Energi Iktikaf, Iktikaf Energi

0
141 views
isafetynews.com

Oleh ZA Husain Cangkelo

(Peneliti The Nusa Institute Jakarta)

Setiap Ramadan, ibadah iktikaf menjadi populer. Terutama, pada sepuluh hari akhir. Meski, ulama pun menyatakan bahwa iktikaf dapat dilakukan di luar bulan suci. Cukup bersuci, memasuki masjid, berniat iktikaf lillahi ta’ala, lalu beribadah. Ibadahnya mendaras kitab suci, zikir, salat, dan doa. Seberapa lamakah? Tiada batas maksimal, menginap sampai berhari-hari sekalipun boleh. Ada ulama mengatakan, minimal durasinya sekadar membaca surah Qulhuwallah tiga kali.

Bambang, sahabat saya, telaten mengatur jadwal pribadinya. Ia mendepositkan cuti tahunan untuk beriktikaf di sepertiga bulan akhir itu. Di luar Ramadhan pun, ia beriktikaf ba’da maghrib hingga isya. Ini contoh sosok empunya niat dalam pengertian obsesi positif.

Dalam artikelnya di laman ini juga, Abdul Muid Nawawi mengetengahkan relasi iktikaf-puasa-berdiam sebagai segitiga pemantik energi yang luar biasa. Karena, berefek positif dalam jangka panjang setahun ke depan atau lebih. Terutama, secara spiritual. Di YouTube, A. Mohanna mengatakan bahwa inti gerak peradaban adalah spiritualisme. Nasaruddin Umar mengajak, “Mari puasakan jari”, dari kesibukan bersosmed. “Taklukkan iblis kecil itu!”, tegasnya. Puasa plus iktikaf berpeluang menaikkan peluang puasa jari untuk taklukkan godaan WhatsApp. Konon, setiap menjumpai problem berat dalam risetnya, Ibnu Sina lebih intens ke masjid. Saya membaca postingan Geis Assegaf bahwa banyak ilmuwan penemu adalah pengamal spiritualisme yang taat.

Iktikaf juga sebenarnya bermanfaat menghemat penggunaan energi. Energi manusia ya, energi fosil ya. Jeda sejenak yang dapat meningkatkan fokus pada gilirannya akan memacu efektivitas dan efisiensi. Energi yang dibeli masjid untuk penerangan dan pendingin menjadi “murah” sebab digunakan secara berjemaah. Di bulan ini, beredar postingan berisi daftar masjid berstatus nyaman-iktikaf. Masjid Istiqlal, masjid Sunda Kelapa, dan lain-lain. Simpelnya lagi, mampir iktikaf pasca jam kantor hingga kemacetan terurai tentu mengalihkan tenaga tinimbang nginjak rem dan gas mobil tiap setengah meter di jalan pasal macet.

Beberapa tahun lalu, diberitakan bangsa Iran menggalakkan iktikaf dalam rangka berhemat energi. Ternyata, ibadah dapat disinergikan dengan aktiviti membangun peradaban. Akankah kita menarik pelajaran?[]

ZA Husain Cangkelo adalah peneliti di The Nusa Institute Jakarta dan saat ini sedang merampungkan Doktoral di Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta