Dia Dipanggil “Pak Edi”

0
10 views

Dia dipanggil Pak Edi. Ada juga yang menyapanya dengan panggilan “Engkong”. Saya bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di kantornya yang teduh di salah satu pojok kota Surabaya.

Yang khas dari Pak Edi adalah kopiahnya yang hampir tidak pernah lepas dari kepala, kumis dan jenggotnya yang mulai memutih dan dibiarkan tumbuh bebas. Dia punya mission impossible. Dia mengaku berupaya menjadi semacam lem perekat bagi tembok-tembok iman yang berdiri terpisah dan saling tidak acuh bahkan memusuhi.

Upaya itu tentu tidak gampang. Dia menciptakan banyak musuh, atau lebih tepatnya melahirkan orang-orang yang memusuhi. Oleh orang-orang yang seagama dengan Pak Edi, dia dianggap telah melenceng dari ajaran agama; sedangkan dari oleh kaum yang tidak seiman dengannya, dia dianggap sedang melancarkan upaya untuk mengajak secara halus untuk masuk agama Pak Edi. Sebuah posisi yang dilematis, tetapi Pak Edi seperti menikmatinya.

Saya pernah mengatakan kepadanya bahwa dia ibarat semut yang sedang berada di antara gajah-gajah. Jika suatu saat para gajah saling curiga akan adanya penyusup, maka dia lah orang yang paling “masuk akal” untuk dicurigai dan dimusuhi.

Namun Pak Edi bergeming. Bagi dia, itu adalah panggilan agamanya dan begitulah agama mengajarkannya. Namun apa sebenarnya agama Pak Edi? Ketika pertama kali bertemu dengannya, saya yakin Pak Edi adalah seorang Muslim. Dia fasih menyitir beberapa ayat Al-Quran dan juga Hadits. Dan kopiah, kumis dan jenggotnya itu yang bagi saya “sangat khas” performance seorang Muslim.

Suatu ketika Pak Edi bercerita kisah dia bertaubat dari seorang perokok berat menjadi berhenti merokok. Katanya, dia berpuasa tiga hari tiga malam dan di hari keempat dia berkata: “Atas nama Yesus, sejak hari ini saya berhenti merokok!” Sejak hari itu, di tahun 70-an, Pak Edi berhenti merokok.

Ternyata, Pak Edi bukan seorang Muslim. Dia seorang Nasrani. Namun dia bertekad untuk menjadi lem perekat antariman. Pak Edi ada kemiripan dengan seorang Tariq Ramadan, salah seorang cucu Hasan Al-Banna yang berpandangan bahwa seorang penganut agama terhadap penganut agama lain tidak cukup berkata: “Saya menerima kenyataan bahwa Anda ada di sini karena saya tidak mempunyai pilihan lain.”

Jika demikian halnya, bagi Ramadan, maka tidak ada kemajuan yang mungkin dicapai. Yang diperlukan lebih daripada itu yaitu penghargaan (respect) yang berarti saling mengenal, dan bukan hanya saling mengenal dengan sekadar merujuk pada kitab-kitab suci karena tidak cukup mengenal Islam atau Kristen hanya dengan membaca kita suci mereka. Hal ini kemudian menyangkut kebudayaan, sesuatu yang sulit ditangani dan sering menggelisahkan. Bagi Ramadan, kehadiran Muslim dan juga agama-agama lain dengan budayanya masing-masing bukanlah ancaman bagi budaya dominan, bahkan merupakan aset karena keragaman adalah sesuatu yang penting.

Tiada maksud untuk menyamakan antara seorang Pak Edi dengan Tariq Ramadan. Di antara banyak beda, kita semua pasti banyak sama.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi

Bahan Bacaan

Rosemary Bechler, “A Bridge Across Fear: an Interview With Tariq Ramadan”, dalam http://www.opendemocracy.net/faith-europe_islam/article_2006.jsp, diakses pada 23 Februari 2009.