Di Ujung Ramadhan

0
38 views

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Waktu berjalan begitu cepat seakan berlari sehingga perumpamaan berjalannya seperti penaka roda pedati sepertinya kurang pas untuk menggambarkan bergulirnya waktu saat ini. Entah karena memang demikian adanya atau efek dari sikap lena kita dengan kehidupan duniawi yang fana ini…

 

 

Sungguh merupakan anugrah yang luar biasa bisa mereguk nikmat beribadah di bulan mulia, bulan yang penuh berkah. Permasalahannya kemudian adalah sudahkah kita memanfaatkan momen berharga ini dengan maksimal? Seberapa jauh peningkatan keberagamaan kita baik secara personal ataupun sosial?

 

Kalau kita kembali menilik ayat yang mewajibkan umat Islam untuk berpuasa dalam surah al-Baqarah ayat 182 dijelaskna bahwa tujuan diwajibkan berpuasa adalah agar mukmin bertakwa. “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, semoga kamu bertakwa”.Setidaknya ada tiga poin penting yang saling terkait dalam ayat itu yang perlu kita garisbawahi. Pertama, Iman. Kedua, Puasa. Ketiga, Takwa.

 

Iman adalah landasan berpuasa. Puasa adalah jalan menuju takwa. Takwa adalah tujuan yang ingin dicapai dalam ibadah puasa. Tanpa keimanan tidak mungkin seseorang bisa berpuasa (tidak peduli sebera besar iman yang dimiliki seseorang, tipis ataupun tebal). 

 

Mengapa puasa bisa meningkatkan ketakwaan seseorang? Ada apa dengan puasa? Puasa adalah ibadah yang cukup berat karena dilaksanakan dalam waktu yang lama yaitu selama sebulan di bulan Ramadhan. Selain itu kita tahu bahwa hakikat puasa adalah al-imsaak, menahan diri, self control. Ibadah puasa menuntut pelakunya untuk mengendalikan hawa nafsu makan minum, nafsu marah/ghadhab dan syahwat, nafsu ego dan keserakahan jiwa yang memiliki kemauan dan keinginan yang tidak terbatas.

 

Dengan latihan pengendalian diri dan “penggemblengan” selama bulan ramadhan tersebut diharapkan akan mengantarkan seseorang menjadi mukmin yang bertakwa yang nilai puasanya tidak sebatas menahan lapar dan dahaga saja. Puasa adalah sarana, jalan, dan cara menuju takwa. Takwa adalah tujuan akhir setiap ibadah. Takwa inilah yang mendorong setiap manusia melakukan segala kebaikan dan mencegah manusia untuk melakukan keburukan. Puasa yang dilaksanakan dengan penuh kesungguhan akan meningkatkan iman.

 

Iman yang kuat akan melahirkan kekuatan pada jiwa untuk beramal ibadah (seberat apa pun amal yang diperintahkan akan terasa ringan dengan motivasi iman). Dan bertambah kuat pula dorongan untuk menghindari perbuatan buruk. Kata Rasulullah, “Seseorang tidak akan melakukan zina apabila ada iman dalam hatinya”. Begitu hebat kekuatan yang dihasilkan oleh ibadah puasa.

Paling tidak ada beberapa parameter takwa. Seseorang yang sudah menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan baik idealnya beriman kepada yang ghaib (Allah Swt, kitab dan hari akhir), melaksanakan shalat dengan istiqamah, gemar berinfak, bersedekah, baik pada waktu lapang maupun susah, menahan amarah (tidak mudah emosi), memaafkan sesama, mengingat Allah ketika akan berbuat zalim atau keji, dan selalu beristighfar kepada Allah (Al-Baqarah: 3- 4, Ali-Imran: 134-135).

Semoga ibadah puasa yang sudah kita jalani mampu meningkatkan kadar iman dan pada akhirnya memberi dorongan yang kuat untuk beramal shaleh dan mengantarkan kita menjadi orang bertakwa dalam arti yang sesungguhnya. Bulan Ramadhan tidak mensucikan pemeluknya tapi amal ibadahnyalah yang mensucikan dia seperti halnya malam seribu bulan.

 

Pepatah Arab mengingatkan, Laisa al-‘iidu man labisa al-jadid Walakin al-‘iid man tho’atuhu taziid (Hari Raya bukanlah ditandai dengan pakaian baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju). Wallaahu A’lam.