Fitrah

0
54 views

fitrahcenterindonesia.blogspot.comFitrah berasal dari akar kata fathara dalam bahasa Arab ia mengandung makna: al-khilqah yang berarti naluri pembawaan, ath-Thabi’ah yang berarti tabiat atau karakter yang diciptakan Allah swt pada manusia, dan membuka.

Dalam al-Qur’an dan sunnah kata fathara ini setidaknya memiliki dua arti, pertama pecah dan kedua menciptakan atau mulai menjadikan.

Fathara dalam arti pecah ini kemudian digunakan pada arti memecahkan puasa, atau bahasa kita dengan ungkapan buka. Kata tersebut bisa kita temui di dalam sebuah do’a,

اللَّهُمِّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Ya Allah, hanya untukMu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman dan denganMu aku berbuka.

Sedangkan pada arti kedua Allah swt menyebut diri-Nya Fathir (Maha Pencipta) seperti pada firman Allah swt,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Segala puji bagi Allah Fathir (yang menciptakan) langit dan bumi” (QS. Fathir[35]:1)

Menurut Ibn Mandzur, salah satu makna fitrah adalah al-ibtida’ (mengawali) wal-ikhtira’ (dan menciptakan). Dengan demikian perkataan fitrah bisa bermakna asal kejadian, atau penciptaan sejak lahir.

Hakikat Fitrah Manusia

Fitrah yang salah satu maknanya adalah naluri atau pembawaan, diantara naluri atau pembawaan manusia yang asli adalah adanya naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) pada dirinya. Dengan naluri ini, setiap manusia pasti merasakan dirinya serba lemah, serba kurang dan serba tidak berdaya sehingga ia membutuhkan Zat Yang Maha agung, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan. Karena itulah, secara fitrah, manusia akan selalu membutuhkan agama yang menuntun dirinya melakukan penyembahan (‘ibâdah) terhadap Tuhannya dengan benar. Itulah Islam sebagai satu-satunya agama dari Allah swt. Konsekuensinya, sesuai dengan fitrahnya pula, manusia sejatinya senantiasa mendudukkan dirinya sebagai hamba di hadapan Allah swt, Pencipta manusia.

Hal ini telah ditegaskan oleh Allah swt dalam al-Qur’an,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

(QS. ar-Rum[30]:30).

Para ahli tafsir menjelaskan kata fithrah di dalam ayat tersebut dengan, “al-khilqah” (naluri, pembawaan) dan “ath-thabi‘ah” (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. pada manusia.

Sebagian mufassir lainnya seperti Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ibnu Syihab memaknainya dengan Islam dan Tauhid. Mereka beralasan dengan hadis nabi saw;

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Tidaklah setiap yang lahir dilahirkan melainkan terlahir atas keadaan fitrah, lalu kedua orangtuanya lah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi (Muttafaq ‘alaih)

Tidak disebutkannya orangtua yang menjadikan Islam, menunjukkan bahwa sikap tunduk dan patuh kepada Allah swt yang merupakan ciri khas agama Islam adalah anugerah dari Allah swt yang telah diberikan kepada setiap manusia. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

(QS. al-A‘raf[7]:172).

Al-Jurjani menandaskan:

الفِطْرَة اَلْجِبِلَة الْمُتَهَيِّئَة لِقَبُوْلِ الدِّيْن                                      

Fitrah ialah potensi dasar yang dipersiapkan untuk menerima agama.

Menurut Ibn Atsir, fitrah itu antara lain adalah karakteristik penciptaan manusia dan potensi manusia yang siap untuk menerima Agama. Oleh karena itu, Imam Zamakhsyari mengatakan fitrah itu menjadikan manusia siap sedia setiap saat menerima kebenaran dengan penuh sukarela, tanpa paksaan, alami, wajar dan tanpa beban. Seandainya syetan dan jin ditiadakan, niscaya manusia hanya akan memilih kebenaran itu

Kemudian manusia diberikan akal, dengan akal ia mampu memastikan adanya Tuhan, Pencipta alam semesta. Sebab, keberadaan alam semesta yang lemah, terbatas, serba kurang, dan saling membutuhkan pasti merupakan makhluk. Hal itu memastikan adanya al-Khâliq yang menciptakannya. Dengan demikian, kebutuhan manusia pada agama, selain didorong oleh gharîzah at-tadayyun, juga oleh kesimpulan akal.

Lebih jauh, akal manusia juga mampu memilah dan memilih akidah dan agama yang benar. Akidah batil akan dengan mudah diketahui dan dibantah oleh akal manusia. Sebaliknya, argumentasi akidah yang haq pasti tak terbantahkan sehingga memuaskan akal manusia.

Oleh karena itu, secara fitrah manusia membutuhkan akidah dan agama yang haq, agama yang menenteramkan perasaan sekaligus memuaskan akal. Islamlah satu-satunya yang haq. Islam dapat memenuhi dahaga naluri beragama manusia dengan benar sehingga menenteramkannya. Islam juga memuaskan akalnya dengan argumentasi-argumentasinya yang kokoh dan tak terbantahkan. Dengan demikian, Islam benar-benar sesuai dengan fitrah dan tabiat manusia. Karena begitu sesuainya, az-Zamakhsyari dan an-Nasafi menyatakan, “Seandainya seseorang meninggalkan Islam, mereka tidak akan bisa memilih selain Islam sebagai agamanya.”

Lalu, mengapa ada manusia yang tidak mau menerima Islam sebagai agamanya?

Allah swt telah menciptakan manusia dengan potensi untuk mengikuti agama yang lurus. Namun setelah terlahir di muka bumi, setelah melihat merah dan hijaunya dunia manusia menjadi lupa, karena pengaruh bisikan syetan. Firman Allah swt di dalam hadis qudsi

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

Sesungguhnya aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya dan sesungguhnya mereka didatangi setan, lalu setan itu membelokkan mereka dari agama mereka. (HR Muslim).

Manusia yang tidak waspada akan mudah tertipu oleh syetan, lalu terjatuh ke dalam kesesatan. Mereka menolak kebenaran yang sesungguhnya, menuju kebenaran versi syetan yang semu.

Agar manusia tidak terpeleset oleh jerat dan rayuan syetan, maka hendaklah ia waspada dan selalu memegang teguh warisan suci dari nabi saw.

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5)إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ(6)

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.

(QS. Fathir[35]:5-6)

Kembali Pada Fitrah

Ketika manusia yang tergoda oleh syetan dan juga terkontaminasi dengan berbagai kemaksiatan yang mengakibatkan manusia merusak fitrahnya sendiri, jauh dari ketauhidan dalam agamanya maka ketika manusia itu menyadarinya maka segeralah kembali kepada fitrahnya yaitu kembali kepada Islam sebagai agama sekaligus Ideologi yang melahirkan sebuah sistem kehidupan.

Bulan ramadhan merupakan salah satu bulan yang Allah swt jadikan sebagai sarana untuk manusia mengembalikan fitrahnya agar tetap berada dalam agama yang lurus.

 

Referensi:

1.    Jamaluddin al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/151; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, III/463).

2.    Al-Faiq, III/128