat, mendoakan keburukan untuk orang lain, dan mengejek/mengolok-olok. Dalam penjelasannya tentang gibah, al-Ghazali mewanti-wanti muridnya  bahwa keburukan gibah tidak kalah dari zina. Orang yang menggibah saudaranya adalah zhalim meskipun ucapan dia itu benar.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana hukumnya orang yang mendengar gibah? Di sini al-Ghazali menegaskan bahwa mustami’ (pendengar) adalah sekutu atau kongsi dari si pengucap, dalam dosa dan keburukannya. Ini yang menarik, karena mungkin sebagian kalangan menganggap bahwa dosa gibah hanya dipikul oleh pelaku pengucap, sedangkan mereka yang hanya mendengar bisa terbebas dari dosa dan keburukan tersebut. Kalau dilogikakan, bagaimana  mungkin si pengucap menanggung dosa gibah itu sendirian. Sedangkan dia tidak mungkin mengucapkan gibah itu bila tidak ada yang mau mendengar. Karena itu, sekecil apapun respon si pendengar ketika dia tidak segera meninggalkan majlis (tempat bertemu) atau mengalihkan topik pembicaraan, itu sudah cukup mengantarkannya menjadi anggota kelompok penggibah. Sebab respon itulah yang menjadi pelengkap dari suatu gibah. Seseorang yang bergibah di tengah orang tuli atau yang tidak perhatian, tentu tidak menjadi gibah karena tidak ada makna dari pembicaraan itu.

Pertanyaan lain yang mungkin timbul adalah, jika data atau cerita gibah yang dipaparkan itu benar dan faktual, apakah termasuk gibah? Jawabannya adalah IYA. Rasulullah saw. ketika  menjelaskan tentang gibah kepada sahabat bersabda:

عن أبي هريرة أن رسول الله ص قال ” أتدرون ما الغيبة ؟ ” قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: ” ذكرك أخاك بما يكره” قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول ؟ قال: ” إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته ، وإن لم يكن فيه فقد بهتّه” (وراه مسلم)

Artinya:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw., bersabda: “Tahukkah kalian apa itu gibah?” Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “(Gibah itu adalah) Engkau menyebut tentang saudaramu yang dia tidak sukai”. Lalu ada yang berkata: Bagaimana jika yang saya ucapkan itu benar adanya? Nabi bersabda: “Jika yang engkau katakan benar adanya, maka engkau telah menggibahnya. Jika yang engkau katakan tidak benar maka engkau telah berkata bohong (fitnah) tentangnya. HR. Muslim.

Jadi jelas bahwa bahwa gibah itu sebenarnya adalah ucapan atau fakta yang benar pada seseorang yang digibah, namun fakta itu tidak disukainya jika orang lain mengucapkannya atau mendengarkannya. Ini menepis anggapan atau ungkapan pembenaran terhadap gibah jika memang faktual.

Gibah yang dibolehkan

Menurut Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, penulis kitab Riyadhus Shalihin, gibah dibolehkan apabila untuk mencapai tujuan yang dibenarkan oleh Syara’ (agama), dimana tujuan itu tidak akan tercapai kecuali dengan jalan gibah. Gibah yang dibolehkan ini ada 6 hal:

  1. Untuk mengadukan orang yang menganiaya kepada penguasa (polisi).
  2. Minta tolong kepada orang yang diharapkan mampu untuk mengubah atau menghilangkan keburukan seseorang dan mengembalikannya ke jalan yang benar.
  3. Ketika meminta fatwa atau nesehat untuk kebaikan
  4. Memberi peringatan atau nasehat kepada kaum muslimin agar tidak terjerumus atau mencontoh perbuatan atau sifat buruk.
  5. Memberi penjelasan atau pengertian tentang seseorang agar jelas, misalnya mengatakan “yang bisu itu, atau yang buta itu”.
  6. Ketika dibutuhkan misalnya untuk keperluan mengetahui kepribadian calon isteri atau calon pemimpin yang akan dipilih, atau perawi hadis.

Perkecualian atas gibah yang dibolehkan di atas telah disepakati oleh ulama. Ini menandakan bahwa dalam hal dan situasi tertentu, dibolehkan  menyampaikan sifat atau track record yang buruk dari seseorang karena kepentingannya lebih besar dan berdampak luas atau mendalam.

Ghibah dan Infotaimen

Infotaimen sebagaimana dikenal selama ini adalah sejenis acara televisi yang memadukan dua unsur yakni informasi dan hiburan.  Acara ini mulai muncul di era 90-an dan semakin marak seiring dengan lahirnya stasiun-stasiun televisi. Karena sifatnya informatif dan menghibur, acara ini mendapatkan tempat di hati masyarakat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya rating (peringkat atas banyaknya jumlah penonton) untuk acara sejenis ini. Sedemikian lakunya, sehingga ada stasiun televisi yang menayangkan acara jenis ini sampai 3 kali dalam sehari.

Persoalan kemudian muncul ketika domain acara ini yang seharusnya menginformasikan sisi positif dari seorang tokoh, dan menghibur dalam arti yang positif, bergeser kepada informasi sisi negatif dari kehidupan sang tokoh, serta hiburan yang dimanupulasi dari perseteruan, perselingkuhan, perceraian, yang disajikan dengan teknologi efek yang canggih. Pemirsapun seakan disihir dengan manipulasi kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang memperlihatkan keprihatinan atas kasus atau perilaku negatif dari seorang tokoh. Penyajian yang manipulatif ini pun ternyata “memikat” masyarakat sehingga rating acara tetap tinggi.

Yang tidak kurang serunya adalah perilaku para pencari berita tersebut. Mereka terkadang rela begadang di depan pagar seorang artis, menunggu berjam-jam di luar pengadilan untuk meliput perkara perceraian atau perselingkuhan seorang artis. Terkadang mereka memaksa masuk ke acara keluarga dan resepsi pernikahan tanpa diundang. Atau mengerubuti sang tokoh seperti semut mengerubuti gula, dan memaksakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak layak. Tidak salah juga jika akhirnya ada tokoh atau artis yang mengatakan bahwa kehidupannya sudah “dirampas” oleh para pemburu berita tersebut.

Kasus Luna Maya, dapat menjadi contoh betapa kelakukan para pemburu berita sudah melampaui batas. Komentar-komentar negatif tentang dirinya pun dengan terang benderang dipaparkan dan ditayangkan tanpa rasa risih atau bersalah sedikitpun oleh media peliputnya. Lalu, dimanakah etika, sopan santun, dan penghargaan atas privasi seseorang?

Memang terdapat sejumlah tokoh artis yang mendapatkan keuntungan dari tayangan dan liputan acara infotainmen tersebut. Kepopuleran yang juga berarti rupiah pun mengalir karena jasa acara ini. Namun tidak sedikit yang merasa terzalimi, difitnah, sehingga kehormatannya terusik. Dan masyaakat sebagai konsumen acara ini seperti dipaksa menelan bulat-bulat informasi yang mungkin jauh dari kebenaran dan memang tidak perlu ini. Informasi dan tayangan negatif dari acara ini kemudian beradaptasi di dalam otak dan secara perlahan mengubah persepsi. Jika dulunya perceraian dan perselingkuan menjadi aib untuk dibicarakan apalagi dilakukan, dengan perubahan persepsi ini, masyarakat sudah menganggap bahwa perceraian dan perselingkuhan menjadi hal biasa. Akibatnya, statistik perceraian dan perselingkuhan semakin meningkat. Infotaimen dengan model seperti di atas inilah yang kemudian mendominasi kebanyakan sajian acara infotaimen tanah air dan akibat buruknya yang kini semakin disadari oleh masyarakat.

Diakui di sisi lain, bahwa beberapa item dan topik tayangan infotaimen bukanlah merupakan tayangan negatif atau berefek negatif. Tayangan pernikahan, kelahiran, ulang tahun, serta berbagai kegiatan positif lainnya dapat memuaskan rasa ingin tahu masyarakat tentang tokoh idolanya. Sisi baik dari seorang artis atau tokoh tentu dapat menjadi isnpirasi bagi masyarakat untuk mencontoh berbagai perilaku positif dari mereka. Tayangan seperti inilah yang seharusnya diberikan kepada masyarakat.

Perpektif Hukum Islam

Dengan melihat penjelasan tentang pengertian gibah dan infotaimen di atas, terlihat jelas adanya benang merah antara keduanya. Benang merah tersebut dapat diurai sebagai berikut:

  1. Islam begitu menghargai privacy seseorang tanpa memandang agama, suku dan rasnya. Istilah “aurat” dalam al-Qur’an tidak hanya melingkupi bagian tubuh yang harus tertutup dari seseorang. Aurat dalam al-Qur’an merupakan simbol dari kehidupan pribadi. Misalnya disebut dalam QS. Al-Ahzab/33: 13 yang menyebutkan bahwa rumah adalah aurat:

وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَاأَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلَّا فِرَارًا

Artinya:

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.

Rumah di sini tentu tidak sebatas bangunan yang menjadi tempat tinggal lengkap dengan perabot dan assesorisnya. Rumah adalah seluruh kehidupan seseorang di mana segala rahasia tertutupi dan terlindungi.Sementara dalam acara infotaimen, kehidupan pribadi yang merupakan aurat seseorang justru menjadi sasaran utama. Semakin mendalam berita dan akses pribadi yang didapat dan ditayangkan ke publik, semakin dianggap hebatlah acara tersebut.

  1. Gibah secara tegas menghimpun segala bentuk proses informasi negatif (yang tidak disukai jika terdengar oleh obyek) dari narasumber, pemroses, hingga pendengar menjadi kesatuan yang tidak dipisahkan sebagai pelaku gibah. Sementara infotanment dari faktanya sudah jelas-jelas menjadikan informasi pribadi seseorang baik yang positif maupun negatif sebagai tayangan utama.

 

Pandangan ulama mengenai gibah ini sudah jelas. Hukum Gibah adalah HARAM dilarang keras berdasarkan al-Qur’an Surah al-Hujurat, dan hadis riwayat Muslim yang telah dijelaskan. Dalam ayat tersebut digunakan kata “laa” yang berarti larangan (nahy). Kalimat nahy atau larangan secara otomatis bermakna pengharaman. Dan selama tidak ditemukan dalam ayat-ayat lain yang membatasi larangan itu, maka larangan atau pengharamannya bersifat mutlak. Perkecualian tentang kebolehan gibah hanyalah untuk tujuan kebaikan, sebagaimana disebut Imam Nawawi di atas. Selain itu, tidak ada alasan yang dapat diterima. Sementara dalam hadis Muslim tentang penjelasan Nabi kepada sahabatnya mengenai gibah, diketahui bahwa konteksnya sudah dalam pelarangan. Ini terbukti dengan sanggahan yang disampaikan sahabat bukan dari sisi hukumnya, namun dari sisi cakupannya.

Dengan demikian, keharaman gibah sangat kuat dan tidak menyisakan perbedaan pendapat. Dan sejauh ini tidak ditemukan pendapat yang membolehkan gibah tanpa alasan sebagaimana yang dikemukakan.

Masyarakat Sebagai Korban

Jika kita mengambil pendapat al-Ghazali mengenai gibah, bahwa pendengarpun termasuk dalam kelompok pelaku gibah, maka masyarakat yang selama ini dicekoki dengan tayangan gibah di infotaiment sudah sangat dikorbankan. Mereka turut menjadi pelaku dosa yang mereka tidak sadari. Mereka tidak berdaya menolak karena sesungguhnya mereka butuh hiburan dan berita tentang idola mereka. Namun terkadang mereka tidak dapat memilih.

Pada tataran ini, pemerintah (ulul amr) haruslah melindungi masyarakat. Cara yang dapat ditempuh antara lain:

  1. Menegaskan larangan gibah dalam acara televisi, baik infotaimen ataupun lainnya.
  2. Memberikan sanksi yang tegas bagi stasiun televisi yang melanggar larangan tersebut.
  3. Mengarahkan dan mensupport media televisi untuk HANYA menayangkan acara-acara yang bersifat mendidik dan menghargai kehidupan pribadi setiap warganegara.

Tugas para pendidik, tokoh masyarakat, cendekiawan, dan pemerhati masalah kemasyarakatan adalah melindungi masyarakat dari tontonan yang tidak perlu dan berisi gibah. Yang dibutuhkan adalah ketegasan dan kerjasama kolektif semua pihak. Di sini, pihak penyelenggara acara infotaimen diminta untuk segera menyaring dan membatasi tema-tema berita dan tayangan yang disampaikan, agar bersih dari GIBAH. Wallahul Muwaffiq.[]