Fiqh dan Perubahan Masyarakat

0
129 views

Pernah ada kasus di mana hukum yang tertulis secara jelas di dalam nash al-Qur’an tetapi tidak diterapkan dalam kenyataan karena adanya kondisi tertentu yang terjadi dan dianggap layak “merevisi” hukum yang dalam di dalam nash tersebut. Di sin lalu terjadi persoalan benturan antara teks dengan konteks. Teks mempunyai karakter tidak akan pernah berubah kapan dan di mana pun, sedangkan konteks pasti telah sedang dan akan berubah. Di sinilah masalah akan muncul.

Khalifah Umar ra. pernah menghentikan untuk sementara hukuman potong tangan bagi pencuri pada saat terjadi paceklik. Pada kesempatan lain, Umar juga menghentikan pemberian zakat kepada para muallaf karena melihat kondisi saat itu yang tidak memerlukan perlakuan tersebut.[1]

Apa yang dilakukan oleh Umar ini, dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih sekaligus pemegang kekuasaan politik, memberi tanda bahwa fiqh dapat saja berubah dengan melihat kondisi obyektif masyarakat. Pemikiran-pemikiran fiqh masa lalu tidak harus diterapkan sebagaimana adanya kepada zaman sekarang. Telah terjadi perubahan-perubahan yang signifikan dalam masyarakat masa kini yang tidak terjangkau dan belum terfikirkan pada masa lalu. Tulisan ini hendak mengidentifikasi perubahan-perubahan kondisi masyarakat yang mengharuskan terjadinya perubahan dan perkembangan fiqh atau, paling tidak, upaya ke arah  tersebut.

Fiqh Harus Berkembang

themercyhillchurch.orgFiqh[2] merupakan suatu ilmu tentang hukum syariah. Sebagai ilmu, maka fiqh akan selalu berkembang dan terbarukan oleh munculnya temuan-temuan baru. Al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi rujukan utama dalam fiqh tidak menghalangi kemungkinan perubahan atau dalam fiqh.[3] Baik ayat-ayat al-Qur’an maupun sabda Nabi secara terang dan tegas menunjukkan bahwa aturan-aturannya akan terus berlaku kepada siapapun, di manapun dan sampai kapan pun. Jika ada pertanyaan: Bukankah ayat al-Qur’an sudah berhenti saat ayat terakhir turun? Dan bukankah Sunnah sudah selesai pada saat Nabi wafat? Jawabnya adalah bahwa memang al-Qur’an telah sempurna dan Sunnah sudah selesai, namun prinsip-prinsip serta kaidah-kaidah umum yang ada pada keduanya tetap akan menjadi pedoman dalam pembuatan aturan (tasyri’) pada masa-masa sesudahnya. Prinsip-prinsip tersebut biasa disebut dengan qawa’id fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) dan qawa’id ushuliyah (kaidah-kaidah ushul fiqh).

Dengan demikian, maka perubahan dan perkembangan masyarakat yang merupakan sesuatu yang niscaya, tidak menjadi penghalang dari berlakunya aturan-aturan dan hukum-hukum syariah. Bahkan, perubahan tersebut menjadi tantangan bagi para ahli untuk menggali semakin dalam makna-makna dan inti ajaran Islam dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Jika diperhatikan lebih jauh, telah terjadi perubahan masyarakat masa turunnya al-Qur’an dengan masa di mana kita hidup.sekarang. Beberapa segi yang berubah tersebut adalah  sebagai berikut:

1. Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan pada masa pembentukan fiqh yakni masa Nabi Muhammad dan Khulafa al-Rasyidun, Umayya, dan Abbasiya,  adalah bentuk pemerintahan Islam. Saar itu, seluruh atau hampir seluruh masyarakat muslim tunduk pada pemerntahan tersebut. Dukungan politik terhadap agama sangat kuat. Hal ini jauh berbeda dengan masa sekarang di mana sistem pemerintahan telah menjadi negara-negara bangsa. Tidak ada lagi kekuasaan politik yang menjangkau seluruh umat Islam. Kebanyakan warga muslim berada di negara-negara nasional dan menjalankan agama (fiqh) dalam naungan hak asasi manusia.

2. Iklim dan Cuaca

Pembentukan fiqh terjadi di negara-negara Asia bagian Barat dan Afrika bagian Utara serta beberapa wilayah di sekitarnya. Iklim dan cuaca di wilayah tersebut secara makro cenderung panas dan kering. Kebanyakan tanah berbentuk padang pasir dengan jumlah mata air yang terbatas. Kondisi ini berbeda jauh dengan wilayah lainnya. Iklim di Indonesia misalnya, curah hujan cukup dan iklim tropis namun tidak terdapat padang pasir. Sedangkan iklim di sebagian Eropa seperti Rusia lebih dingin. 

3. Budaya

Jika budaya diartikan sebagai sistem prilaku dalam suatu masyarakat yang diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, maka dipastikan adanya perbedaan kultur di mana fiqh dibentuk dengan wilayah lainnya di mana fiqh hendak diberlakukan. Fiqh dibentuk dalam kultur Arab yang bercirikan patriarkhi, corak pakaian tertentu (tertutup) untuk mengantisipasi iklim dan cuaca,  pola  hidup sederhana, dan ciri khas lainnya. Sementara itu, budaya yang mengakar di wilayah selain Arab sangat beragam. Demikian pula dengan munculnya kesadaran dan pemahaman baru atas  konsep persamaan dan kesetaraan yang lebih kuat dari pada masa lalu.

4. Ilmu dan teknologi.

Fiqh muncul dalam suasana ilmu dan teknogi masih sederhana. Listrik dan mesin belum ada saat itu. Karena itu, fiqh masa awal tidak membahas kejahatan pornografi. Tapi saat ini kita dihadapkan pada akselesari teknologi yang sangat cepat dan terkadang di luar jangkauan kita menghadapinya.

Keempat aspek tersebut di atas dan tentu masih banyak aspek lainnya, memperlihatkan kondisi yang sangat berbeda antara masa pembentukan fiqh dengan kondisi sekarang. Kenyataan ini harus disikapi dengan kepiawaian pakar merumuskan hukum Islam (fiqh) baru yang dapat memberi solusi atas permasalah baru yang timbul. 

Beberapa Segi Perkembangan dalam Fiqh

Kita mendapati berbagai perkembangan yang signifikan dalam realitas masyarakat dibanding periode awal pembentukan fiqh. Harus diketahui bahwa perkembangan tersebut akan terus berjalan sampai di suatu titik yang belum diketahui. Maka tidak bisa ada klaim bahwa hukum fiqh tertentu akan bertahan sampai akhir zaman. Yang pasti akan bertahan hanyalah prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah umum dalam syari’at. Sedangkan berbagai hal yang bersifat teknis akan sangat terbuka menerima perubahan.

Dari sekian banyak aspek dalam hukum Islam (fiqh), terdapat 2 (dua) aspek yang rentan terhadap perubahan.

  1. Hukum perkawinan. Proses pembauran antar bangsa di dunia semakin meningkat seiring dengan kemudahan komunikasi dan transportasi. Yang mendesak untuk disikapi adalah masalah pernikahan beda agama. Saat ini banyak pro kontra tentang  hal tersebut. Tetapi, realitas masyarakat menuntut ketegasan sekaligus kemudahan dalam prosedur pernikahan tersebut. Islam membuka peluang perkawinan dengan non muslim, yaitu ahl al-kitab. (al-Ma’idah: 5). Dan yang ditutup peluangnya adalah dengan musyrik.(QS. Al-Baqarah: 221).
  2. Hukum ekonomi. Kemajuan perekonomian memunculkan metode dan aktivitas ekonomi dan bisnis baru yang menuntut legitimasi fiqh. Saat ini perbankan Islam (syari’ah) mengusahakan agar dapat maju berdampingan dengan perkembangan aktivitas ekonomi global. Prinsip utama dalam ekonomi Islam adalah adanya saling kerelaan (al-Nisa: 29) dan menjauhi riba (al-Baqarah: 275).

Tentu saja kita tidak dianjurkan untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengembangan dalam fiqh secara asal-asalan dan berlebihan. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan fiqh tersebut, antara lain:

  1. Memahami tujuan suci dan inti dari dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah yang terkait. Ahli ushul fiqh menyebut tujuan tersebut dengan istilah maqashid al-syari’ah. Untuk memahami ini, dibutuhkan keahlian di bidang bahasa Arab dan wawasan luas atas seluruh ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
  2. Dasar dari perubahan tersebut adalah untuk kemaslahatan (kebaikan) yang menyeluruh atau sebagian besar kaum muslimin. Karena itu, tidak dibenarkan  mendasarkan perubahan tersebut kepada keinginan hawa nafsu.  

Penutup

Perubahan dan pengembangan fiqh mutlak dibutuhkan. Bukan hanya karena perkembangan masyarakat. Tetapi sifat dasar dari fiqh itu sendiri yang harus berubah. Tugas para ahli agama Islam untuk merumuskan fiqh baru, baik yang berlaku umum untuk seluruh muslim di dunia, maupun yang  terbatas (khusus) untuk wilayah tertentu yang mempunyai ciri khas sendiri yang berbeda.

By Saifuddin Zuhri


[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 26.

[2] Fiqh menurut bahasa berarti  pemahaman. Menurut istilah adalah ilmu tentang hukum-hukum syariah yang bersifat praktis yang diperoleh dari dalil-dail yang rinci. Lihat Wahbah Zuhaili, Ilmu Ushul Fiqh, (Damaskus: Darul Fikr, 1996), Jilid 1, hal. 19.

[3] Ini misalnya tergambar dalam QS. Al-Nahl [16]: 89: “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu”. Demikian juga dalam QS. Al-An’am [8]: 38: “… Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. Dalam Sunnah didapati sabda Nabi Muhammad saw.: “Saya tinggalkan untuk kalian 2 (dua) hal. Jika kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Keduanya adalah al-Qur’an dan Sunnah”.(Imam Malik, al-Muwaththa’, hadis no. 1395).

BAGI
Artikel SebelumnyaMaulid
Artikel BerikutnyaPembuka Pintu Surga