Desensitisasi

0
51 views

Indonesia kembali berduka. Berita tsunami di kepulauan Mentawai dan meletusnya gunung merapi di Yogyakarta dalam waktu yang hampir bersamaan, menambah panjangnya catatan bencana di negeri ini. Banyak orang bertanya ada apa dengan Indonesia? Pertanda apakah ini? Apakah Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita (seperti dalam potongan lirik lagu Ebit G. Ade)? Entahlah… yang pasti kita tidak bisa menyalahkan alam, lebih-lebih berburuk sangka kepada Penciptanya.

Apa penyebab bencana itu datang memang penting diketahui tapi lebih penting lagi adalah bagaimana kita mensikapi bencana-bencana tersebut yang mungkin saja suatu saat kita sendiri akan mengalaminya. Kini, bencana itu sudah terjadi. Sikap tegar dan sabar tentu sangat diperlukan bagi keluarga korban yang selamat sambil menata kembali kehidupan setelah kehilangan banyak hal yang dicintainya.

Lalu bagaimana dengan kita yang kebetulan tidak tersentuh oleh bencana tersebut? Macam-macam komentar yang sering terdengar dari yang seolah “nyukurin” karena beranggapan bencana itu menimpa mereka karena mereka suka berbuat dosa, ada juga yang apatis, sebatas berkata kasihan, ada juga yang ngelus dada seraya berujar semoga diri dan keluarganya selalu dilindungi, mendoakan para korban agar diberi kesabaran, sampai yang tergerak untuk memberikan bantuan baik secara langsung datang ke lokasi kejadian atau pun melalui lembaga atau instansi tertentu.

Paparan di atas menggambarkan tingkat sensitivitas seseorang atas penderitaan orang lain. Satu hal yang menarik untuk dikaji adalah, mengapa ada sebagian masyarakat yang sepertinya sudah merasa terbiasa dengan bencana dan menganggapnya biasa. Orang seperti ini biasanya tanpa reaksi menyikapi penderitaan dan kesusahan orang lain karena menganggapnya bukan urusannya.Dalam ilmu psikologi, hal ini dikenal dengan istilah desensitisasi (desensitization) yakni hilangnya sensitivitas moral-emosional ketika melihat problem sosial.   

Ironis dan memprihatinkan, apalagi jika semakin banyak orang yang mengalami desensitisasi tersebut. Karena kita tahu bahwa sikap tidak peduli sesama bertentangan dengan fitrah manusia. Agama memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan merasakan penderitaan orang lain seolah kita mengalaminya langsung.

Fenomena desentisasi dalam berbagai bentuknya akhir-akhir ini semakin mudah dijumpai. Desentisasi pada akhirnya mengakibatkan kepekaaan atas penderitaan orang lain menjadi tumpul yang selanjutnya mempengaruhi kemampuan empati terhadap penderitaan orang lain dan menurunkan kesiapan untuk menolong.

Dalam kajian psikologi, desensitisasi ini muncul dan kian menguat ketika masyarakat terbiasa dihadapkan perilaku menyimpang dan peristiwa kekerasan sehingga terjadi kekebalan dalam perasaannya. Mereka tidak lagi peka melihat penyimpangan dan penderitaan (emotionally and morally insensitive).

Bisa kita bayangkan jika sebuah masyarakat sudah tidak mau peduli satu sama lain, sensitivitasnya sudah hilang, maka pasti moralitasnya akan runtuh seiring kehancuran tatanan sosial dan peradabannya. Na’udzubillaah min dzaalik.

BAGI
Artikel SebelumnyaBerimankah Kita ?
Artikel BerikutnyaDam