Fanâ’

0
521 views
indonesiadivingschool.wordpress.com

Dr. Abd. Muid N., MA.

Apa sesungguhnya realitas itu? Apakah yang kita anggap realitas adalah bangunan solid yang disusun lewat semen nalar kita dan bahan bangunan itu berasal dari susunan batu bata yang adalah hasil persepsi inderawi kita terhadap sekitar?

Seorang bernama Ibn ‘Arabi meragukannya. Di dalam karya Toshihiko Izutsu, Sufisme: Samudra Makrifat Ibn ‘Arabi (Bandung: Mizan, 2016) disebutkan Ibn ‘Arabi meragukan jika yang kita anggap realitas itu adalah sungguh-sungguh realitas.  Alasannya, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Semua manusia tertidur (di dunia ini); setelah mati barulah mereka terbangun”. Berdasar Hadits itu, Ibn ‘Arabi menyatakan bahwa yang kita anggap realitas itu sesungguhnya adalah ilusi, imajinasi, khayâl. Jangankan anggapan itu, diri kita yang mengungkapkan anggapan itu bahkan juga adalah imajinasi belaka. Karena itu, keseluruhan alam eksistensi ini adalah “imajinasi di dalam imajinasi”.

Kembali merujuk kepada Hadits di atas, jika di kala hidup manusia tertidur, maka sesungguhnya yang dianggap oleh manusia sebagai realitas hidup adalah mimpi. Dan sebagaimana mimpi, kata Ibn ‘Arabi, realitas hidup ini pun mesti ditakwilkan. Dengan cara itulah kita bisa memahami apa sesungguhnya kehidupan itu. Bagaimana cara menakwilkan realitas hidup? Ibn ‘Arabi menawarkan sebuah cara yang dinamainya fanâ’ (peniadaan diri).

Saya tidak memahami persis konsep fanâ’ Ibn ‘Arabi. Saya hanya bisa mengira-ngira fanâ’ (peniadaan diri) adalah upaya untuk lepas dari jerat realitas semu. Dan itu dilakukan dengan tiga tahap. Pertama, manusia meniadakan sifat manusiawinya. Kedua, manusia meniadakan dirinya, dan ketiga, manusia melekatkan dirinya pada Allah SWT.

Tahap pertama ibarat upaya pembersihan diri dari segala kepentingan diri. Kita tahu bahwa betapa pandai kepentingan diri bersembunyi di balik klaim-klaim kebenaran, perjuangan, keummatan, jubah-jubah kesucian, panji-panji keagamaan, dan sebagainya.

Tahap kedua adalah tahap di mana segala kepentingan diri telah tiada dan tinggallah diri itu sendiri. Diri sendiri itupun perlu ditiadakan karena di hadapan Allah SWT tidak satupun yang ada kecuali Allah SWT semata.

Tahap ketiga adalah tahap di mana manusia kembali mendapatkan dirinya yang pada tahap kedua telah ditiadakannya. Namun dirinya kali ini berbeda. Dirinya kali ini adalah diri yang tersucikan dari sisa ego dan kepentingan pribadinya yang dulu pernah ada. Diri yang telah lepas dari jerat-jerat realitas semu. Diri yang telah terbagun dari dunia mimpi.[]

Bahan Bacaan

Toshihiko Izutsu, Sufisme: Samudra Makrifat Ibn ‘Arabi, Bandung: Mizan, 2016.

BAGI
Artikel SebelumnyaTahniah
Artikel BerikutnyaMerambat