Dunia Islam dalam Himpitan Dunia Barat

0
680 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Ketakutan akan “benturan peradaban”[1] tak terelakkan antara Barat dan Islam mungkin terlalu dibesar-besarkan. Demikian menurut sebuah survei yang diadakan awal tahun 2007 lalu. Survei tersebut membuktikan bahwa sebagian besar responden memandang tidak adanya masalah dalam budaya dan kepercayaan antara Islam dan Barat, sebagaimana dikutip oleh Ian Black dalam situs guardian.co.uk.[2] Lalu politik lah yang dianggap penyebab utama perselisihan berskala internasional.

Survei yang diadakan oleh Globescan untuk BBC World Service terhadap 27 negara itu menemukan umumnya responden melihat eskalasi ketegangan antara Islam dan Barat terutama karena “konflik kekuatan politik dan kepentingan—sekitar 52%. Hanya tiga dari 10 orang (29%) yang berpendapat kalau itu diakibatkan oleh “perbedaan agama dan budaya”.

Ketika mereka ditanya tentang jika “konflik kekerasan tidak dapat dihindarkan” antara Islam dan peradaban Barat “apakah mungkin ditemukan kesepahaman”, sekitar 56% mengatakan bahwa itu sangat mungkin—menurut respon di 25 negara. Sekitar tiga dari 10 (28%) menganggap bahwa konflik kekerasan tidak dapat dihindari. Yang menarik, pandangan ini paling menonjol di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Sebagai tambahan, survei itu juga menemukan bahwa 58% ketegangan lebih dipico oleh minoritas tidak toleran, daripada perbedaan fundamental di antara dua kebudayaan.

Catatan penting yang dicatat survei itu adalah desakan untuk meningkatkan pendidikan karena itulah satu-satunya jalan untuk menjembatani gap antara Islam dan Barat.

Kenyataan tersebut paling tidak menyiratkan dua hal: beralihnya arah kecenderungan masyarkat dunia dari “benturan peradaban” (clash of civilization) ke civilizational dialogue dan optimisme akan masa depan yang baik hubungan antara Islam dan Barat.

Ironi Modernitas

Banyak kalangan pengamat yang meyakini persoalan inti hubungan antara Islam dan Barat adalah modernitas. Di satu sisi, Barat telah gagal memakmurkan dunia lewat proyek modernitasnya—namun telah banyak mendapatkan manfaat dari sana. Di sisi lain, Islam justru masih kasak-kusuk mempersoalkan akan menerima modernitas atau menolaknya.

Di Barat sendiri, modernitas sedang dikutuk habis-habisan. Meski demikian, modernitas masih mendapatkan tempat yang sangat dominan di hati dan peradaban Barat. Boleh dikata, hubungan antara Barat dan modernitas adalah benci tapi rindu. Menurut Parvez Manzoor, ini terjadi karena krisis modernitas yang terjadi di sana bukan pada kekuatan modernitas, tapi pada makna; bukan pada kemanjuran instrumennya sebagai pemicu teknologi, tapi pada legitimasi tujuan-tujuannya; bukan pada kemampuannya menjelajahi kemajuan, tapi pada moralitasnya yang terkoyak.[3]

Bangunan awal modernitas Barat yang konon dimulai oleh René Descartes di awal abad ke-17 adalah menarik cara pandang terhadap dunia dari segala sesuatu yang berada di luar manusia kepada segalanya tergantung manusia (antropomorfisme). Dampak positif dari cara pandang seperti ini adalah perkembangan ilmu pengatahuan dan tekonologi yang menjanjikan kemudahan dan kemakmuran. Namun dampak negatifnya juga sangat mengerikan. Penyakit bawaan antropomorfisme adalah pandangannya yang tidak holistik terhadap dunia karena sangat subjektif. Segalanya tergantung subjek.

Krisis yang dialami oleh dunia masa kini adalah dampak dari subjektivitas tidak holistik itu. Karena segalanya tergantung subjek dan di luar itu hanyalah objek, maka pemanfaatan objek mengacu pada kehendak subjek yang berujung pada eksploitasi. Objek bukan kenyataan; yang nyata hanya subjek. Dampak paling nyata dari cara pandang ini adalah eksploitasi alam sebesar-besarnya tanpa memandang masa depan alam; padahal itu sangat mempengaruhi masa depan manusia (subjek) sendiri.

Penyakit bawaan lain dari antropomorfisme adalah cara pandang yang hanya dua arah, oposisi binner. Antropomorfisme memandang kenyataan dunia jika bukan subjek, maka pasti objek. Jika bukan kawan, maka pasti lawan.

Di ranah politik, antropomorfisme melahirkan pandangan kawan dan lawan serta pengerukan keuntungan sebesar-besarnya. Pada tahap ini, sebenarnya, bentuk asli modernitas di mana subjek sebagai pengukir kenyataan telah bermetamorfosa menjadi kepentingan sebagai pengukir kenyataan. Saat itu, subjek kembali diatur oleh sesuatu yang berada di luar dirinya, namun kini bukan oleh hal-hal yang irrasional dan mitis tapi oleh sesuatu yang bernama “kepentingan”. Lalu di sinilah Barat berbenturan dengan Islam; kepentingan yang berlandas pada cara pandang yang salah.

Bagaimana dengan Islam? Dalam artikelnya yang berjudul Islam and the West, Roger Hardy mengutip pernyataan Suroosh Irfani, seorang intelektual Muslim dari Pakistan: “Problem dan krisis utama yang dihadapi oleh umat Islam adalah krisis modernitas.”

“Kita mempunyai akses kepada artefak modernitas seperti media, tv kabel, tape recorder, pesawat, apartemen tinggi, dan sebagainya. Tetapi kita kekurangan tiang pondasi untuk memahami apakah modernitas itu sesungguhnya.”

Bagi Irfani, problem yang dihadapi oleh umat Islam bukan “hardware” modernitas, namun pada “software”-nya. Dengan kata lain, umat Islam bermasalah dengan rasionalisme, skeptisisme, dan individualisme yang—bisa dikatakan—termasuk di antara gambaran esensial modernitas.

Di Barat, konsep-konsep ini adalah produk dari serentetan revolusi yang dimulai dari Renaissance dan reformasi yang berisikan tarik-menarik antara perang agama dan sains serta wahyu dan nalar yang menggoyang akidah dan faham tradisional tentang keluarga, jender, etika seksual, dan sebagainya hingga sampai ke Zaman Pencerahan (Enlightenment) dan Revolusi Industri yang terjadi di Amerika, Prancis, dan Rusia. Hasilnya, berdirilah negara-negara modern, nasionalisme, dan lembaga-lembaga rasional lainnya.

Mohsen Sazagara, seorang pemikir reformis Iran melanjutkan pendapat itu dengan dengan mengatakan: “Saya percaya bahwa dunia modern berazas pada sebuah konsep kunci yaitu pemikiran modern dan rasionalitas modern. Hanya saja, dunia Islam belum bisa menerima pemikiran modern. Semua institusi modern yang kita upayakan berdiri seperti parlemen, pemerintahan republik, partai politik, jurnal-jurnal ilmiah dan surat kabar itu ada. Namun tidak ril.”[4]

Di balik konsep-konsep itu ada rasionalitas modern yang bersendikan hal-hal seperti skeptisisme, rasionalisme, individualisme, pluralisme, dan lain-lain yang sulit diterima oleh umat Islam. Hassan Hanafi mengeluhkan kenyataan ini dan berkata: “Pluralisme dan liberalisme telah hilang dari kita sejak 1.000 tahun yang lalu ketika al-Ghazali datang.”[5]

Mungkin Hassan Hanafi benar, tapi itu hanya menjelaskan satu dari banyak hal. Adapun puncak masalahnya terjadi ketika modernitas terlahir di abad ke-17 dan mensahkan bahwa sains dan teknologi benar-benar milik Barat lalu diperparah kenyataan kawasan luas yang adalah negara-negara Muslim dijajah oleh Barat.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa problem utama negara-negara Arab (dan negara-negara Muslim di dunia—pen.) adalah kegagalan menyeimbangkan antara populasi yang semakin meningkat dengan penciptaan lapangan kerja. Untuk itu dibutuhkan kebebasan politik, pemerintahan yang bersih, pendidikan yang baik, dan keseriusan pemberantasan korupsi.[6]

Salah satu teori modernisasi ketika berhadapan dengan dunia Islam adalah lahirnya “totalitarianisme-baru Islam” atau “Islam reformis”. Pandangan ini berawal dari pembedaan tajam antara dua konsepsi artifisial “modernitas” dan “tradisi”. Namun banyak peneliti yang mengangga pembedaan tajam itu terlalu berlebihan atas sebuah proses interaksi yang kompleks. Di di dalam proses ini agama dan tradisi hidup berdampingan dengan pembangunan ekonomi dan kebutuhan akan sebuah masyarakat modern.[7]

Tidak cukup menyatakan reaksi berlebihan dari beberapa kelompok Muslim terhadap kenyataan yang mereka hadapi sebagai sesuatu yang secara inhern ada di dalam Islam, tapi juga harus dilihat pemicunya. Menurut Asghar Ali Engineer, secara potensial, kekerasan ada pada semua kelompok masyarakat, termasuk masyarakat industri maju, seperti Amerika. Banyak contohnya di masa lalu dan kini. Dan kekerasan yang terjadi di Palestina bukanlah produk sistem Islami yang berlangsung di sana, tetapi adalah hasil dari kebijakan politik Israel di sana.[8]

Lagi pula, kekerasan yang dilakukan oleh Islam radikal hanyalah salah satu cara oleh sementara kelompok Muslim mengkonseptualisasikan dirinya tatkala berhadapan dengan modernitas. Namun sebagian besar revivalis Islam tidak sepakat dengan gaya seperti itu.[9] Sangat besar kemungkin bahwa yang bermain di balik layar benturan adalah kepentingan yang berbaju ideologi, budaya, dan bahkan agama.

Merajut Masa Depan

Jika ingin membangun hubungan yang harmonis antara Islam dan Barat, maka Barat harus mengubah cara pandangnya terhadap dunia Islam. Barat harus menyadari bahwa tidak mungkin melakukan penyeragaman dalam bentuk apapun. Modernitas yang dianut di Barat tidak bisa secara utuh diterapkan di dunia Muslim sebagaimana yang dipahami Barat, apalagi memaksakannya.

Pemaksaan seperti ini berawal dari pandangan bawah Barat maju dan modern sedangkan Islam terkebelakang dan primitif. Pemaksaan hanya akan menimbulkan reaksi negatif, termasuk terorisme, sebagaimana selama ini terjadi. Karena itu, reaksi negatif seperti terorisme bukanlah gambaran adanya dua peradaban yang sedang berbenturan, tetapi lebih kepada perbedaan kebijakan.

Jadi, masalah utamanya ada pada kebijakan yang saat ini diterapkan Barat terhadap dunia lain dan tidak adanya sikap saling menghargai antara Islam dengan peradabannya dengan Barat dengan peradabannya pula.

Peradaban itu pada dirinya sendiri tidak akan menimbulkan benturan karena—mengutip Mustafa Al Faqi—peradaban memiliki tujuan-tujuan mulia dan murni. Yang akan selalu berbenturan adalah kebijakan (clash of policies) kedua belah pihak yang memang sangat jarang berhubungan moralitas tapi cenderung kepada kepentingan dan kekuatan yang memaksa pihak lain.[10]

Modernitas yang bersendikan semangat skeptisisme, rasionalisme, individualisme, pluralisme, liberalisme, sekularisme dan sebagainya memang adalah hal yang pasti merasuki pojok-pojok kehidupan Muslim di seluruh penjuru dunia tanpa bisa dielakkan. Namun itu tidak berarti pasti akan terjadi pula benturan yang tidak bisa dihindari.

Titik utama persoalannya tetaplah modernitas, namun sejarah membuktikan bahwa setiap terjadi pertemuan dua kebudayaan besar, maka yang akan terjadi adalah proses negosiasi. Atau mengikuti pendapat Mustafa Al-Faqi, karakter hubungan antara manusia adalah komunikasi dan integrasi. Pada peradaban, komunikasi dan integrasi terjadi pada sumber warisan kemanusiaan dan pada nilai serta tradisi bangsa.[11]

John L. Esposito mencatat memang modernitas pernah menjadi kekuatan eksternal baru yang masuk dan menduduki negeri-negeri Muslim, tapi periode pasca-1950, modernitas sudah menjadi kemapanan internal yang terwujud dalam lembaga-lembaga masyarakat dan pandangan para pemimpinnya. Tahap ini dicapai setelah melalui proses panjang fenomena krisis identitas, kekecewaan kepada Barat, perasaan bangga, dan pencarian identitas yang lebih otentik dan berakar.[12]

Mungkin itu tidak mudah untuk mendamaikan Islam dan Barat, namun mengingat bahwa Islam dan Barat sama-sama menjadikan tradisi Semitik sebagai sumber utama berfikirnya, dan pernah bersentuhan akrab dengan pemikiran Yunani, maka pasti ada jalan yang bisa dilalui, kata Muqtedar Khan. Islam dan Barat mempunyai masa lalu dan masa depan bersama, khususnya dalam hal ekonomi dan kenyataan bahwa umat Muslim hadir di setiap negara-negara Barat kini.[13]

Pada dasarnya Islam tidak pernah bermasalah dengan modernitas secara esensial maupun secara doktrinal karena Islam pernah mengalami kemajuan yang luar biasa tanpa harus menanggalkan basis-basis doktrinalnya.[14] Kenyataan sejarah yang buruk antara Islam dan Barat—terutama pada bidang politik—menyisakan trauma yang mendalam pada kedua belah pihak yang membuat keduanya bermasalah dengan kondisi psikologis masing-masing. Tinggal kini bagaimana kedua pihak menghadapinya secara arif.

(Tulisan ini pernah dimuat dalam Jurnal Bimas Islam Departemen Agama RI)

[1] Konsep “clash of civlization” dibuat oleh Samuel Huntington yang menegaskan adanya konflik peradaban, khususnya antara Barat dan Islam, sebagai pengganti konfrontasi perang dingin antara timur dan barat.

[2] Ian Black, “Clash Between Islam and West is Political: Poll Finds”, dalam http://www.guardian.co.uk/religion/, Februari 2007.

[3] Lih. Parvez Manzoor, “Islam and the Crisis of Modernity”, dalam http://pmanzoor.info/Isl-Cris-Mod-PM.htm., Juni 2000.

[4] Lih. Roger Hardy, “Islam and the West”, dalam dalam http://news.bbc.co.uk/2/hi/in_depth/world/2002/islamic_world/2188307.stm., Agustus 2002

[5] Lih. Roger Hardy, “Islam and the West”.

[6] Patrick Seale, “Can The Arabs Join The Modern World?”, dalam http://www.libyaforum.org/english/index.php?option=content&task=view&id=76&Itemid=49., Juni 2004.

[7] Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Ekspresi Politik Muslim, diterjemahkan oleh Rofik Suhud, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 35-36.

[8] Asghar Ali Engineer, “A new approach for the Islamic World”, dalam http://www.dawoodi-bohras.com/perspective/newapproach.htm., Januari 2002.

[9] Sean L. Yom, “Islam and Globalization: Secularism, Religion, and Radicalism”, dalam http://www.fes.de/ipg/IPG4_2002/ARTYOM.HTM, September 2005.

[10] Mustafa Al-Faqi, “The Harmony of Civilization and the Clash of Policies”, dalam http://www.libyaforum.org/english/index.php?option=content&task=view&id=41&Itemid=49, Februari 2004.

[11] Mustafa Al-Faqi, “The Harmony of Civilization and the Clash of Policies”. Dalam tulisan ini juga disebutkan bahwa banyak studi terhadap hubungan antarperadaban-peradaban besar yang membuktikan bahwa peradaban itu lebih mengedepankan keterbukaan daripada benturan dalam interaksinya.

[12] John L. Esposito, Islam Warna-Warni, terjemahan Arif Maftuhin, (Jakarta: Paramadina, 2004), hal. 198-199.

[13] M. A. Muqtedar Khan, “When Islam Meets West”, dalam http://www.alternet.org/story/17869/, Februari 2004.

[14] Di antara artikel yang membahas tentang Islam dan modernitasdan senada dengan pendapat ini adalah tulisan Ishtiaq Ahmed, “Islam and the Challenge of Modernity”, dalam http://www.dailytimes.com.pk/, Desember 2005.