Duhai Rasul… Apa yang Kupinta?

0
59 views

Oleh Saat Mubarok Lc

عن أبي الفضل العباس بن عبد المطلب، رضي الله عنه، قال: قلت يا رسول الله: علمني شيئاً أسأله الله تعالى، قال: سلوا الله العافية فمكثت أياماً، ثم جئت فقلت: يا رسول الله: علمني شيئاً أسأله الله تعالى، قال لي: يا عباس يا عم رسول الله، سلوا الله العافية في الدنيا والآخرة. رواه الترمذي وقال: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.

 

Dari Abul Fadhl al-‘Abbâs bin ‘Abdil Muththalib radhiyallâhu ‘anhu , (paman Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam), ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allâh Azza wa Jalla!”. Beliau menjawab, ‘Mintalah afiat’. Selang beberapa hari kemudian, aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allâh ‘Azza wa Jalla!”. Beliau bersabda kepadaku, “Wahai ‘Abbas, paman Rasûlullâh, mintalah kepada Allâh afiat di dunia dan akhirat”. (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata hadits ini hasan shohih)

Ini adalah dialog antara seorang Al-Abbas bin Abdil Muththolib dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialog antara seorang paman dengan keponakannya, pertanyaan seorang sahabat dan jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Temanya tentang sebuah permohonan (doa).

Sungguh benar firman Allâh ‘Azza wa Jalla, yang menegaskan bahwa Rasul adalah uswah hasanah, maka sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mengimani firman-Nya dan sebagai ummat Rasulullah yang berharap bisa meneladani uswahnya. Tentunya kita akan berupaya menggali mutiara pelajaran dari hadits diatas. Inilah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits yang mulia ini;

Pertama: Semangat besar para sahabat untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tampak dengan jelas ketika Al-Abbas menanyakan perihal apa yang sebaiknya ia minta kepada Allah. Sampai pada apa yang perlu ia pinta kepada Allah azza wa jalla, ia minta diajari oleh Rasulullah.

Kedua: Sapaan yang penuh kesopanan

Al-Abbas adalah paman Rasulullah , namun ia tidak menyapa beliau dengan “Wahai keponakanku” misalnya, atau wahai anak saudaraku (yaabna akhii). Namum ia memanggil dengan Yaa Rasulallah…

Ketiga: Sambutan yang memberikan rasa bangga dan bahagia.

Ketika sang paman memanggil Rasul dengan “Yaa Rasulallah”, ternyata beliau menyambutnya dengan panggilan  “Yaa Amma Rasuulillah”, Wahai Pamannya Rasulullah… Paman dari seorang yang dipilih Allah untuk menjadi utusan-Nya. Tentunya kita bisa merasakan ada kecerdasan bahasa sekaligus kecerdasan emosional yang ditunjukkan Rasulullah. Sapaan ini tentunya akan meninggikan izzah sang paman, akan membuatnya bangga, dan tentunya lebih membuatnya semakin dekat dengan nilai yang diajarkan Rasulullah kepada dirinya.

Keempat: Tema permintaan yang sangat mendasar. Merupakan kebutuhan yang jika dikabulkan akan memudahkan seseorang mampu menghasilkan banyak kebaikan. A’fiat,  inilah yang dimintakan kepada Allah Azza wa jalla. Kebugaran jasmani dan ruhani untuk urusan dunia dan akherat. Ini seperti aset fundamental yang jika seseorang telah memilikinya akan terbuka baginya banyak pintu kebaikan.

Kelima: Setiap kita seyogyanya berupaya untuk melakukan sesuatu yang menunjang tercapainya harapan dalam doa kita. Jika ‘afiat yang kita pinta, maka sudah seharusnya kita pun berupaya untuk melakukan aktifitas yang menunjang tercapainya kebugaran fisik dan ruhani. Oleh karenanya olahragakan fisik ini dan riyadhohkan ruhani kita.

Kelima: Pengulangan jawaban tuk penegasan dan penjelasan.

Pada pertanyaan pertama, jawaban Rasulullah hanya ‘afiat, kemudian selang beberapa hari dengan pertanyaan yang sama, beliau menjawab dengan jawaban yang sama, namun dengan tambahan penjelasan fiddunya wal akhirah. Ini sekaligus memberi kesan agar setiap pendidik memiliki kesabaran yang tinggi dalam menunjukkan sesuatu yang memang dibutuhkan, serta sabar dalam memperjelas atau merinci suatu jawaban. Dengan ini memberikan ketegasan lebih dan penjelasan yang lebih mendalam. Wallahu ‘alam..

Saat Mubarok, Lc.