Episentrum Ramadan

0
47 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Bagi sebagian orang, kosa kata “Ramadan” mungkin belum menjadi bahasa sehari-hari hingga detik ini. Ramadan tidak lebih dari nama salah satu bulan pada kalender kamariah. Namun bagi sebagian yang lain, Ramadan sudah menempati salah satu pusat perhatian mereka dan hampir di setiap kesempatan melantunkan doa: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami hingga Ramadan.” Di dalam hati terdalam mereka ada rasa was-was jika umur tidak cukup panjang untuk menggapai bulan penuh rahmat itu.

Episentrum Ramadan memang berbeda-beda di setiap tempat dan hati. Seingat saya, semasa kecil di kampung, kata “Ramadan” sudah menjadi pembicaraan rutin sejak di hari-hari seperti saat ini. Hampir setiap aktivitas berada dalam kerangka Ramadan. Masjid dibersihkan, rumah dicat, pakaian dan sarung dibeli, agenda ibadah disusun, dan sebagainya.

Bagi media massa dan pusat-pusat perbelanjaan serta supermarket, magnet Ramadan juga sudah mulai terasa dengan dimulai maraknya iklan-iklan yang bertema makanan dan minuman dan iklan lagu-lagu religius serta busana muslimah. Di salah satu iklan sirup, kosa kata “mudik” bahkan sudah mulai disebut-sebut walau lebaran masih sangat lama.

Di satu hari beberapa hari lalu, ada liputan selebritas yang sedang take vocal untuk sebuah album religius. Sebagaimana jamak diketahui bahwa bulan Ramadan adalah salah satu momen panen bagi para perajin hiburan karena permintaan akan lagu-lagu keagamaan juga meningkat. Dalam hal ini, momen Ramadan sama dengan momen tahun baru, liburan, dan sebagainya.

Namun ada yang menarik dari liputan tersebut yaitu bahwa sang selebritas take vocal dengan busana “seadanya” (kurang sopan) dan diliput oleh media massa. Di sana nampak meski lagu yang dinyanyika bernuansa religius dan mungkin juga bernuansa Ramadan, namun magnet religiusitas dan Ramadan tidak pernah menyentuh lagunya dan bahkan penyanyinya.

Antara penyanyi, lagu dan konteks ada jurang yang dalam hingga terpecah begitu saja tanpa makna walaupun pastinya ketika lagu itu terbit dalam bentuk video klip, unsur-unsur penyanyi, lagu dan konteks kembali “menyatu” secara artifisial, untuk tidak menyebutnya palsu.

Palsu karena penonton disuguhkan kesyahduan audio visual lewat lirik yang terdengar shalih, gaya dan potongan pakaian yang terlihat baik, dan konteks Ramadan yang memang mengkhusyukkan. Padahal semua itu sebenarnya adalah bagian-bagian yang terpisah sama sekali. Tidak ada hubungan antara lirik yang syahdu dengan pakaian sopan apalagi dengan Ramadan.

Episentrum Ramadan memang berbeda-beda di setiap tempat dan hati.[]