Facebook

0
23 views

Oleh Abd. Muid N.

Sebagaimana sebuah brand terkenal, Facebook lalu melahirkan pro dan kontra (dan juga ada yang tidak peduli dan berkata: Emang gue pikirin). Motif yang melatarbelakangi ketidaksukaan terhadap Facebook juga beragam, ada yang bermotif agama, ras, ekonomi, hingga politik. Sebuah artikel berjudul: Fenomena Facebook di Indonesia di grelovejogja.wordpress.com adalah salah satu contoh ulasan menarik tentang Facebook ini.

Saya lalu teringat buku yang terlahir di tahun 1995 karya Mark Slouka yang diterbitkan versi Indonesianya oleh Mizan pada 1999 dengan judul Ruang yang Hilang: Pandangan Humanis Tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan. Buku ini adalah respon resah atas kehadiran mayantara di dunia nyata. Slouka meramalkan bahwa mayantara ini nantinya akan memakan habis dunia nyata sehingga manusia akan lebih memilih hidup di dunia maya daripada di dunia nyata, lebih memilih untuk hidup “menyendiri” di depan komputer dengan imajinasi sedang berkomunikasi dengan “komunitas” interansional maya lewat internet daripada berinteraksi dengan keluarga, tetangga, dan warga sekitar wilayahnya.

Seperti apa contohnya? Mungkin seperti para penumpang di dalam sebuah bus kota. Tak seorang pun di antara mereka yang saling bertegur sapa atau hanya bertukar senyuman. Hal seperti itu adalah hal yang tabu. Dan bukan berarti mereka benci sapa dan sepontong senyum. Para penumpang itu lebih memilih untuk bertukar sapa dengan relasi yang jauh di sana lewat koneksi internet di handphone masing-masing.

Bagi Slouka, itu berbahaya karena akan melahirkan individu-individu yang terasing dari dunia sosialnya (dari kawan sebus kotanya) dan bahkan terasing dari dirinya sendiri karena hidup menyendiri seperti itu bukan karakter manusia sesungguhnya.

Di tahun yang sama dengan kelahiran buku dan kerisauan Mark Slouka itu, lahir pula situs jejaring sosial yang pertama, Classmates.com dan kini semakin berkembang sampai lahirnya Facebook (lihat ridwanforge.net). Jika Slouka mengkhawatirkan runtuhnya dunia sosial manusia akibat tersedot ke dunia maya, maka mungkinkah situs jejaring sosial itu solusinya? Kata Slouka, tidak. Jejaring itu menawarkan hubungan sosial semu karena manusia tidak benar-benar “bertemu”. “Perjumpaan” seperti itu hanya diwakili oleh font-font yang disedikan oleh komputer. Di sana tidak ada keterlibatan emosional yang intens.

Situs jejaring sosial tidak mempunyai jiwa dan karena itu, ia menjadi dinding penghambat bagi komunikasi dua atau lebih pihak secara psikologis. Mereka yang tersedot ke dalam dunia maya dan lalu tidak mengacuhkan kehidupan sosialnya akan menderita secara psikologis meski tidak menyadarinya.

Tidak akan sama hiburan bagi seorang sedang bersedih antara dihibur lewat kata-kata dalam e-mail daripada sedikit usapan di punggung dari seorang sahabat. Sepucuk e-mail tidak akan pernah bisa menawarkan selembar saputangan untuk menyeka air mata kesedihan, kecuali secara artifisial.

Slouka tidak mengusulkan agar manusia meninggalkan dunia maya. Slouka hanya ingin kita membatasi diri agar tidak ketergantungan. Apapun yang berlebihan pasti membinasakan. Al-Qur’an berkata: Berlebih-lebihan telah membinasakan kamu (QS. Al-Takatsur [102]: 1).