Gangguan di Jalan

0
67 views

Diantara faktor yang membuat manusia senang ketika menempuh perjalanan, baik berjalan kaki maupun berkendaraan adalah tidak ada hambatan dan gangguan sehingga dirasakan kenyamanan di jalan, memperoleh selamat dan sampai di tujuan. Oleh karena itu segala gangguan di jalan yang bisa mengganggu orang lain, baik bagi pejalan kaki maupun pengendara kendaraan harus kita singkirkan, ini akan membuat Allah swt amat berterima kasih sehingga kita memperoleh ampunan dari-Nya sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw:

 

   بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَأَخَذَهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Ketika seseorang berjalan di suatu ruas jalan, dia menemukan ranting pohon berduri, lalu dia mengambilnya (menyingkirkannya), maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya (HR. Bukhari).

Di dalam hadits lain, dikisahkan:

 

كَانَتْ شَجَرَةٌ تُؤْذِيْ النَّاسَ, فَأَتَاهَا رَجُلٌ فَعَزَلَهَا عَنْ طَرِيْقِ النَّاسِ, قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَتَقَلَّبُ فِى ظِلِّهَافِىالْجَنَّةِ

Pernah ada sebatang pohon menganggu orang, lalu seorang lelaki mendatanginya lantas menyingkirkannya dari jalanan orang-orang. Anas berkata: Nabi Allah saw bersabda: ”Sungguh aku melihatnya berada dalam kenikmatan dibawah naungan pohon di surga (HR. Ahmad dan Abu Ya’la dari Anas ra).

Oleh karena itu, menyingkirkan gangguan di jalan membuat seseorang mendapat nilai sedekah, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda:

 

وَإِمَاطَتُكَ اْلأَذَى وَالشَّوْكَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيْقِ لَكَ الصَّدَقَةٌ

Menyingkirkan ganguan duri dan tulang dari jalan bagimu adalah sedekah (HR. Tirmidzi).

Dalam kehidupan kita sekarang, mobilitas manusia yang semakin tinggi membuat orang sangat membutuhkan informasi lalu lintas yang lancar agar cepat sampai ke tujuan, namun bila ada informasi jalan yang macet,paling tidak orang sudah menyiapkan mental dan antisipasi waktu. Karena itu, setiap hari radio, televisi dan media sosial begitu banyak menginformasikan situasi lalu lintas sehingga para pengguna jalan memperoleh informasi yang amat dibutuhkannya itu.

 

Ada banyak bentuk gangguan di jalan yang harus kita singkirkandan bila dalam bentuk prilaku, maka harus kita tinggalkan. Inilah yang perlu kita pahami dengan baik.

1.    Rintangan di Jalan.

Ketika kita mendapati ada rintangan atau gangguan di jalan, maka yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan atau menghilangkannya. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat mulia, bahkan menjadi bukti keimanan, dalam satu hadits disebutkan:

           

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Imam Muslim):

Pada zaman sekarang, rintangan di jalan tidak hanya berupa adanya kayu yang melintang di tengah jalan, tapi yang juga amat menggangu para pengguna jalan adalah paku yang bisa membuat ban mobil atau sepeda motor kempes, bahkan pecah hingga mengakibatkan kecelakaan, karenanya para penyebar paku di jalan raya harus ditindak tegas. Bila kita mendapati ada paku, beling dan sejenisnya, maka kita harus menyingkirkan dan membuangnya ke tempat yang tidak membahayakan pengguna jalan.

2.    Tidak Tertib Berlalu Lintas.

Dalam konteks kehidupan sekarang, gangguan di jalan itu dalam bentuk tidak tertib berlalu lintas sehingga selain menggangu kelancaran, juga amat membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain. Diantara bentuknya adalah berhenti dan parkir bukan pada tempatnya, menggunakan jalur jalan yang berlawanan arah, berjalan bukan pada jalurnya yang tepatsemisal seperda motor berjalan di trotoar dan jembatan penyeberangan orang, melintasi persimpangan yang sebenarnya tidak dibolehkan, tidak mentaati lampu lalu lintas, mengemudikan kendaraan melebihi kecepatan maksimum dan sebagainya.

Semakin lama, kondisi ini semakin memprihatinkan sehingga angka kecelakaan lalu lintas semakin banyak hingga mengakibatkan cacat permanen dan kematian, kemacetan parah yang tidak hanya disebabkan oleh semakin banyaknya kendaraan tapi karena tidak tertib berlalu lintas dan ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar, moril maupun materil.

Dalam rangka mewujudkan tertib berlalu lintas, selain pemahaman dan kesadaran masyarakat yang harus ditanamkan, dibangun dan ditingkatkan. Yang juga amat prnting adalah penegakan hukum undang-undang lalu lintas sehingga ada efek jera bagi masyarakat pengguna kendaraan dan pengguna jalan untuk melanggar ketentuan lagi. Karena itu, kita berharap, khususnya pihak kepolisian untuk menegakkan hukum berlalu lintas, bukan malah polisi yang justeru melanggarnya atau membiarkan pelanggaran itu terus berlangsung.

3.    Duduk Di Pinggir Jalan.

Duduk-duduk di pinggir jalan bisa jadi menyenangkan bagi sekelompok orang. Hal ini karena suasana dan hubungan pergaulan menjadi rileks dan mereka leluasa bercengkerama. Karenanya pada masa Rasulullah saw ada juga sahabat yang suka melakukan hal itu. Namun tetap saja hal itu bisa mengganggu pengguna jalan. Karenanya, hak-hak pengguna jalan jangan sampai terganggu seperti orang menjadi sulit melewati ruas jalan, dipandang secara berlebihan apalagi bila yang diuduk-duduk lelaki, sedangkan yang melewati jalan wanita dan bila pengguna jalan mengucapkan salam tentu saja harus dijawab dan merekakapun diingatkan dengan amar makruf dan nahi munkar. Dalam satu hadits disebutkan:

  

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra dari Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian duduk duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya: “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda: “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya: “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab: “Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, jalan-jalan yang ada di lingkungan kita merupakan hak dan milik bersama yang semua orang dapat menggunakannya dengan baik. Karena itu jangan sampai orang lain terganggu hingga tidak bias menggunakannya dengan berbagai sebab.

Drs. H. Ahmad Yani

Website: www.ahmadyani.masjid.asia