Duka Cita

0
57 views

Cinta dan sayang Rasulullah saw kepada keluarganya, baik kepada isteri, anak maupun cucu tak perlu diragukan. Karena itu, ketika salah seorang anak laki-laki beliau yang bernama Ibrahim meninggal dunia, beliaupun amat bersedih, apalagi hal ini setelah kematian anak laki-lakinya yang ketiga dan masih kecil-kecil. Sebelumnya telah wafat Qasim dan Thahir.

Anas bin Malik ra menceritakan: “Aku melihat Ibrahim direngkuh dalam gendongan kedua tangan Rasulullah saw. Mata beliau berlinangan air mata, lalu beliau bersabda: “Mata dapat bercucuran, hati dapat berduka, namun kita tidak dapat mengatakan kecuali yang diperkenankan Tuhan kami. Demi Allah Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat berduka atas kematianmu”.

Rasulullah saw berjalan sambil bersandar kepada sahabat Abdurrahman bin Auf dengan cucuran air mata yang deras, Abdurrahman berkata: “Ya Rasulullah, engkau telah melarang manusia berbuat seperti ini. Selagi orang-orang Islam melihat engkau menangis, mereka akan ikut menangis”.

Beliau kemudian menanggapi pernyataan Abdurrahman dengan mengatakan: “Ini adalah luapan kasih sayang. Sesungguhnya orang yang tidak mengasihi, maka ia juga tidak akan dikasihi. Yang kami larang manusia untuk melakukannya ialah menangis dengan suara keras dan meratapi apa yang tidak layak diratapi”.

Kesedihan beliau yang begitu dalam atas kematian anaknya membuat ada sahabat-sahabat yang menghubung-hubungkannya dengan fenomena alam. Saat bersamaan dengan kematian anaknya itu terjadilah gerhana matahari sehingga banyak orang yang berkomentar: “Gerhana matahari terjadi karena Ibrahim meninggal”.

Mendengar komentar itu, Rasulullah saw mengajak para sahabatnya untuk menunaikan shalat, yakni shalat gerhana matahari. Sesudah shalat, Rasulullah saw menyampaikan khutbah dan diantara isinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Nasa’i: “Sesungguhnya matahari dan rembulan merupakan dua tanda kekusaan Allah swt. Gerhana matahari dan rembulan muncul tidak dikarenakan kematian seseorang atau karena hidupnya”.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah:

1.      Kesedihan atas kematian anggota keluarga yang dicintai merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh sampai berlebihan sehingga mengeluarkan kata-kata dan tindakan yang tidak mencerminkan seorang mukmin.

2.      Ketika saat matinya anggota keluarga harus kita tunjukkan rasa kasih sayang, apalagi saat hidupnya.

BAGI
Artikel SebelumnyaMembugarkan Umur
Artikel BerikutnyaRebonding dan Privatisasi