Gempa Spiritual

0
399 views

Oleh Abd. Muid N.

Getaran gempa yang melanda Tasikmalaya-02/09/09-sempat menggoyang Jakarta selama beberapa menit. Kepanikan melanda hampir semua penghuni kota. Tidak terkecuali sebuah gedung pemerintah yang tingginya mencapai belasan lantai di bilangan Jakarta Selatan. Seluruh elemen penghuni gedung itu lari tunggang-langgang menyelamatkan diri, tidak peduli atasan, pimpinan, bawahan, satpam, dan office boy. Semua tiba-tiba memekikkan sebuah nama yang jauh tapi dekat, dipuja sekaligus dilupa. Yaitu, Tuhan.  Mengapa tiba-tiba Tuhan hadir? Sebelumnya Dia di mana (dikemanakan)?

Dalam kondisi tertentu memang manusia-sadar atau tidak-terbawa suasana untuk mengingat-Nya. Terutama dalam bencana alam karena bencana alam adalah salah satu bagian kehidupan yang sering membuat manusia kalah telak-di samping kematian dan penyakit. Mungkin bukan bencana alamnya yang membuat manusia meneriakkan Tuhan, tetapi kondisi kekalahan dan ketidakberdayaan itu. Tidak heran jika salah satu teori ateisme yang lahir adalah: “Ketidakberdayaan adalah tempat lahirnya Tuhan”.

Jika itu benar, maka Tuhan dalam hal ini adalah proyeksi mental manusia terhadap sesuatu yang tidak mampu ditaklukkannya. Sangat mudah memahami hal ini. Seseorang tidak akan berdoa panjang lebar jika dia hanya akan naik Busway dari Blok M menuju Stasiun Kota. Maksimal seseorang hanya akan membaca Basmalah atau tidak sama sekali. Doanya akan agak menjadi panjang jika perjalanan itu dari Jakarta menuju Bandung naik bus antarkota yang supirnya suka ngebut. Dan akan lebih panjang lagi jika perjalanan itu dengan pesawat kecil di belantara pegunungan Jayawijaya. Seperti itukah cara kita bertuhan? Adakah itu membenarkan teori ateisme di atas? Terserah kepada kita.

Tetapi teori kaum ateisme itu mungkin lupa bahwa ketidakberdayaan tidak harus melahirkan Tuhan, tetapi banyak pula kasus di mana ketidakberdayaan dan keputusasaan hidup malah membuat manusia yang tadinya bertuhan menjadi tidak bertuhan. Karena itu, teorinya bisa jadi berbunyi begini: “Ketidakberdayaan adalah tempat lahirnya ateisme”. Karenanya, tak bertuhan (ateisme) juga adalah sebentuk proyeksi mental manusia terhadap sesuatu yang tidak mampu ditaklukkannya.

Dalam bertuhan atau tidak bertuhan, kedua teori tadi bukan hanya dua-duanya semata. Kita tidak boleh menyangka bahwa alam raya yang luas ini lebih lebar dari kedalaman pengalaman spiritual seseorang. Pengalaman spiritual tidak pernah lebih sempit. Pengalaman spiritual juga tidak harus menyeramkan tetapi mungkin mengasyikkan. Tidak harus penuh tangis tetapi mungkin penuh senyum. Hanya kita yang tahu.[]