Energi Tahun Baru di Malam Qadr

0
45 views

by Abd. Muid N.

Para ahli keislaman asing sering mengartikan Laylah al-Qadr dengan Night of Power (Malam Kekuasaan/Kekuatan) dan Night of Destiny (Malam Penentuan Nasib). Kedua istilah ini bermuara pada satu pemahaman bahwa  Laylah al-Qadr  adalah malam di mana ada pusaran energi besar yang kekuatannya mampu menentukan nasib alam raya—termasuk manusia—puluhan tahun berikutnya, atau paling tidak setahun setelah malam tersebut. Karena itu, siapapun yang mampu menyerap energi pada malam itu, maka akan mampu menentukan hari-harinya di masa datang. Semakin banyak energi yang dia serap semakin banyak pula potensi yang dia kumpulkan untuk menjadi manusia yang lebih baik di masa datang. Tidak heran jika para ahli keislaman asing tersebut menganggap Laylah al-Qadr sesungguhnya adalah Malam Tahun Baru.

Ada makna yang menghubungkan antara puasa dengan i’tikâf. Dalam bahasa Arab, puasa disebut shiyâm atau shawm. Shawm ini dianggap mempunyai hubungan dengan kata lain dalam bahasa Arab yaitu shamt, yang berarti “diam”. Dalam arti diam, menetap, dan berhenti inilah puasa berhubungan erat dengan i’tikâf. Di dalam bahasa Indonesia, kata “puasa” dianggap mempunyai hubungan bahasa Sansekerta “upavasa” yang berarti “berdiam, tinggal, lebih dekat dengan diri”. Di dalam bahasa Inggris, berhenti sejenak kadang disebut pause, yang secara sepintas mirip dengan “puasa” dalam bahasa Indonesia. Keduanya bermakna sama, yaitu berhenti sejenak.

Puasa mengajarkan kita latihan jiwa dengan cara berhenti sejenak. Dengan berpuasa, kita banyak melakukan perhentian. Biasanya di siang hari kita makan dan minum. Puasa membuat kita berhenti sejenak. Biasanya setelah shalat jamaah Isya kita pulang ke rumah. Puasa membuat kita berhenti sejenak di masjid untuk shalat tarawih. Biasanya hari-hari kita diisi dengan kesibukan material, di bulan Ramadhan kita berhenti sejenak untuk membaca al-Qur’an, berdzikir, dan mendengarkan nasihat-nasihat kebaikan. Bahkan puasa Ramadhan mengajak kita untuk i’tikâfdi sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ini adalah cara berhenti yang sangat luar biasa.

Mengapa berhenti sejenak itu penting?  Mengapa jeda itu penting?

Pertama, manusia memang memerlukan jeda dan berhenti pada setiap aktivitasnya. Contohnya, kerja pun memerlukan hari libur. Libur adalah masa jeda dan berhenti yang harus ada. Fisik dan mental manusia tidak bisa dipaksa terus-menerus bekerja tanpa henti. Keduanya butuh istirahat. Kita tahu, di jalan tol yang panjang selalu ada rest area. Jika dihubungkan dengan i’tikâf, maka i’tikâf adalah rest area yang sangat kita butuhkan sebagai manusia dalam perjalanan panjang setahun hidup kita.

Kedua, jeda dan berhenti membuka perhatian kepada hal yang detail. Dalam hidup ini kita sering gagal memahami lingkungan sekitar kita karena kita melakukan segala hal dalam hidup ini secara otomatis. Mereka yang bekerja di kantoran mempunyai pola hidup seragam. Pagi berangkat kerja, sore pulang, malam sampai di rumah dan istirahat. Paginya kembali berangkat kerja. Begitu seterusnya berlangsung secara otomatis. Bahkan hari libur pun berlangsung secara otomatis. Telah direncakan jauh hari pergi ke sebuah tempat bersama keluarga, lalu pulang dan kembali mempersiapkan pekerjaan untuk esok hari. Begitulah semua berlangsung secara otomatis, bahkan sampai liburan.

Kelebihan hidup yang otomatis seperti ini adalah rapi, terencana, dan cepat sampai tujuan. Namun kekurangannya adalah banyak detail kehidupan yang luput dari perhatian. Keteraturan ketatnya jadwal kerja sehari-hari membuat seorang lupa menyapa penjual asongan kecil di sudut jalan padahal itu tidak jauh dari rumahnya.

Atau saking sibuknya, seorang bahkan mungkin tidak mengenal siapa pengantar koran yang tiap pagi menyelipkan koran di pagar rumahnya. Atau tidak sempat berbincang dengan asisten rumah tangga yang setiap hari membersihkan rumahnya dan menjaga anak-anaknya.

Detail kehidupan ini perlu dipahami dan disapa agar manusia tidak menjadi robot tak berjiwa dan tenggelam hanya dalam urusannya sendiri-sendiri dan kalaupun melaksanakan kebajikan, dia laksanakannya secara otomatis, tanpa perasaan sama sekali.

Untuk bisa memahami detail kehidupan ini, kita perlu berhenti sejenak di sebuah tempat atau di suatu waktu agar segala hal yang sebelumnya luput dari perhatian kembali mendapatkan perhatian kita. Agar kita tahu bahwa dalam hidup ini, ternyata kita tidak sendirian.

Ketiga, jeda dan berhenti sesungguhnya adalah aktivitas mengumpulkan energi yang telah terkuras karena dipakai saat fisik dan mental terus-menerus bekerja tiada henti. Jika dihubungkan dengan i’tikâf, maka i’tikâf adalah saat-saat untuk menghimpun kembali energi yang terkuras dalam satu tahun hidup kita. Seperti menarik nafas panjang setelah lama berlari kencang.

Pada makna penghimpunan energi ini, i’tikâf berhubungan dengan Laylah al-Qadr. Kita tahu bahwa Laylah al-Qadr adalah malam diturunkannya al-Qur’an untuk pertama kali. Laylah al-Qadr sering pula diartikan dengan “malam penentuan” karena berdasar pada surah al-Dukhan (44):3-4:

Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada malam hari yang diberkati. Sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan. Pada malam itu diputuskan segala urusan yang bijaksana.

Berdasar pada ayat di atas lah Laylah al-Qadr kadang disebut Night of Power (Malam Kekuatan/Kekuasaan) dan Night of Destiny (Malam Penentuan Nasib). Disebut demikian karena itu adalah malam penentuan yang menentukan nasib manusia pada setahun mendatang sebagaimana disebutkan oleh ayat tadi. Karena itu pula, malam tersebut bisa disebut lebih mulia dari seribu bulan disebabkan potensinya yang mampu menentukan waktu-waktu lain di dalam kehidupan manusia. Jika pada malam itu, kita berpuasa dengan baik dan ber-i’tikâf atau berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi, maka energi yang terkumpul pada malam tersebut mampu menjadi bahan bakar yang menjamin daya kebaikan kita di masa-masa mendatang. Semakin banyak energi yang kita kumpulkan, semakin besar pula potensi kebaikan yang bisa diledakkannya.

Selamat Ber-I’tikâf, Selamat Datang Laylah al-Qadr, dan—mungkin pula—Selamat Tahun Baru.

Bahan Bacaan

Jane Dammen McAulife (ed.), Encyclopaedia of the Qur’an, Leiden: Brill, 2005