Ekonomi Islam di Tengah Ekonomi Global

0
42 views

Dalam wacana ekonomi yang dilontarkan para calon presiden di Indonesia, terdapat paling tidak 2 (dua) sistem ekenomi yang sering disebut-sebut yakni ekonomi neo-leberal dan ekonomi kerakyatan. Sistem yang pertama secara sederhana dipersepsikan sebagai sistem ekonomi yang berbasis pasar. Dalam sistem ekonomi pasar, harga dan nilai suatu komoditas ditentukan oleh pasar. Karenanya, para pelaku pasar (baca: penguasa pasar) dapat memainkan harga. Sistem ekonomi pasar ini mendominasi sistem ekonomi dunia saat ini. Sebutlah contoh misalnya harga minyak dunia, yang dalam waktu singkat bisa  melejit dari level 40 dolar Amerika sampai ke level 140 dolar Amerika.

Setelah itu, dalam waktu yang juga tidak lama, turun drastis lagi ke level 50 dolar.  Demikian pula dalam perdagangan modal (saham). Kasus saham Bumi (Bumi Resources) misalnya, harganya “terjun bebas” dari kisaran 8.000 rupiah menjadi 500 rupiah. Inilah ekonomi pasar, di mana harga dapat dipengaruhi ‘hanya’ oleh sentimen (rasa-emosional), tanpa melihat kondisi riil dari perusahaan bersangkutan.

dialoguewithislam.orgSistem ekonomi selanjutnya yang sering diwacanakan adalah ekonomi kerakyatan. Sistem ini mengandaikan suatu perekonomian yang tujuan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, terutama rakyat kecil. Sistem ini dianggap amanat dari UUD 1945 yang menggariskan sistem ekonomi untuk sebesar-besarnya meningkatkan kesejahteraan rakyat. Contoh konkrit dari sistem ini adalah sistem koperasi, dan permodalan usaha kecil.

Perbedaan mendasar dari dua sistem ekonomi liberal dan kerakyatan ini tampak pada fokus dan tujuannya. Ekonomi liberal  menjanjikan kesejahteraan bagi para pemilik modal dan orang yang ahli dalam mengelola modal (nya). Ekonomi kerakyatan lebih bersifat membantu, membina, dan memfasilitasi rakyat banyak untuk dapat hidup lebih sejahtera.

Posisi Ekonomi Islam

Sebelum sampai kepada kesimpulan dimana posisi Islam di antara kedua sistem di atas, selayaknya ditinjau terlebih dahulu beberapa prinsip dalam sistem ekonomi Islam:

  1. Aset adalah milik Allah. “.. dan berikanlah kepada mereka sebahagian harta Allah yang dikuniakan-Nya kepadamu …” (QS An Nur [24]: 33). Prinsip ini secara langsung menafikan kepemilikan mutlak manusia atas suatu aset dan komoditas.
  2. 2.    Bebas Riba. “… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …” (QS Al Baqarah [2]: 275). Meski masih dalam perdebatan, namun sistem bunga yang dianut perekonomian dunia saat ini telah menampakkan mudharat yang tidak sedikit.
  3. 3.    Keadilan sosial. “… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu …” (QS Al Hasyr [59]: 7). Prinsip ini menuntut intervensi penguasa dalam distribusi aset dan produksi kepada seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya yang bermodal.
  4. 4.    Jaminan Sosial. “… dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (QS Al Ma’arij [70]: 24-25). Prinsip ini menggariskan bahwa di dalam modal dan aset seorang pengusaha terdapat hak bagi orang lain. Jumlah hak ini  bisa dihitung, dan harus dikeluarkan atau diambil dari pengusaha tersebut. 
  5. 5.    Kerelaan dalam bertransaksi. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS An Nisa [4]: 29). Karena itu, pemaksaan dan penipuan misalnya, benar-benar terlarang dalam ekonomi Islam.
  6. 6.    Jujur, amanah, dan transparan. Nabi saw. bersabda: “Pebisnis yang jujur dan amanah akan dibangkitkan bersama para nabi, para shiddiq, dan orang-orang saleh” (HR Tirmidzi). Prinsip ini menekankan aspek moralitas dan integritas para pelaku ekonomi. Tanpa aspek ini, akan timbul tindakan korupsi, manipulasi dan sebagainya.
  7. 7.    Pemberian Kelonggaran. “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 280). Prinsip paling indah dalam ekonomi Islam adalah anjuran dan janji amat baik bagi mereka yang mau berbesar hati menangguhkan pembayaran utang bagi yang berkesusahan. Bukan, malah memberikan sanksi dan denda yang berlipat-lipat.

Jika ditanyakan kembali, di manakah posisi ekonomi Islam di antara kedua sistem ekonomi; liberal dan kerakyatan?

Setelah memperhatikan prinsip-prinsip di atas, Islam tampaknya mengambil posisi tidak sebagai tandingan (lawan) ataupun sandingan (kawan). Sistem ekonomi Islam lebih menekankan prinsip dan warna bagi suatu sistem, dan bukan merupakan sistem itu sendiri. Artinya, Ekonomi Liberal dapat  menjadi ekonomi Islam, manakala prinsip dan warnanya diselaraskan. Demikian pula ekonomi kerakyatan. Dia menjadi eknomi Islam ketika prinsip-prinsip syariah mennjadi dasar dan kerangkanya.

Ekonomi Islam berada di tataran ideologis, moralitas, dan etika, tidak pada tataran teknik operasional dan detil yang lain. Karena itu, sistem apapun, baik liberal, sosial, kerakyatan dan sebagainya, selama menerapkan prinsip-prinsip etika Islam, maka itu bukanlah cela untuk disebut sebagai Ekonomi Islam atau Ekonomi Syariah. (SZ)

BAGI
Artikel SebelumnyaSetengah Agama
Artikel BerikutnyaHati Nurani