Desakralisasi Ramadhan

0
58 views

Ini merupakan siklus kebingungan tahunan. Menurut beberapa pakar, kebingungan semacam ini akan terus berlangsung hingga tahun 2014 jika pemerintah Republik Indonesia tidak mempunyai sistem sebagai solusi yang cukup kuat untuk menyatukan hisab dan rukyat.

Di tahun-tahun yang lalu, fenomena semcam ini hanya akan menjadi perdebatan lewat forum mimbar ketika para pengkhutbah mengulang-ulang rasionalisasi mengapa mereka harus melaksanakan hari raya di hari itu dan bukan hari lainnya. Rasionalisasi yang meskipun diulang-ulang setiap terjadi perbedaan hari pelaksanaan, tetap tidak membuat umat Muslim memahami persoalan yang sebenarnya karena sangat banyaknya istilah-istilah teknis yang hanya mampu dipahami oleh para pegiat bidang ilmu pengetahuan tertentu. Apa itu wujuudul hilaal? Imkaanur rukyah?

Di masa belakangan, ketika internet sudah menjadi barang jamak dan jejaring sosial merajalela dijadikan wadah komunikasi, fenomena ini menjadi barang lucu-lucuan, untuk tidak menyebutnya barang olok-olok. Dengan mudah kita akan menemukan pernyataan-pernyataan yang mengundang senyuman seperti: Maaf, Puasa Dilanjutkan Hingga Waktu yang Belum Ditentukan.

Salah satu yang membuat agama menarik bagi manusia adalah karena agama menyimpan dimensi misteri dan sakralitas dalam dirinya. Di bulan Ramadhan, salah satu dimensi misteri dan sakralitas itu dipelihara lewat konsep Lailatul Qadr. Sebuah fenomena yang diyakini ada tetapi mengandung misteri yang cukup gelap. Tidak ada keterangan pasti dan tunggal tentang apa sebenarnya Lailatul Qadr, bagaimana bentuknya, kapan terjadinya, dan jika sudah terjadi pada seseorang, lalu bagaimana? Coba simak kisah tentang Lailatur Qadar yang dianggap pernah terjadi pada person-persoan tertentu. Tidak ada versi yang benar-benar sama.

Misteri yang menyelimuti Lailatul Qadr justeru menjadi magnet yang cukup kuat menyedot jutaan umat Muslim untuk menyempatkan diri menginap di masjid-masjid, meninggalkan keluarga atau rumah, mengaji sepanjang hari, dan melaksanakan shalat sebanyak-banyak rakaat yang mereka mampu. Misteri itu pula yang membuat umat Muslim dan para penceramah tidak bosan-bosannya mengulas dan membahas Lailatul Qadr hampir setiap malam di bulan Ramadhan, meski dengan bahasan dan ulasan yang itu-itu juga.

Lalu bagaimana ketika misteri itu seperti tersingkap oleh kemajuan sains? Contoh yang patut dimajukan adalah penentuan masuknya bulan Ramadhan dan Syawal yang diutak-atik oleh metode hisaab dan rukyat lewat kecanggihan tekonologi berupa teleskop, fisika, dan matematika modern.

Ramadhan diyakini penuh berkah karena banyaknya malaikat yang turun pada bulan itu, dibelenggunya syaitan, dan berlipat gandanya pahala setiap amalan ibadah. Semua itu adalah dimensi sakral dan misterius dari Ramadhan, namun harus tunduk pada aturan matematis hisaab dan rukyat. Hisab dan rukyat seperti mempunyai hak untuk menghentikan turunnya malaikat, membuka borgol para syaitan, dan menghentikan pelipatgandaan amal ibadah.

Lalu dimensi misteri dan sakral apa lagi yang masih tersisa? Tidak ada. Kemajuan sains telah menelanjangi semuanya. Yang tersisa hanya perdebatan perbedaan hari lebaran dan akhir puasa yang sebenarnya lebih berdimensi nafsu manusiawi daripada dimensi sakral dan misteri karena lebih merupakan ajang pamer keangkuhan para penganut keyakinan bahwa merekalah yang paling benar dan paling diterima di sisi Allah.

Namun ada juga yang masih tersenyum senang karena menganggap di situlah dimensi misteriusnya hari lebaran. Sering ada perbedaan, perdebatan, dan adu argumen yang membuat lebaran semakin menarik. Entah sampai kapan.

Oleh Abdul Muid Nawawi