Desupranaturalisasi Gerhana

0
465 views

by Abd. Muid N.

Apakah gerhana merupakan fenomena supranatural, teologis, atau natural? Seorang polimatik Muslim bernama Ibn a-Haytham (965-1039 M) barangkali tidak menganggapnya fenomena supranatural. Apakah dia menganggapnya fenomena teologis? Mungkin. Tapi yang pasti dia menganggapnya fenomena natural. Barangkali al-Biruni (973-1048 M) demikian pula. Mereka adalah para astronom ternama yang pernah dimiliki peradaban Islam. Nasir al-Din al-Thusi (1201-1274 M) pun sama. Nama yang terakhir ini adalah penyelamat astronomi Islam dari penghancuran Tartar karena memperoleh kepercayaan bangsa Tartar untuk tetap menjaga perpustakaan dan lembaga pendidikan Islam, bahkan diserahi tugas oleh Hulagu Khan untuk mendirikan observatorium di Maraghah, Persia.

Lalu bagaimana Rasulullah SAW memandang fenomena gerhana? Tentang gerhana, Rasulullah SAW memulai Haditsnya dengan menegaskan bahwa matahari dan rembulan adalah âyâtul Lâh. Matahari dan rembulan adalah bagian dari ‘alam, dan sebagaimana âyah, ‘alam pun berarti ‘tanda’. Maka tentu saja matahari dan rembulan adalah tanda—kekuasaan, keberadaan—Allah SWT.

Hadits Rasulullah SAW itu dilanjutkan dengan pernyataan bahwa tidak terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian atau kehidupan seseorang. Pernyataan ini adalah penolakan peristiwa gerhana sebagai fenomena supranatural atau penegasan bahwa itu adalah peristiwa natural semata.

Rasulullah SAW memulai kampanye berakhirnya era supranatural dengan mengajak umat Islam untuk berdoa, bertakbir, mendirikan shalat gerhana, dan bersedekah. Semua aktivitas tersebut konsisten dengan pernyataan awal Rasulullah SAW bahwa matahari dan rembulan adalah âyâtul Lâh. Namun penegasan bahwa matahari dan rembulan adalah âyâtul Lâh tidak hanya dengan berdoa, bertakbir, mendirikan shalat gerhana, dan bersedekah. Bisa juga dengan cara menjadi astronom sebagaimana Ibn al-Haytham, al-Biruni, atau al-Thusi.

Sesunguhnya pesan Rasulullah SAW tentang gerhana sangat tegas untuk meninggalkan cara berfikir supranatural dan cocokologi. Dengan cara itulah manusia mampu memahami cara kerja alam yang sesungguhnya atau “acara kerja” Allah SWT di alam raya. al-Thusi bahkan sampai pada mengkritisi temuan Ptolemeus tentang gerhana. al-Thusi—menolak Ptomelemus—membuktikan bahwa cakram matahari bisa tampak bervariasi ketika gerhana dan bahkan bisa lebih besar dari bulan jika bulan berada pada titik terjauhnya.

Tapi mengapa Hadits Rasulullah SAW hanya berbicara tentang berdoa, bertakbir, mendirikan shalat gerhana, dan bersedekah? Barangkali karena beliau saat itu tidak sedang berbicara di hadapan Ibn al-Haytham, al-Biruni, atau al-Thusi. Atau barangkali Hadits tersebut hadir di masa sebelum al-Thusi mendapatkan kepercayaan Hulagu Khan untuk mendirikan observatorium di Maraghah, Persia. Yang pasti, umat Islam harus beranjak ke era logis-empiris.[]

Bahan Bacaan

Husain Heriyanto, Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, (Bandung: Mizan, 2011)

George Saliba, A History of Arabic Astronomy: Planetary Theories during the Golden Age of Islam, (New York: New York University Press, 1994)