Esposito Lagi!

0
41 views

Setelah membaca ulasan buku yang menarik oleh Fitriah dalam www.nuansaislam.com yang berjudul Saatnya Muslim Bicara!, tentang buku John L. Esposito yang berjudul Saatnya Muslim Bicara!, satu kalimat yang tiba-tiba muncul dalam benak saya adalah: “John L. Esposito Lagi!”. Ya, salah seorang Barat non-Muslim yang paling sering bicara tentang Islam adalah John L. Esposito, paling tidak untuk ukuran buku-buku berbahasa Indonesia karena sangat banyak buku-buku Esposito yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebutlah misalnya Islam dan Politik yang telah menjadi rujukan klasik tentang politik di dunia Islam yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada 1990. Atau buku yang melegenda: Ancaman Islam: Mitos atau Realitas?, terbitan Mizan, 1994. Lalu salah satu yang sangat berguna adalah karya besar Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern yang terdiri dari 6 (enam) jilid dan 2308 halaman. Dalam edisi bahasa Indonesia, ensiklopedi ini diterbitkan oleh Penerbit Mizan, 2001.

Bagi dunia intelektual Islam, Esposito sangat tidak asing. Spesialisasinya sebagai pakar Islam, politik Islam, dan pengaruh gerakan-gerakan Islam dari Afrika Utara hingga Asia Tengga dan belakangan juga turut menuangkan pemikiran dalam hal Islam di Barat, membuat Esposito banyak melahirkan karya dalam bentuk buku dan artikel. Dalam kepakarannya ini, Esposito dianggap sangat mampu menampilkan dan mengamati Islam secara objektif sehingga pemikirannya banyak dirujuk oleh baik umat Islam maupun Barat. Di Indonesia, buku-buku Esposito diterbitkan oleh penerbit-penerbit semisal Mizan, Bulan Bintang, dan Paramadina yang bisa dinggap sebagai penerbit dengan ideologi modernisme yang kental. Namun Esposito juga cukup popular di kalangan mereka yang bisa dianggap berseberangan ideologi dengan–katakanlah–penerbit-penerbit yang disebutkan tadi. Bisa disebut di sini, situs www.hidayatullah.com yang dalam salah satu artikelnya yang berjudul Ketika Islamophobia Landa Amerika, mengutip pemikiran-pemikiran Esposito dalam kerangka mendukung.

Posisi Esposito yang sering mencoba memahami gerakan-gerakan Islam, termasuk terorisme, secara empatik, membuatnya dicurigai sebagai seorang apologist for militant Muslim (pembela Muslim militan). Beberapa kutipan pendapat Esposito dianggap bernada seperti itu. Misalnya, di suatu ketika Esposito pernah mengatakan bahwa tidak tepat memfokuskan penyelesaian terorisme dengan mengejar Osama bin Laden karena banyak persoalan internasional lain yang turut membidani lahirnya terorisme. Bagi pengeritiknya, Esposito telah memberi “ruang” dan juga “alasan” bagi para aktivis gerakan Islam lewat pemikiran-pemikirannya.

Dari beberapa buku Esposito yang sempat penulis amati, tampak bahwa pengembaraan intelektual Esposito ke dunia Islam dan realitas Muslim di dalamnya talah sampai pada kesimpulan bahwa Islam tidak seragam, tidak monolitik. Karena itu, Esposito tidak bisa menerima penyamaan begitu saja antara Islam dengan terorisme atau fundamentalisme. Di dalam buku Esposito yang berjudul Islam: The Straight Path–yang dalam edisi Indonesia diterbitkan dengan judul (yang tepat): Islam Warna-Warni–Esposito menggambarkan betapa Islam yang berawal dari sosok jujur dan sederhana bernama Muhammad telah berkembang jauh menjadi agama nomor dua dunia dan mempunyai pososi politik yang tidak remeh. Kenyataan bahwa dunia semakin mengglobal tidak lagi memungkinkan untuk memahami sesuatu–termasuk Islam–secara parsial. Apalagi dunia global memaksa setiap kelompok manusia untuk hidup dalam saling ketergantungan. Dalam buku Islam: The Straight Path yang bertabur ayat-ayat suci Al-Quran yang dikutip penulisnya secara kontekstual ini, Esposito menegaskan pula bahwa terorisme hanya sebagian kecil dari sejarah peradaban Islam yang kaya dan panjang. Justru yang terbesar adalah sumbangan Islam bagi peradaban dunia.

Karena itu, mungkin berlebihan menyebut Esposito sebagai apologist for militant Muslim, namun lebih tepat disebut sebagai juru bicara Muslim di Barat. Sebutan ini juga bisa disematkan kepada orang-orang seperti Karen Armstrong dan Annemarie Schimmel. Dalam buku What Everyone Needs to Know About Islam, Esposito bahkan berperan sebagai seorang guru Muslim yang mencoba menjelaskan sangat banyak hal tentang Islam yang sering masih tidak terlalu dipahami dengan baik oleh Barat seperti tentang keyakinan dan pribadatan orang Muslim, hubungan Islam dengan agama lain, budaya umat Islam, tentang terorisme dan kekerasan, politik Islam, hingga bagaimana keadaan umat Islam di Barat. Buku ini disusun dengan sub judul berupa petanyaan-pertanyaan yang jumlahnya sekitar 90-an dan jawabannya oleh Esposito adalah isi buku tersebut. Di antara pertanyaan-pertanyaa itu adalah: Apakah Muhammad sebagai nabi sama dengan nabi-nabi yang ada dalam Bible? Apa yang Muslim yakini tentang Maryam dan Nabi Isa? Apa itu masjid? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Di tahun 2003, Islam Societies of North America (ISNA) memberikan penghargaan kepada Esposito atas pendampingan dan dukungannya terhadap nilai-nilai Islam yang sebenarnya, termasuk upayanya untuk menjelaskan berbagai mitos tentang masyarakat dan budaya Islam. Di kesempatan itu, Sekjend ISNA, Dr. Sayyid Syeed memberi gelar kepada Esposito sebagai “Abu Thalib Abad 21”. Ya, Islam awal mempunyai seorang pembela yang tidak kenal menyerah bernama Abu Thalib, paman Nabi Muhammad saw..

Di pertemuan itu, Esposito melontarkan komenter pedas kepada umat Islam dan juga Barat sekaligus. Katanya, “Ada saja orang-orang yang berbicara ketika makan malam tentang Palestina, Irak atau wilayah-wilayah dunia Islam lainnya yang dirundung masalah, lalu pulang ke rumahnya dan merasa baik-baik saja.” Esposito ingin mengatakan bahwa masalah-masalah itu adalah masalah dunia dan juga masalah seorang Esposito.

Esposito seorang pembela Islam? Ya, benar. Tapi dia Abu Thalib, sebagaimana kata Dr. Sayyid Syeed. Sebagai orang yang memahami sejarah Islam dengan baik, Esposito tentu kenal baik siapa Abu Thalib, seorang dengan jasa selangit kepada perjuangan Islam tetapi–sebagaimana diyakini beberapa kalangan–tidak cukup membuatnya masuk surga. Apapun itu, Esposito tetap pembela Islam yang sangat baik.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi

Daftar Bacaan:

Amran Nasution, “Ketika Islamophobia Landa Amerika”, dalam http://www.hidayatullah.com/kolom/sudut-pandang/13080-ketika-islamophobia-landa-amerika, diakses pada 14 Oktober 2010

Dina Rashed, “ISNA Convention Honors Esposito”, dalam http://www.campus-watch.org/article/id/773, diakses pada 14 Oktober 2010

Fitriah, “Saatnya Muslim Bicara!”, dalam http://nuansaislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=562:saatnya-muslim-bicara&catid=97:info-buku&Itemid=348, diakses pada 14 Oktober 2010

John L. Esposito, Islam Warna-Warni, Jakarta: Paramadina, 2004

John L. Esposito, What Everyone Needs to Know About Islam, Oxford: Oxford University Press, 2002