Dimensi Liberatif Alleppereng

0
54 views

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Tulisan ini terinspirasi oleh ungkapan bahasa Bugis untuk lebaran, yaitu alleppereng. Ada kemungkinan alleppereng berarti pelepasan. Karena itu, sama dengan pembebasan. Titik menarik dari hal ini adalah lebaran sesungguhnya mengampanyekan spirit pembebasan yang justeru sering dianggap sebagai lawan agama. Agama lebih sering  dianggap sebagai lembaga yang mengungkung manusia, bahkan menciderai kemanusiaan. Jangankan menjadi manusia seutuhnya, agam sering dicurigai sebagai penghancur kemanusiaan demi Ketuhanan.

Menurut Robert J. Ackermann, agama menjadi tidak membebaskan ketika agama direduksikan menjadi sekumpulan dogma yang dimengerti secara mekanis. Pemahaman agama semacam ini mengalami keterputusan dengan konteks kemanusiaan. Hasilnya adalah umat yang tertutup, apologetik, keras, dan reaksioner karena alergi terhadap perubahan, perbedaan, serta realitas masyarakat yang dinamis.

Penjara Agama

Anggapan bahwa agama, khususnya Islam, sesungguhnya tidak membebaskan adalah anggapan yang bisa dipahami meski tidak sepenuhnya benar. Kenyataannya, sepeninggal Nabi Muhammad saw, Islam terseret ke dalam arus dahsyat perebutan kekuasaan yang berorientasi pada kepentingan pribadi. Menurut Asghar Ali Engineer, dampak hal itu, masih terasa hingga kini, yaitu Islam kehilangan daya revolusionernya serta energi perlawanannya terhadap keterbelakangan. Salah satu dampak yang paling parah adalah sejak itu perhatian umat yang tersedot pada masalah-masalah teologi (yang tidak membebaskan) yang semata-mata intellectual exercise yang bersifat spekulatif dan memisahkan antar agama dengan realitas sosial. Jadilah Islam sebagai sekumpulan dogma yang semata-mata berorientasi tekstual, tidak kontekstual. Berorientasi Ketuhanan, tanpa kemanusiaan.

Kita tidak bisa menerima tuduhan bahwa Islam terlibat dalam proses dehumanisasi, ketidakadilan jender, intoleransi, dan terorisme, namun jika Islam dibiarkan berkutat semata-mata di jalan buntu relasi ritual dan teks, tanpa ada dialog dengan konteks dan dinamika zaman, maka rela atau tidak, suatu saat Islam akan terlibat dalam proses dehumanisasi, intoleransi, kekerasan, terorisme, dan sebagainya. Lebih jauh, Islam bisa menjadi alat efektif bagi penguasa-penguasa tiranik.

Orientasi ritual dan tekstual yang ada saat ini menggambarkan telah terjadi pergeseran orientasi teologi dalam sejarah Islam, yang semula lebih menekankan pada praksis kemanusiaan daripada teoritisasi metafisis individual. Orientasi teologi praksis sangat jelas tergambar pada surah-surah awal yang turun di Makkah sebagaimana surah al-Mâ’ûn (107): 1-7, di mana Allah swt secara gamblang menyamakan pendusta agama dengan praktik menghardi anak yatim dan orang lalai dari shalat dengan orang yang enggan menolong sesama manusia. Dan itu bukan satu-satunya surah yang berbicara hal yang serupa.

Lebaran yang Membebaskan

Ketika Ramadhan usai, datanglah Idul Fitri yang ditandai dengan kumandang takbir dan tahmid yang secara sederhana berbunyi Allâhu Akbar wa lil Lâhil Hamd, Allah Maha Besar dan Bagi Allah Segala Pujian.

Orientasi teologi yang semata-mata ritual dan tekstual akan memahami takbir dan tahmid sebagai hanya penegasan kebesaran Allah swt. Namun orientasi teologi praksis kontekstual membumikan pemahaman tersebut dengan juga menegaskan kekerdilan manusia. Kerdil dalam arti yang sesungguhnya. Di hadapan Allah swt semua manusia setara dalam kekerdilan dan karena itu, tidak satu manusia pun yang layak dikerdilkan oleh sesamanya manusia hanya karena berbeda paham, agama, aliran, dan sebagainya.

Pengerdilan, permusuhan, dan bahkan pencabutan hak-hak azasi hanya karena perbedaan agama, aliran, strata sosial, pilihan politik, dan taraf ekonomi sesungguhnya mengkhianati takbir dan tahmid karena ternyata ada yang lebih besar dan lebih terpuji dari Allah swt, yaitu orang yang bertakbir dan bertahmid itu sendiri. Jika pemahaman yang tidak membebaskan ini dipertahankan, maka tidak perlu heran jika takbir dan tahmid tidak cukup kuat untuk membuat manusia menghargai sesamanya manusia, bahkan sering kali pelanggaran kemanusiaan dilakukan dengan terlebih dahulu meneriakkan takbir.

Ada sebuah ajaran Nabi Muhammad saw yang cukup unik yang berkaitan dengan lebaran yaitu disunnahkan bagi mereka yang melaksanakan shalat Id untuk mengambil jalan yang berbeda antara ketika berangkat dan ketika pulang. Rasulullah saw berasalan bahwa di sepanjang jalan ada rombongan malaikat yang mendoakan umat Islam yang lewat. Agar didoakan oleh malaikat berbeda, hendaknya umat Islam melalui jalan yang berbeda antara ketika berangkat dan pulang dari shalat Id.

Adapun spirit yang bisa kita tangkap dari sunnah Rasulullah saw ini adalah bahwa agama yang bergaul intensif dengan dinamika kehidupan tidak akan cukup dipahami lewat satu cara. Perlu beragam cara dan pendekatan untuk memahami agama agar agama tidak membeku dalam peti teks dan ritual.

Di sinlah konsep allepereng dengan fithr bertaut. Alleppereng yang bermakna pelepasan dan pembebasan berjalan beriringan dengan fithr yang secara generik bermakna terbelah, terbuka, dan terbebaskan. Itulah sebabnya mengapa ifthâr berarti berbuka. Di situ pula makna kata lebaran bisa dipahami. Pembebasan dan keterbukaan perlu dilakukan selebar(an) mungkin agar meniscayakan lahirnya kebaruan-kebaruan yang berkejaran dengan dinamika zaman.

Dimensi liberatif agama tidak hanya bermakna tazkiyah al-nafs yang sifatnya membebaskan ke dalam diri manusia dari belenggu hawa nafsunya sebagaimana sering dipahami sebagai fungsi utama ritual-ritual keagamaan seperti puasa, tetapi juga harus berdimensi ke luar diri manusia agar mampu menjadi instrumen untuk membebaskan manusia dari penindasan, kemiskinan, maupun kebodohan. Yang pertama bisa dicapai lewat orientasi ritual dan tekstual; dan yang kedua hanya bisa dicapai lewat orientasi kontekstual dan membebaskan.

Orientasi kontekstual dalam hal ini dipahami sebagai komunikasi intensif antara firman Allah swt dengan dinamika kehidupan manusia. Tidak ada yang perlu berubah pada firman Allah swt. Yang perlu terus-menerus berubah adalah penafsiran terhadap firman Allah swt sebagai akibat dari perubahan dan dinamika kehidupan manusiawi. Karena itu, lokus keberagamaan yang sesungguhnya bukan pada Kitab Suci dan Sabda Nabi karena keduanya telah tetap sampai akhir zaman. Lokus keberagaman yang berpusat pada Kitab Suci dan Sabda Nabi itulah yang disebut dengan agama dalam orientasi ritual dan tekstual.

Lokus keberagamaan yang sesungguhnya adalah kehidupan manusiawi itu sendiri yang berjalan dalam sinaran Kitab Suci dan Sabda Nabi. Dengan cara seperti itulah agama bisa bebas dari persoalan remeh tentang perbedaan aliran dan cara pandang beragama lalu fokus pada penciptaan keadilan sosial. Inilah yang diajarkan alleppereng. Hanya manusia yang benar-benar bebas dari penjara dirinya lalu membebaskan orang lain yang layak merayakan Hari Kemenangan.

Tulisan ini dimuat dalam

http://makassar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=23

http://makassar.tribunnews.com/2015/07/13/dimensi-liberatif-alleppereng

 

BAGI
Artikel SebelumnyaLaylat Al-Qadr
Artikel BerikutnyaAminah