Doa Tahajjud

0
79 views
https://plus.google.com/

Abd. Muid N.

Tahajjud berasal dari kata hujûd yang berarti tidur. Di situlah kemiripan antara shalat Tahajjud dengan shalat Lail. Tahajjud berarti tidur dan Lail bararti malam. Bukankah malam adalah waktunya untuk tidur? Karena itu, shalat Tahajjud bisa bermakna shalat yang dilakukan pada waktu biasanya orang-orang tidur.

Di kesempatan ini tidak akan dibicarakan tentang keistimewaan shalat Tahajjud karena sudah sangat jamak dibahas. Justeru yang dibahas kini adalah ayat setelah ayat shalat Tahajjud. Jika Tahajjud dalam al-Quran disebutkan pada QS. al-Isra/17:79, maka setelahnya ada QS. al-Isra/17:80 di mana disebutkan tentang sebuah doa. Apakah itu doa shalat Tahajjud? Mungkin iya karena ayatnya pas datang setelah ayat tentang shalat Tahajjud.

Di dalam ayat itu disebutkan tentang doa yang berbunyi: Rabbî adkhilnî mudkhala shidqin wa akhrijnî mukhraja shidqin waj’alni mi ladunka sulthânan nashîrâ. Dalam Tafsîr al-Mishbâh, M. Quraish Shihab memaknai ayat ini dengan kalimat sebagai berikut: “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dalam segala situasi dan kondisi dan tempat yang Engkau izinkan aku memasukinya di dunia dan di akhirat dengan cara masuk yang benar, terhormat, sempurna, lagi Engkau ridhai dan keluarkanlah pula aku dari mana saja dengan cara keluar yang benar menuju kemuliaan dan ridha-Mu dan anugerahilah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan, kekuatan, dan bukti yang membungkam dan yang menolong, yakni membela aku menghadapi semua lawan.”

Doa di atas mengajarkan banyak hal. Di antaranya, ternyata, tidak cukup dengan memohon dimasukkan dalam kondisi yang benar, tetapi juga perlu memohon untuk dimasukkan dengan cara yang benar. Tidak cukup dengan tujuan yang benar, tetapi cara juga harus benar.

Bagian dari doa di atas terasa sedang pas saat ini. Kini kita sedang sering disuguhi dengan tontonan upaya-upaya golongan tertentu untuk masuk ke dalam atau menunjukkan kebenaran, tetapi dengan cara-cara yang tidak benar. Seakan-akan tujuan bisa membenarkan segala cara.

Tidak hanya itu, ayat di atas juga menegaskan pentingnya keluar dari masalah dengan cara yang benar pula, wa akhrijnî mukhraja shidqin. Tidak ada yang hidup di luar masalah karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Agama mengajarkan penanggulangan masalah dengan cara yang baik. Kabur dari masalah bukan bagian dari upaya penyelesaian masalah.

Terakhir, doa Tahajjud memohon diberikan kekuasaan yang menolong (sulthânan nashirâ). Apakah kekuasaan yang sedang dipegang oleh umat Islam sudah dikerangkakan dalam upaya menolong sesama manusia? Belum. Itu pasti. Padahal tidak perlu lagi letih-letih mengkritisi kekuasaan yang tidak berada di tangan umat Muslim, cukup semua umat Muslim yang saat ini sedang memegang kuasa menjadikan kekuasaannya sebagai alat untuk menolong manusia, maka, Allah berfirman: Dan katakanlah: Berkaryalah! Maka Allah akan Melihat karyamu, begitu juga Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin. (al-Tawbah/9:105).[]