Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Tentang siapa yang mengesakan dan siapa yang tidak mengesakan, itu adalah perbincangan klasik yang tidak hanya terjadi ketika berhadapan antara teologi Islam dengan teologi agama lain. Dalam tradisi Islam sendiri, tiga rombongan besar dalam Islam yang terkenal dengan sebutan para faqîh, para mutakallimîn, dan para sûfî kerap terlibat polemik siapa yang mengesakan siapa yang tercemar tauhîd-nya.

Akibat keterpakuan pada ritualitas semata, para faqîh dianggap tidak sampai kepada Tuhan. Akibat utak-atik rasio untuk realitas Ketuhanan, para mutakallimîn dianggap mengerangkeng Tuhan dalam keterbatasan akal mereka. Atau akibat kecenderungan untuk tidak memisahkan secara tegas antara Tuhan dengan makhluk, para sûfî dianggap telah menuhankan segalanya. Tulisan ini tidak mampu menghakimi mana yang benar di antara mereka.

Tulisan ini hanya ingin menyampaikan bahwa fenomena di atas terjadi ketika peradaban Muslim berada pada masa kegemilangannya dan boleh disebut adikuasa dunia. Kala itu, peradaban-peradaban lain hanyalah penonton yang melongo kagum menyaksikan akrobat pemikiran canggih yang diperagakan para pemikir-pemikir Muslim garda depan. Jadilah universitas-universitas Islam didatangi dari seluruh penjuru bumi oleh para pelajar yang hendak mereguk keagungan peradaban atau hanya sekadar mencium tangan para professor Muslim, idola mereka.

Di saat puncak-puncak peradaban tidak lagi berada di tangan Muslim, menjadi hal yang aneh ketika fenomena perbincangan tentang siapa yang mengesakan dan siapa yang tidak mengesakan kembali muncul ke permukaan. Titik keanehan itu ada pada konteksnya, bukan materinya. Disebut aneh karena tidak akan lagi ada yang akan dan yang sedang melongo dan menganga kagum melihat fenomena itu.

Mempertanyakan fenomena itu pernah dilakukan oleh Muhammad Iqbal, pemikir kelahiran Punjab di tahun 1873. Dia menyesalkan betapa bertele-tele pembahasan tauhîd yang dilakukan para pemikir Muslim klasik hingga mereka terjebak di dalam “tauhîd dalam pemikiran” dan lupa “tauhîd dalam tindakan”.

Sampai-sampai Muhammad Iqbal bersajak satiris:

Manusia merdeka tidak memiliki sesuatu pun kecuali dua kata: Lâ ilâh, namun para pemuka agama di kota adalah (sama kayanya dengan) Qarun dalam kamus Arab.

Ada nada sufistik dalam sajak Iqbal di atas. Namun barangkali Iqbal tidak sedang bersufi karena cukup tajam Iqbal mengritik sufisme sebagai penyebab kemunduran peradaban Muslim. Tapi memang Iqbal seperti ingin berkata: “Jika Allah memang satu-satunya, mengapa selain Allah (seperti diri sendiri) tampak juga begitu penting?”

Atau barangkali Iqbal ingin berkata: “Mari kita serius memajukan peradaban Muslim. Setelah itu, barulah kita peragakan kembali akrobat pemikiran yang canggih tentang Ketuhanan itu dan membuat peradaban lain kembali melongo dan menganga!”

Kita tahu. Kini kita masih sedang berada di tepian peradaban dan juga sedang berusaha merangkak masuk ke pusarannya. Menyibukkan diri pada perbincangan yang sesungguhnya merupakan makanan para pembesar peradaban—sebagaimana peradaban Muslim masa lalu—lebih merupakan tontonan yang menggelikan daripada tuntunan yang memesonakan.[]

Bahan Bacaan

Annemarie Schimmel, Sayap Jibril: Gagasan Religius Muhammad Iqbal, terjemahan Shohifullah, Yogyakarta: Lazuardi, 2003

BAGI
Artikel SebelumnyaMarah
Artikel BerikutnyaSumpah