Gerhana

0
80 views

Gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah al-Khusuf atau kusuf, dua kata yang berbeda ketika dipisahkan maka istilah al-khusuf mengandung makna peristiwa dimana cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada di balik bumi dan matahari. Dan kata kusuf mengandung makna peristiwa dimana sinar matahari menghilang baik sebagian atau total pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari.

Dari makna dua istilah al-khusuf dan kusuf maka gerhana berkaitan dengan dua ciptaan Allah swt yaitu Matahari dan bulan yang merupakan dua makhluk Allah swt yang sangat akrab dalam pandangan. Peredaran dan silih bergantinya yang sangat teratur merupakan ketetapan aturan Penguasa Jagad Semesta ini. Allah swt berfirman,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus[10]: 5).

Dan juga firmannya,

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

”Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (Ar-Rahman : 5)

Dari dua ayat diatas bisa kita pahami bahwa Allah swt menciptakan matahari serta sinarnya begitu pula bulan Allah swt ciptakan dengan sinarnya, Allah swt juga telah menetapkan manzilah untuk keduanya sebagai tempat untuk beredar dan berputar keduanya, maka ketika sinar keduanya menghilang itu adalah atas kekuasan-Nya, bukan karena sebab lain, sebagaimana Rasulullah saw bersabda,

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ ) رواه البخاري)

Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra berkata: Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah swt, dengannya Allah memberikan rasa takut kepada hamba-hamba-Nya. Keduanya ketika terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang, Maka apabila kalian melihat salah satu darinya, bersegeralah untuk berdzikir, berdoa kepada-Nya sampai sirna gerhana” (HR. Al-Bukhori )

Apa yang harus kita lakukan ketika terjadi gerhana?

Sesuai informasi dari lembaga NASA, LAPAN, BMKG bahwa pada tgl 31 januari 2018, ini akan terjadi gerhana bulan tepatnya dimulai dimulai sekitar pukul 18.48 WIB untuk gerhana parsial, dan sekitar pukul 19.51 WIB hingga 21.07 WIB puncak gerhana bulan total.

Dalam Kitab Fathul Bari dengan hadits nomor 2519 dijelaskan bahwa fenomena alam gerhana adalah peringatan akan datangnya suatu azab kepada umat tertentu. Maka dari itu, umat Islam diminta untuk melakukan tujuh hal ketika terjadi gerhana, yaitu:

Pertama, Sholat gerhana atau sering disebut dengan salat kusuf (gerhana matahari) atau solat khusuf (gerhana bulan), sebagai sarana untuk mengingat kebesaran Allah swt sebagai pencipta alam semesta yang diantaranya adalah matahari dan bulan.

Kedua, istigfar, sebagai sarana untuk memohon ampunan kepada Allah swt atas dosa-dosa yang telah diperbuat oleh ummat manusia.

Ketiga, berdoa supaya diberi keselamatan oleh Allah swt, karena doa adalah senjata seorang muslim, dimana dengan terjadinya gerhana kita tidak tahu dibalik penciptaan Allah swt tersebut, maka kita terus berdoa agar gerhana yang terjadi Allah swt senantiasa memberikan keselamatan.

Keempat, menyerukan takbir, dengan makna yaitu kita mengakui kebesaran Allah swt sebagai pencipta alam semesta, dan salah satu kebesarannya adalah menciptakan gerhana. Dimana tidak ada seorang manusia pun bisa membuat gerhana, manusia hanya bisa memprediksi akan terjadinya saja.

Kelima, dzikir untuk mengingat Allah, dalam artian memperbanyak mengingat Allah swt dengan lisan yaitu dengan memperbanyak membaca kalimat-kalimat dzikir seperti subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar dan dzikir-dzikir lainnya, karena pada dasarnya perintah berdzikir adalah perintah yang sangat luas, sebagaimana firman Allah swt

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab[33]: 41)

Keenam, shodaqoh, adalah mengeluarkan dari sebagian harta yang kita miliki, karena shodaqoh merupakan salah satu sarana bersosial dan meningkatkan kepedulian kepada sesame yang sedang membutuhkan.

Ketujuh, memerdekakan budak, perbudakan dijaman sekarang sudah tidak ada, tetapi makna dari memerdekakan disini adalah menjadikan setiap diri kita hanya menghambakan diri kepada Allah swt, tidak memperbudak hawa nafsu yang akhirnya tenggelam dalam perbuatan dosa, yang dengan dosa tersebut akan mengundang adzab dan siksa dari Allah swt.