Fadhilah Haji

0
55 views

salafiyunpad.wordpress.comJamaah haji Indonesia dan dari berbagai belahan dunia sudah mulai berdatangan ke Tanah Suci Makkah dan Madinah. Suatu kebahagiaan tersendiri bila sebagai muslim kita bisa melaksanakan ibadah yang menjadi puncak pengalaman rohani seorang muslim. Bagi kita yang belum menunaikan ibadah yang mulia ini, jangan ada perasaan berkecil hati akan kemungkinan kita bisa menunaikannya meskipun ibadah ini kita rasakan sebagai ibadah yang harus disertai dengan pengorbanan harta dalam jumlah yang cukup mahal.  Namun bila kemauan kita kuat dan berusaha secara maksimal, insya Allah ibadah ini bisa kita laksanakan.

Ongkos Naik Haji (ONH) biasa dari negeri kita sekitar Rp 30 juta. Bila kita menabung sebesar Rp 250.000, maka dalam satu tahun kita bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp 3 juta. Bila demikian, dalam waktu 10 tahun kita sudah bisa menunaikan ibadah ini, dan menabung Rp 250 ribu tidaklah besar bila dibandingkan biaya merokok yang tidak cukup Rp 300 ribu setiap bulan atau kredit sepeda motor yang Rp 500-650 ribu. Ibadah ini memang harus kita laksanakan, salah satunya karena  fadilah atau keutamaannya yang besar.

Ketika kita belum bisa menunaikan ibadah haji, jangan kita katakana bahwa kita belum dipanggil oleh Allah swt, sebenarnya setiap kita sudah dipanggil untuk menunaikan ibadah haji, namun masalahnya kita ini merasa terpanggil atau tidak dan bila terpanggil, maka kitapun akan berusaha semaksimal mungkin dengan cara-cara yang baik. Telah dipanggilnya kita untuk menunaikan haji disebutkan dalam firman Allah swt yang artinya: Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh (QS Al Hajj [22]: 27).

Secara harfiyah, fadilah berasal dari kata fadl yang bermakna az ziyadah ‘an al iqtisar, yakni kelebihan, keistimewaan atau keutamaan dari sesuatu yang sederhana. Penggunaan kata fadilah seringkali dihubungkan dengan amal sehingga disebut dengan fadilah amal atau keutamaan dari amal-amal yang kita lakukan.      

Keutamaan Haji

Dalam konteks ibadah haji, ada keutamaan yang membuat kita ingin melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya, antara lain; Pertama, ibadah haji merupakan salah satu amal yang paling utama. Dalam banyak hadits, Rasulullah saw menyebutkan tentang amal-amal yang utama, salah satunya adalah menunaikan ibadah haji. Dalam satu hadits, dikisahkan:  

 

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: اَلإِيْمَانُ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟.َقَالَ: أَلْجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللهِ. قِيْلَ: ثُمَّ مَاذَا؟.َقَالَ: حَجٌّ مَبْرُوْرٌ

 

Rasulullah saw ditanya tentang amal yang paling utama. Maka ujarnya: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Orang itu bertanya lagi: “Kemudian apa?”. Rasul Menjawab: “Berjihad di jalan Allah”. Orang itupun bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?”. Jawab Nabi: “Haji yang mabrur” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra).

Kedua, bagian dari jihad di jalan Allah. Haji juga disebut sebagai ibadah yang derajatnya sama dengan jihad fi sabilillah, karenanya apabila seseorang terutama orang tua, orang yang lemah dan wanita mati sewaktu menunaikan ibadah haji, bisa saja digolongkan matinya itu seperti mati syahid. Dalam satu hadits dijelaskan:

 

أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّى جَبَّانٌ وَ إِنِّى ضَعِيْفُ فَقَالَ: هَلُمَّ إِلَى جِهَادٍ لاَ شَوْكَةَ فِيْهِ أَلْحَجُّ

Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw, katanya: Saya ini penakut dan saya ini lemah. Ujar Nabi: Ayolah berjihad yang tidak ada kesulitannya, yaitu menunaikan haji (HR. Thabrani dari Husein bin Ali).

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda:

 

جِهَادُ الْكَبِيْرِ وَالضَّعِيْفِ وَالْمَرْأَةِ أَلْحَجُّ 

 

Jihad orang yang tua, lemah dan wanita ialah menunaikan haji (HR. Nasa’i).

Oleh karena itu mengeluarkan dana untuk menunaikan ibadah haji juga termasuk mengeluarkan dana untuk perang di jalan Allah swt sebagaimana terdapat dalam hadits Nabi saw:

 

أَلنَّفَقَةُ فِى الْحَجِّ كَالنَّفَقَةِ فِى سَبِيْلِ اللهِ أَلدِّرْهَمُ بِسَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

 

Mengeluarkan biaya untuk keperluan haji sama dengan mengeluarkannya untuk perang di jalan Allah: satu dirham menjadi tujuh ratus kali lipat (HR. Ahmad, Thabrani dan Baihaqi).

Ketiga, dapat menghapuskan dosa. Setiap orang yang berdosa tentu ingin agar dosa-dosanya terhapus atau diampuni Allah swt, ibadah haji merupakan ibadah yang dapat menghapuskan dosa-dosa orang yang melaksanakannya, bahkan bisa seperti bayi yang baru dilahirkan, yakni dalam keadaan tidak punya dosa, Rasulullah saw bersabda:

 

مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

 

Barangsiapa mengerjakan haji dan ia tidak bercampur pada waktu terlarang serta tidak berbuat maksiat, maka ia akan kembali seperti saat dilahirkan ibunya (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, menjadi duta-duta Allah. Salah satu bentuk kemuliaan jamaah haji adalah disebut sebagai duta-duta Allah sehingga hubungannya kepada Allah menjadi sangat dekat, karena itu manakala seorang jamaah haji berdo’a, apalagi berdo’anya di tempat-tempat yang mustajabah, maka insya Allah akan dikabulkan, Rasulullah saw bersabda:

 

أَلْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ إنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَ إِنِ اسْتَغْفَرُوْهُ غَفَرَ لَهُمْ   

 

Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan duta-duta Allah. Maka jika mereka memohon kepada-Nya, pastilah dikabulkan-Nya dan jika mereka meminta ampun, pastilah diampuni-Nya (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah).

Kelima, memperoleh balasan surga. Bisa masuk ke dalam surga merupakan dambaan setiap muslim. Karena Allah telah menyebutkan jamaah haji sebagai duta Allah dan memperoleh ampunan, maka kepada orang yang sudah menunaikan haji dengan baik akan dianugerahi oleh Allah surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan, Rasulullah saw bersabda:

 

أَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إلاَّ الْجَنَّةُ

 

Umrah kepada umrah menghapuskan dosa yang terdapat diantara keduanya, sedang haji yang mabrur tidak ada ganjarannya selain surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan keutamaan yang sangat besar, seharusnya kesempatan menunaikan ibadah haji yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup dapat dilaksanakan oleh kaum muslimin dengan sebaik-baiknya dan orang yang belum bisa menunaikan ibadah haji jangan berkecil hati untuk kemungkinan bisa menunaikannya.

Drs. H. Ahmad Yani

Email: ayani_ku@yahoo.co.id