Disekuilibrium I: Subyek-Obyek

0
221 views
manilaspeak.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Kenyataan kehancuran alam akibat ulah manusia melahirkan banyak konsep tentang upaya pembangunan relasi harmonis antara manusia dan alam. Relasi harmonis yang dimaksud di sini adalah relasi saling pengaruh antara manusia dan alam yang bertahan pada titik stabil, yaitu ekuilibrium. Tiadanya stabilitas disebut disekuilibrium.

Untuk menjaga ekuilibrium, salah seorang pakar yang menawarkan konsep adalah Nur Arfiyah Febriani dalam karyanya, Ekologi Berwawasan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2014), dengan menegaskan bahwa relasi harmonis antara manusia dan alam berdasar pada simbiosis mutalisme. Manusia bisa tetap menggunakan sumber daya alam, namun juga sebagai khalifah (pemakmur, konsevator, dan pelindung) bagi alam.

Di tempat lain, Saras Dewi, dalam karyanya, Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam (Serpong: Marjin Kiri, 2015), menengarai adanya problem laten dalam konsep penjagaan ekuilibrium yaitu posisioning antara manusia dengan alam tetap dalam kerangka subyek-obyek. Tampaknya konsep Nur Arfiyah Febriani mengalami hal yang serupa. Manusia tetap berada pada posisinya yang lebih tinggi dari alam karena manusia adalah pengelola (subyek) dan alam adalah yang dikelola (obyek). Relasi semacam ini adalah relasi yang timpang secara ontologis. Karenanya, harus ada konsep relasi baru yang ditawarkan.

Dalam Al-Qur’an tidak ada pemisahan antara subyek dan obyek antara manusia dengan alam dalam hal pengelolaan alam karena baik manusia dan alam adalah obyek dari perintah Allah SWT, manusia diperintah untuk menjadi pengelola dan alam sebagai ruang dan waktu terjadinya pengelolaan. Kalaupun ada, maka subyek sesungguhnya adalah Allah SWT; sedangkan obyeknya adalah manusia dan alam. Meski demikian, pengelolaan alam yang salah akibat posisi ontologis manusia sebagi subyek dan alam sebagai obyek justru menjadikan Kitab Suci sebagai tertuduh karena konon Kitab Suci lah yang melantik manusia menjadi subyek di alam raya.

Ayat yang kadang dipakai untuk membuktikan adanya konsep subyek-obyek dalam pengelolaan alam oleh manusia (taskhîr) adalah QS. al-Jâtsiyah/45: 13: Dan Dia Menundukkan (sakhkhara) apa yang ada langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.

Memang benar ayat di atas berbicara tentang ketundukan alam kepada manusia, namun itu tidak menjadikan manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyek karena ketundukan di sini bukanlah ketundukan ontologis, tetapi aksidental. Ketundukan ontologis alam tetap kepada Allah SWT karena Allah SWT yang memerintahkan alam untuk untuk kepada manusia.

Demikian pula posisi ontologis manusia bukanlah subyek karena hadirnya manusia sebagai subyek di alam raya hanyalah karena mandat dari Allah SWT. Karena itu, subyek sesungguhnya adalah Allah SWT.

Lalu, apakah problem laten yang timpang antara manusia dengan alam—sebagimana tengara yang disampaikan oleh Saras Dewi—menjadi sirna? Seharusnya iya. Al-Qur’an bukan hanya menawarkan jalan lain dari relasi timpang subyek-obyek antara manusia dengan alam, tetapi juga menawarkan kehadiran Ilahi dalam relasi tersebut yang membuat relasi itu menjadi relasi yang bertanggung jawab, bukan hanya semata-mata seimbang.[]

Bahan Bacaan

Abd. Muid N., “Ekosistem dalam Al-Qur’an: Pemikiran M. Darwis Hude dan Nur Arfiyah Febriani”, dalam Jurnal Mumtaz, Vol. 5, No. 2, Tahun 2015.

Nur Arfiyah Febriani, Ekologi Berwawasan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2014)

Saras Dewi, Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam (Serpong: Marjin Kiri, 2015)