Filsafat Ibn Rusyd: Pergulatan Agama-Filsafat

0
33 views

Ibn Rusyd (1126-1198) memang bukan filosof Islam tersohor yang pertama, juga kita bisa mengatakan bahwa ia bukanlah yang terbesar di antara sekian banyak filosof Islam. Ibn Rusyd, nama lengkapnya adalah Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd; di Barat dan di dalam literatur Latin dikenal dengan nama Averroes. Ia dilahirkan di Cordova pada 520 H (1126 M) dari keluarga alim yang menganut Mazhab Maliki, mazhab yang sangat dominan dalam wilayah Maghribi dan Andalusia ketika itu. Kakeknya dari pihak ayah pernah menjadi kepala pengadilan di Andalusia, di samping sebagai ahli hukum terkemuka dari Mazhab Maliki. Dari keluarga inilah Ibn Rusyd mewarisi tradisi intelektual yang sangat kuat, sehingga ia menjadi salah satu tokoh yang sangat disegani. Ibn Rusyd wafat di Maroko pada tanggal 9 Safar 595 H (10 Desember 1198 M). Tiga bulan setelah kematiannya, jenazahnya dipindahkan ke Cordova dan dikebumikan di pekuburan keluarganya.

Ibn Rusyd mulai belajar fikih di bawah bimbingan ayahnya, Abu al-Qasim, sehingga dalam usia yang masih muda ia sudah menghafal ­al-Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu, ia belajar ilmu kedokteran kepada Abu Ja’far Harun dan Abu Marwan ibn Jarbun al-Balansi, sedangkan logika, filsafat, dan teologi ia tekuni melalui Ibn Thufail. Ia juga mempelajari sastra Arab, matematika, fisika, dan astronomi.

Ibn Rusyd, dalam literatur filsafat, dikenal sebagai penafsir pemikiran Aristoteles, dan karena itu ia dijuluki “komentator Aristoteles” (The Commentator). Dalam pandangannya, Aristoteles adalah manusia istimewa dan pemikir terbesar yang telah mencapai tingkat kebenaran paripurna. Ibn Rusyd berkeyakinan bahwa jika filsafat Aristoteles dapat dipahami dengan sebaik-baiknya, pasti tidak akan berlawanan dengan pengetahuan tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia.

Sekalipun Ibn Rusyd dikenal sebagai Komentator Aristoteles, tetapi bukan berarti ia sangat memahami pikirannya. Ketidakmampuan Ibn Rusyd dalam Bahasa Yunani, dimana buku-buku Aristoteles ditulis dalam bahasa itu, menjadi alasannya. Ia lebih banyak mempelajari pemikiran Aristoteles melalui buku-buku terjemahan dan ulasan-ulasan para ahli. Al-Iraqi mengatakan, “Ibn Rusyd tidak mengenal bahasa Yunani, oleh karena itu ia mempergunakan terjemahan-terjemahan para ahli seperti Hunain ibn Ishak, Yahya ibn Ady, dan Abu basyar Mata, lalu ia membandingkan terjemahan-terjemahan tersebut sehingga ia menemukan yang lebih kuat di antaranya”. Terlepas dari itu, Ibn Rusyd berusaha membersihkan pemikiran Aristoteles dari ketercampuran dengan pemikiran Plotinus, dan termasuk kesalahpahaman dari pemikir-pemikir Islam yang dikritik oleh Ibn Rusyd, seperti Al-Farabi dan Ibn Sina.

Filsafat Ibn Rusyd, seperti juga pendahulunya, berusaha memadukan dan menyelaraskan antara filsafat dan agama. Para filosof berkeyakinan bahwa antara agama dan filsafat bukan hanya tidak ada pertentangan bahkan ada harmoni. Sudah jamak diketahui bahwa ada sekian banyak ketidaksenangan dan kecurigaan yang mengemuka terhadap filsafat. Sejak corak berpikir rasional yang dibawa oleh Mu’tazilah hingga tampilnya para filosof, selalu ada anggapan bahwa pemikiran-pemikiran yang dilahirkan cenderung menjauhkan orang dari ajaran Islam yang benar. Serangan paling nyata ditunjukkan oleh al-Ghazali melalui bukunya Tahafut al-Falasifah. Al-Ghazali mengecam pandangan filsafat dan menuduh filosof ingin menanggalkan keyakinan agama dan mengabaikan dasar-dasar agama. Karena itu, al-Ghazali memandang para filosof sebagai ahli bid’ah. Tiga persoalan mendasar yang menjadi serangan al-Ghazali adalah tentang qadimnya alam, pengetahuan Tuhan, dan kebangkitan sesudah mati.

Sebagai seorang filosof, Ibn Rusyd berusaha mendudukkan persoalan hubungan agama dan filsafat ini serta membela para filosof dari tuduhan-tuduhan tersebut. Ibn Rusyd kemudian menulis beberapa buku sebagai counter atas tuduhan tersebut, yaitu Fashl al-Maqal fi ma Baina al-Hikmah wa asy-Syari’ah, al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah fi ‘aqa’id al-Millah), dan Tahafut at-Tahafut sebagai sanggahan langsung atas tuduhan al-Ghazali.

Pembelaan Ibn Rusyd tidak kemudian menyeretnya pada posisi ekstrim yang hanya berpegang pada rasio dengan mengabaikan agama. Ia berupaya menempuh jalan tengah dengan mengatakan bahwa syariat (agama) dan filsafat saling membutuhkan satu sama lain. Penjelasan Ibn Rusyd tentang hubungan agama dan filsafat menekankan pada; pertama, bahwa syariat dan agama mengharuskan melakukan kegiatan berfilsafat. Dalam buku Fashl al-Maqal, Ibn Rusyd mengawali kajiannya dengan mempertanyakan bagaimana hukum mempelajari filsafat dan ilmu mantik (logika). Menjawab persoalan ini, Ibn Rusyd berargumen bahwa berfilsafat tidak lain adalah mempelajari segala wujud yang tampak dengan tujuan mengambil i’tibar, sehingga bisa mengantar kepada bukti keberadaan Tuhan sebagai Pencipta. Maka kerja filsafat pada hakikatnya adalah untuk mengenal Tuhan sebagai pencipta alam. Dan di sisi lain, syariat mendorong manusia untuk melakukan penalaran terhadap alam. Banyak ayat al-Qur’an yang memeerintahkan manusia untuk menalar, merenungi fenomena alam, dan mengambil i’tibar. Di antara ayat-ayat tersebut adalah QS. Al-Hasyr/59: 2, al-An’am/7: 185, al-Ghasyiyah/88: 17-20, dan Ali Imran/3: 191.

Untuk mendapatkan i’tibar dan pengetahuan tentang Tuhan, seseorang tidak harus terikat hanya pada kebenaran yang bersumber dari Islam.  Orang-orang di luar Islam, seperti filosof-filosof Yunani, juga ada yang berhasil mencapai kebenaran dengan metode penelitian mereka. Dan Islam tidak menghalangi untuk menerima kebenaran dari mereka. Justru, jika ada yang menghalangi untuk mempelajari karya-karya filsafat pra Islam, berarti ia telah menghalangi manusia untuk masuk ke pintu pengenalan terhadap Tuhan, yaitu pintu penalaran kritis dan rasional.

Kedua, syariat menurut Ibn Rusyd mempunyai makna eksoteris yang ditujukan kepada golongan awam, sementara makna esoteris Islam yang terdapat dalam penalaran filosofis ditujukan kepada kaum terpelajar. Pembedaan makna eksoteris dan esoteris ini, menurut Ibn Rusyd, sesuai dengan tingkatan dan kapasitas kemampuan manusia dalam menerima kebenaran. Ibn Rusyd membagi tingkat rasionalitas manusia menjadi tiga kelompok, yaitu al-khitabiyah (kelompok retoris/awam), ahl al-Jadal (kelompok dialektis/teolog), dan al-burhaniyah (kelompok demonstratif/filosof). Kelompok pertama dan kedua digolongkan sebagai kelompok awam yang bermain pada makna eksoteris, sementara kelompok ketiga adalah kelompok khawwash; manusia yang berpikir kritis dan bermain pada makna esoteris.

Kebahagiaan kelompok awam terletak pada kesungguhan mereka dalam mengimani teks-teks agama dan mengamalkannya, tanpa harus mempersoalkan pertimbangan kritis dan rasionalitas; sedangkan bagi kelompok khawwash, beragama tidak hanya sekedar mengimani tetapi juga mengetahui makna-makna esoteris, melalui penalaran kritis dan rasional.

Pengelompokan ini menurut Ibn Rusyd sesuai dengan semangat ayat Q.S. an-Nahl/16:125 yang menganjurkan untuk mengajak manusia kepada kebenaran dengan jalan hikmah; pelajaran yang baik dan debat yang argumentatif.

Makna-makna esoteris yang menjadi titik pencarian kelompok khawwash bisa dicapai dengan cara ta’wil (hermeneutika). Ibn Rusyd menyadari bahwa ada ayat-ayat al-Qur’an yang secara sepintas tampak bertentangan dengan rasio. Terhadap ayat-ayat semacam ini, Ibn Rusyd menegaskan bahwa ayat-ayat tersebut harus diteliti secara komprehensif, tidak sepotong-sepotong, dan untuk itu diperlukan penakwilan. Penggunaan ta’wil dalam menelusuri makna terdalam atau tersembunyi dari ayat-ayat al-Qur’an adalah konsekuensi logis dari pernyataan syariat bahwa al-Qur’an mengandung makna lahiriyah yang tercerap dalam ayat-ayat muhkam dan makna batiniyah dalam ayat-ayat mutasyabih.

Ta’wil, menurut Ibn Rusyd, adalah  mengeluarkan suatu lafaz dari konotasinya yang hakiki, yang lahir, kepada konotasi majazi, metaforis, tanpa merusak susunan dan tata bahasa Arab. Penekanan bahwa ta’wil tidak boleh keluar dari kaedah tata bahasa Arab kiranya diperlukan untuk menghindari penyalahgunaan makna ta’wil dan tidak terseret pada penafsiran bebas yang keluar dari aturan main ta’wil itu sendiri. Ibn Rusyd memandang perlu tata aturan ini demi kebaikan agama dan filsafat sekaligus. Penylahgunaan atas nama takwil hanya akan menyeret agama semakin jauh dari maknanya yang sebenarnya (tidak akan mencapai makna esoterisnya) dan akan semakin menebalkan tuduhan penyimpangan pada filsafat.

Dengan penjelasan di atas, jelas bahwa Ibn Rusyd berusaha menempatkan agama dan filsafat pada posisinya masing-masing dan membangun jembatan untuk menghubungkan keduanya secara harmonis.