Emansipasi

0
87 views

Kesempatan kaum Hawa untuk mengenyam pendidikan dari masa ke masa sudah semakin baik dan terbuka lebar. Hal ini sangat berpengaruh pada kiprah perempuan Indonesia yang tidak melulu berkutat di ranah domestik seputar sumur dan dapur, tapi sudah jauh melangkah ke depan hampir di semua sendi kehidupan. Dan bahkan tak jarang mereka malah memimpin kaum pria.

Ya.. Pendidikan adalah kunci perubahan yang bisa mengangkat derajat menuju menuju kemuliaan. Oleh karena itu sangat wajar kalau wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca, iqra!, bacalah.

Namun sayangnya stigma yang kurang medukung disertai pemahaman yang kurang tepat terhadap definisi kodrat perempuan menjadi penyebab kultural yang membelenggu eksistensi kaum perempuan di wilayah publik. Kodrat perempuan adalah sutu keadaan khusus bagi perempuan yang tidak bisa dilakukan atau dimiliki laki-laki. Yaitu, menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Ini sesuatu yang khas dari perempuan karena sudah menjadi ketentuan atau takdir Allah.

Kodrat ini bukan berarti perempuan dibatasi geraknya dengan peran domestik. Ia boleh mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk aktif di ranah publik dan bermanfaat buat sebanyak banyaknya orang. Bagi suami-istri, peran domestik bisa dikerjakan bersama-sama bergantung pada kesepakatan. Banyak bapak yang di rumah memasak misal, dan itu bukan sesuatu yang aneh. Asalkan bisa seirama, kebersaman dan saling menghormati dalam keluarga adalah kunci sukses kebahagiaan. Sebagai imam keluarga, laki-laki tetap harus menghormati para ibu dan berusaha membangun suasana yang harmoni.

Spirit Kartini pada era modern harus ditempatkan tidak dikotomis atau tidak boleh mempertentangkan peran domestik vesus peran publik, pembagian peran adalah soal kesepakatam dan komitmen dalam keluarga, yang sama mulia.

Namun demikian bukan berarti perempuan bebas sebebas-bebasnya untuk aktif di luar rumah dengan dalih mempunyai hak yang sama untuk berkarya dengan melupakan kewajibannya di rumah. Bukan berbarti pula perempuan yang memilih menjadi “the real housewife”, yang memilih mengabdikan diri untuk suami dan anak-anaknya di rumah sebagai perempuan yang kuno, jadul, dan derajatnya lebih rendah daripada wanita karir. Toh banyak juga perempuan focus memilih stay di rumah saja, dan mereka sukses melahirkan generasi tangguh yang tidak hanya baik akhlak tapi juga menjadi menjadi pemimpin hebat pada masanya.

Lalu bagaimana sebenarnya posisi perempuan menurut Islam? Islam sendiri sangat memuliakan wanita. Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan yang terhormat kepada wanita, baik sebagai anak, istri, ibu, saudara maupun peran lainnya. Begitu pentingnya hal tersebut, Allah mewahyukan sebuah surah dalam al-Qur’an dengan nama surah an-Nisa’ (perempuan), yang sebagian besar ayat dalam surah ini membicarakan persoalan yang berhubungan dengan kedudukan, peranan dan perlindungan hukum terhadap hak-hak wanita.

Kedudukan wanita dengan pria adalah sama dalam pandangan Allah,  “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar” (al-Ahzab: 35). Berdasarkan dalil ini, Islam menjelaskan bahwa kedudukan antara wanita dan pria adalah sama, yang membedakan adalah iman dan ketakwaannya.

Islam benar-benar memperhatikan peran wanita muslimah, karena di balik peran mereka inilah lahir pahlawan dan pemimpin agung yang mengisi dunia dengan hikmah dan keadilan. Wanita begitu dijunjung dan dihargai perannya baik ketika menjadi seorang anak, ibu, istri, kerabat, atau bahkan orang lain.

Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, dan dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah Saw sebanyak tiga kali baru kemudian beliau sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah. Dari Abu Hurairah berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk menerima perbuatan baik dari saya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab, ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.’” (HR. Bukhori)

Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat-19 yang artinya: “…Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik…”

Jadi, pemahaman mengenai emansipasi perempuan harus dilihat dari berbagai aspek. tidak hanya dilihat dari aspek penuntutan hak saja, tetapi juga harus dilihat dari pemenuhan kewajiban. Perkembangan zaman mendengungkan emansipasi sebagai penuntutan hak-hak saja tetapi mengesampingkan kewajiban yang menjadi konsekuensi dari hak-hak tersebut. Contoh konkritnya, wanita diperbolehkan berkarier, tetapi juga harus memenuhi kewajibannya seperti tetap memakai hijabnya dalam bekerja dan mengetahui posisinya di berbagai peran lainnya, yakni sebagai istri dan sebagai ibu.

Dengan demikian, makna emansipasi menurut perspektif hukum islam tidak hanya menjabarkan mengenai penuntutan hak saja akan tetapi juga menjelaskan tentang kewajiban-kewajiban merupakan konsekuensi dari hak yang bertujuan untuk memuliakan wanita itu sendiri.

Emansipasi versi Kartini dan emansipasi menurut perspektif Islam sama-sama menghendaki kemuliaan derajat bagi kaum wanita. Yakni emansipasi yang memperjuangkan kesetaraan kedudukan kaum wanita dan pria tanpa melupakan kewajiban mereka. Bukan emansipasi yang membebaskan untuk berbuat apa saja sehingga melupakan kodrat dan kewajiban sebagai wanita yang justru akan merendahkan derajat kaum wanita itu sendiri. Wallahu A’lam

 

 

BAGI
Artikel SebelumnyaAlmisbah
Artikel BerikutnyaPulang