Dua Kutub Teror

0
40 views

Jika kita simak isi perjuangan para pelaku teror-termasuk di Indonesia-maka akan selalu ada nama Palestina, Lebanon, dan Irak di sana. Tuntutan utama para pelaku teror adalah penarikan mundur pasukan asing dari Timur Tengah secara umum dan khususnya tiga negara tersebut tadi.

 

hizbut-tahrir.or.id  Oke, tindakan terorisme memang tidak pernah bisa dibenarkan, namun tuntutan mereka berupa penarikan mundur kekuatan militer asing dari Timur Tengah mungkin perlu dicermati karena bisa saja itu adalah tuntutan yang masuk akal. Bukankah pencaplokan Palestina oleh Israel memang telah menorehkan luka yang sangat dalam dan perih di hati banyak kalangan umat Islam? Dan bukankah kebijakan Barat/Amerika yang menganggap akar terorisme itu di Timur Tengah (Islam) adalah sebuah penilaian yang terburu-buru? Lalu bukankah upaya Barat untuk mendesakkan sistem demokrasi khas mereka ke wilayah-wilayah luar yang berbeda akar budaya merupakan tindakan yang tidak wajar?

Sudah waktunya Barat berfikir terbalik. Jangan-jangan akar terorisme itu justeru berada di dalam pembuluh darah Barat sendiri yang tergambar dari tindakan-tindakan mereka terhadap orang-orang selain mereka (the other). Jika kemudian aksi teror itu dibalas dengan aksi teror yang lebih mengerikan (berupa pencaplokan wilayah), maka bisa dipastikan reaksi yang ditimbulkan adalah teror berlipat ganda. Saat ini, kata Olivier Roy, salah seorang pakar wacana Barat dan Islam radikal, Barat tidak hanya sedang menghadapi Islam sebagai agama tetapi juga sedang mengahadapi nasionalisme Arab yang sedang bergejolak mencari bentuk.

Lanjut Roy, “Demokratisasi telah gagal total karena alasan yang sangat sederhana: hal itu bukanlah suatu proses abstrak untuk membangun dari nol sebuah sistem politik milik Jefferson. Sebaliknya, demokratisasi harus berakar pada dua elemen yang akan memberikan legitimasi politik untuk seluruh proses: nasionalisme dan Islam.”

Roy meramalkan, yang terjadi kemudian adalah “jihad global”. Elemen-eleman dalam Islam yang berniat berkuasa akan memanfaatkan kondisi ini untuk menggalang “persatuan” Islam berhadapan dengan Barat. Padahal, perang terhadap terorisme bisa dan lebih efektif lewat jalan damai tanpa kekuatan militer, tanpa pesawat-pesawat tempur dan tanpa pidato besar, kata Roy.[]

Pustaka:

Olivier Roy, De-Globalize the Jihad, dalam http://www.digitalnpq.org/archive/2006_fall/02_roy.html