Forgiven and Forgotten

0
46 views

Hari ini tanggal 10 September 2009) kita memasuki hari ke-20 Ramadhan. Itu berarti kita sudah menyelesaikan 2/3 yang pertama dan tersisa 1/3 lagi dari bulan yang Suci ini. Itu juga berarti bahwa – jika kita memang benar-benar telah melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan dengan penuh keimanan – kita telah mendapatkan rahmat dan ampunan Allah swt. Satu lagi janji Tuhan yang kita nantikan di 1/3 terakhir adalah “keterbebasan dari api neraka”.

Indah bener ya….kalo kita membayangkan, pergumulan hidup kita selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang mungkin aja dipenuhi oleh kesalahan, kekhilafan, dan pembangkangan atas perintah Tuhan….semua itu bagaikan setitik noda yang terhapuskan oleh kedahsyatan bulan Ramadhan. Janji Tuhan pasti benar. “Barang siapa yang berpuasa selama bulan Ramadhan karena landasan iman maka akan dihapuskan segala dosa masa lampaunya“….

Wiiiiihh…Itulah rahmat (kasih sayang) Allah yang diberikan pada kita, hamba-Nya yang kadang ga tau diri ini, selama bulan Ramadhan. Mana ada sih di antara kita yang begitu mudah menghapuskan kesalahan orang lain yang sudah menyakiti diri kita…Kita masih saja selalu menyisakan amarah, kekesalan dalam hati, dan (mungkin juga) dendam atas kesalahan yang orang lain perbuat pada kita…. Masih sulit rasanya bagi kita mencontoh sifat Tuhan yang Maha Pemaaf dan Penuh Kasih Sayang.

Padahal kalo kita renung-renungkan dengan mendalam….kita akan bisa sampai pada sebuah kesadaran bahwa amarah, kesal, dendam…dan apa pun yang sejenisnya, ga ada gunanya dipelihara dalam hati.

Secara fisik….amarah hanya membuat muka kita mengkerut kaya kerupuk layu…dipandang ga enak, dimakan apa lagi….diliat ga asyik, diajak ngobrol jangan dikata….

Dendam membuat hati kita menjadi sempit….dunia seakan-akan hanya selebar daun kelor….ada gejolak yang terus bergelora dan menjauhkan kita dari ketenangan batin. Tersiksa sendiri bro. Belum tentu yang kita dendam merasakan hal yang sama…kalo dia cuek aja, nah lo…

Kalo kita melihatnya dari kacamata agama….Tuhan sangat menyukai hamba-Nya yang selalu berbuat baik. Dan memaafkan adalah satu perbuatan yang sangat disukai oleh Tuhan. Surah An-Nur ayat 22 mengisyaratkan hal tersebut: “Maafkan dan hapuskan (amarah); apakah kamu tidak suka (jika kamu melakukan itu) Allah akan mengampunimu?”… Begitu senangnya Allah dengan perbuatan memaafkan, sehingga mereka-mereka yang senang memaafkan orang lain otomatis akan mendapatkan ampunan dari Allah….kayak permainan karambol ya….kita senang maafin orang lain…pantulannya adalah Allah senang memaafkan kita….

Ada satu catatan penting dalam perkara maaf-memaafkan ini. Tuhan dalam al-Qur’an ga pernah menyuruh kita-kita ini, hamba-Nya, untuk meminta maaf (dalam konteks hubungan dengan orang lain); yang diminta dari kita adalah memaafkan!! Kedua, kata “memaafkan” selalu diiringi dengan kata “menghapuskan”. Jadi…ga cukup man kalo kita baru memaafkan di lidah tapi dalam hati masih tersisa amarah dan dendam…. Memaafkan baru sempurna kalo lidah dan hati kita sama-sama melepas beban kemarahannya. Lidah mengucapkan kata memaafkan, hati menghapus segala kebencian dan amarah yang tersisa…. itu baru klop!!!

Emang…dalam banyak hal, Tuhan mengukur perbuatan kita terhadap orang lain sebagai tolok ukur pemberian Tuhan pada kita. Dalam satu hadis disebutin, “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya sepanjang hamba itu menolong saudaranya”… Di hadis yang lain, “Barang siapa yang pandai menutup aib orang lain di dunia, Allah akan menutup aibnya di akhirat nanti (dan tentu juga di dunia)”…dan masih banyak lagi hadis yang senada dengan ini….

Lagi-lagi kita melihat bahwa dalam beragama, dan secara umum dalam kehidupan sehari-hari, kita diminta supaya menempatkan orang lain sebagai partner dan sahabat dalam kehidupan… berbuat baik pada mereka, dan berbagi suka dan duka dengan mereka.

Satu lagi sebagai catatan penutup. Ini juga luar biasa!!! Ibadah yang kita lakukan, apabila melibatkan orang lain di dalamnya (entah itu sebagai teman dalam melakukan kebaikan itu atau sekedar dihadirkan/disertakan untuk menerima kebaikan yang kita lakukan…. maka kehadiran mereka itu menambah nilai dari ibadah atau kebaikan kita. Contoh sederhana…. shalat sendiri nilainya cuman 1 derajat, tapi kalo dilakukan berjamaah, maka nilai shalat kita menjadi 27 derajat; Buka puasa sendiri hanya mendapatkan satu nilai dari puasa yang kita lakukan, tapi kalo kita mengajak orang lain berbuka puasa bersama atau memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa maka kita juga mendapatkan bonus pahala sebesar ibadah puasa orang yang kita beri makan itu…. Hebat bukan….kita mendapatkan pahala karena kita melakukanya, lalu nilainya digandakan oleh Allah karena ada orang lain yang juga terlibat bersama-sama dengan kita dalam kebaikan itu…. Ini juga bisa jadi pelajarn buat kita bahwa satu pekerjaan yang dilakukan bersama-sama (dalam satu team work yang padu) bisa memberikan hasil yang lebih baik ketimbang kita ngerjainnya sendirian…. sepanjang semuanya bekerja secara positif tentunya.

Selamat Berpuasa!!!

BAGI
Artikel SebelumnyaMenutupi Duka
Artikel BerikutnyaKemenangan Semu