Dzikir

0
74 views

Dzikir secara etimologi berasal dari bahasa Arab, dzakaro-yadzkuru yang berarti mengingat, mengucap atau menyebut, dan berbuat baik. Sedangkan dzikir secara istilah (terminology) adalah mengingat Allah swt dengan maksud untuk mendekatkan diri kepadaNya.

 

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani “ yang dimaksud dengan dzikir adalah mengucapkan dan memperbanyak segala bentuk lafadh yang di dalamnya berisi tentang kabar gembira, seperti kalimat : subhaanallaah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar, dan yang semisalnya, doa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dan termasuk juga dzikir kepada Allah swt adalah segala bentuk aktifitas amal shalih yang hukumnya wajib ataupun sunnah, seperti membaca Al-Qur’an, membaca Hadits, belajar ilmu agama, dan melakukan shalat-shalat sunnah”

Dzikir atau berdzikir adalah salah satu ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an dalam bentuk yang berbeda dengan ibadah yang lainnya, tidak seperti ibadah pada umummnya yang dimana perintahnya tidak mengandung pengulangan atau kuantitas ibadah itu sendiri seperti ibadah haji dan yang lainnya, tetapi dalam perintah berdzikir Allah swt memerintahkan kita untuk berdzikir dengan kuantitas yang sebanyak-banyaknya sebagaimana firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”(QS. Al-Ahzab[33] : 41).

Selain dalam Al-Qur’an Rasulullah saw dalam banyak hadis juga menganjurkan ummatnya untuk senantiasa berdzikir, bahkan karena betapa pentingnya berdzikir Rasulullah saw mengumpamakan orang yang berdzikir dangan orang yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan mati sebagaimana sabdanya:

عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذِّي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالذِّي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. dari Nabi saw, bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepadaNya ialah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu sabda Nabi s.a.w. “Perumpamaan rumah yang di dalamnya digunakan untuk berdzikir kepada Allah dan rumah yang tidak digunakan untuk berdzikir kepada Allah adalah seperti benda yang hidup dan benda yang mati.”

Adab dalam berdzikir

Tentu ibadah ini dilakukan dengan tata cara dan adab yang tidak melanggar ajaran dan etika dalam Islam. Dua hal secara umum yang menjadi syarat agar ibadah dzikir diterima di sisi Allah swt. Pertama, motivasi untuk mendapat ridha dan balasan baik dari Allah swt.

Kedua,tata cara pelaksanaannya sesuai tuntutan syariah. Tata caranya tidak berbau kesyirikan, tidak mendatangkan mafsadah (kerugian) baik terhadap pribadi maupun orang lain, tidak mengganggu kepentingan umum, dan sebagainya. Dan tentunya banyak berdzikir tidak sepatutnya mengganggu kewajiban lain, karena berdzikir adalah ibadah sunnah, yang tidak boleh mengganggu aktivitas yang wajib.

Kaifiyyat berdzikir

Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan bagaimanapun, kecuali ditempat yang tidak sesuai dengan kesucian Allah swt. Seperti bertasbih di WC. Sebagaimana firman-Nya:

إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS. Ali Imran[3] : 191).

Menurut Imam an-Nawawi   “Berdzikir adalah suatu amalan yang disyari’atkan dan sangat dituntut di dalam Islam. Ia dapat dilakukan dengan hati atau lidah. Afdhalnya dengan kedua-duanya sekaligus”.

Ulama yang lain membagi cara berdzikir dalam tiga macam:

Pertama,dzikir dengan lisan (dzikr bil al-lisan), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tasbih, tahlil dan lain sebagainya dengan bersuara.

Kedua,dzikir dalam hati (dzikr bi al qolb), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tasbih, tahlil dan lain sebagainya dengan membatin atau dalam hati. Tanpa mengeluarkan suara. Sebagian ulama menafsirkan dzikir dalam hati ini, adalah bertafakkur (memikirkan/merenungi) berbagai ciptaan Allah swt dan kenikmatannya dengan penuh keyakinan, dan perasaan tulus. Inilah dzikir yang dianjurkan oleh Rosulullah saw. Sebab itulah sebaik-baik dzikir kepada Allah swt.

Ketiga,dzikir dengan panca indra atau anggota badan (dzikr bi al-jawarih), yakni menundukkan seluruh anggota badan kepada Allah swt dengan cara melaksanakan segala perintah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Keutamaan Dzikir:

Pertama,Penangkal dari godaan syaithan

Dan Jika Syaithan mengganggumu dengan suatu ganguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat [41]:36).

Kedua,Memenuhi timbangan kebaikan di akhirat

(Ucapan) Alhamdulillah memenuhi timbangan dan (ucapan) Subahanallah wal hamdulillah keduanya memenuhi antara langit dan Bumi.”( HR. Muslim dari Abu Malik Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu)

Ketiga,Menggugurkan dosa-dosa

Barang siapa yang membaca “Subahanallahi wabihamdih seratur kali dalam sehari , akan digugurkan dosa-dosanya walaupun sebanyak buih dilautan.” (Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Keempat,Diingat oleh Allah swt

 

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ

Berzikirlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat-ingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku (atas berbagai nikmat yang Aku berikan kepada kalian) serta janganlah kalian mengikarinya. (QS. Al-Baqarah [2]:152).

Kelima,Ditambah rizkinya oleh Allah swt, diselimuti rahmat dan kebaikan

Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu, dan menggandakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh[71]:10-12).

Rasulullah bersabda,

لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.

“Tiada suatu kaum yang duduk sambil berdzikir kepada Allah melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat, diselimuti oleh rahmat dan Allah akan mengingat mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”(HR. Bukhari).

Dan masih banyak lagi keutamaan begitu juga manfaat dari dzikir kalau kita mau mempelajarinya, sebagaimana Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Wabil Ash Shayyib menyebutkan manfaat dari dzikrullah sebanyak tujuhpuluh tiga.Waktu Dzikir

Dzikir dari sisi waktu pelaksanaannya terbagi menjadi dua: pertama, dzikir muqayyad (terikat/tertentu), kedua, dzikir muthlak (bebas). Dzikir muqayyad (terikat/tertentu) dilakukan dengan jumlah yang ditentukan oleh nash hadis. Sebagaimana dzikir setelah shalat lima waktu dengan membaca subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar, masing-masing tiga puluh tiga kali, dan ditutup dengan kalimat tahlil satu kali, maka seluruhnya berjumlah seratus, dan disebutkan dalam riwayat lain dengan jumlah yang berbeda.

Adapun dzikir muthlak (bebas ) boleh dilakukan dalam jumlah yang tidak terbatas. Dan adanya pembagian kepada dzikir muthlak (bebas ) ini memberikan peluang bagi Muslim untuk sering melakukan dzikrullah. Sebagaimana Allah swt memotivasi hal tersebut seraya mengisyaratkan bahwa sering berdzikir adalah kebiasaan atau tradisi orang-orang yang “cerdas”. Allah swt berfirman:

إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (cerdas). Yaitu orang-orang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kondisi berdiri, duduk dan berbaring. (QS. Ali Imran[3]: 190-191).

Walaupun dzikir dapat dilakukan pada setiap saat, namun ada empat waktu tertentu yang sangat utama untuk berdzikir kepada Allah swt, yaitu:

Pertama,setelah sholat-sholat wajib yang lima waktu (Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’).

Dan Bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan setiap selesai sholat.(QS. Qof [50]: 40).

Kedua,Waktu pagi dan sore hari.

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak- banyak,, serta bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari”. (QS. Ali Imron [3]: 41).

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ الجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُضُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.      

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, serta dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk or¬ang-orang yang lalai.(QS. Al-A’rof [7]: 205).

Ketiga,Setelah matahari tergelincir, setelah sholat Dhuhur.

Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam hari dan di ujung siang hari, supaya kamu merasa tenang.(QS. Thoha [20]: 130).

Keempat,Pada waktu malam, terutama pada sepertiga malam yang terakhir.

“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu waktu engkau bangun, dan bertasbihlah pada sebagian malam, serta pada waktu terbenam bintang-bintang (yakni waktu fajar).’’(QS. Ath-Thur [52]: 48-49).

Sepertiga malam yang terakhir ini merupakan waktu paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Abdullah bin Mas’ud r a. mengabarkan, Rosulullah saw. bersabda,

“jika telah tiba sepertiga malam yang terakhir, Allah Yang Maha Gagah dan Maha Agung turun ke langit dunia. Kemudian dibukakan pintu-pintu langit, lalu membeberkan tangan-Nya dan berfirman: ’bila ada orang yang meminta, maka Aku kabulkan permintaannya’. Allah senantiasa berbuat demikian hingga terbit fajar’’.(HR. Achmad)