Dar Arqam

0
120 views

Dar Arqam adalah rumah dari seorang sahabat rasulullah saw yang bernama Arqam bin Abi Arqam, Nama asli beliau adalah ‘Abdul Manaf Bin Asad bin ‘Abdillah bin ‘Amru bin Makhzum, sering dipanggil dengan Abu ‘Abdillah. Beliau termasuk orang yang pertama-tama memeluk Islam, masuk Islam setelah sepuluh orang sahabat mendahuluinya. Al-Hakim meriwayatkan di dalam kitab al-Mustadraknya bahwa ia masuk Islam urutan ketujuh belas dari orang yang pertama masuk Islam. Keislaman beliau dengan perantara dakwahnya Abu Bakar  radhiyallahu ‘anhu, (riwayat dari ‘Aisyah). Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa para sahabat awalnya berkumpul di lembah-lembah, suatu ketika orang Quraisy melihat mereka dan langsung mencaci serta menyerang mereka. Saat itu sahabat Rasulullah saw Sa’ad bin Abi Waqqash berhasil mempertahankan diri dan melukai salah seorang dari orang Quraisy tersebut. Rasulullah saw menjadikan rumah al-Arqam sebagai pusat dakwah pada tahun ke-5 setelah kenabian.

Rumah Arqam bin Abi Arqam terletak di bukit Shafa, dan pintu bagian belakangnya bisa dimasuki tanpa dilihat oleh orang lain. Pada awal masa kenabian rumah ini sebagai pusat pembinaan yang digunakan Rasulullah saw untuk membina para Shahabat. Kelak mereka ini akan ikut membantu Rasulullah saw dalam menyebarkan Islam. Pada masa itu, setiap orang yang ingin memeluk Islam, maka ia akan mendatangi rumah ini secara sembunyi-sembunyi, karena takut mendapat gangguan dari Quraisy. Rasulullah saw dan para sahabat tinggal di rumah ini sampai Allah swt memberikan hidayah kepada ‘Umar bin al Khaththab dengan masuk Islam.

Ibnu Abdil Bar berkata: “ Di rumah Arqom bin Abi Arqom inilah Rasulullah berdakwah secara sembunyi –sembunyi menghindari gangguan orang-orang Quraisy, sampai Allah swt  memberikan kekuatan kepada mereka untuk berdakwah secara terang-terangan.

Kenapa Nabi saw memilih Darul Arqam?

Karena Arqam bin Abi Arqam seorang sahabat yang keislamannya tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy, bahkan tidak terbetik sedikitpun dipikiran mereka bahwasanya Muhammad dan para sahabatnya akan berkumpul di rumahnya. Dikarenakan Arqam bin Abi Arqam dari bani (suku) Makhzum. Bani Makhzum ini adalah suku yang paling memusuhi dan menyaingi bani Hasyim. Maka tidak terbetik di benak orang-orang Quraisy bahwa rumahnya akan di jadikan sebagai markas dakwah Nabi. Karena jika rumahnya di jadikan sebagai markas, maka berarti dia benar-benar berada di barisan musuh dari kaumnya. Bahwasanya Arqam bin Abi Arqam memeluk Islam dalam usia masih remaja, yaitu usia enam belas tahun. Sehingga tidak terfikirkan sedikitpun di benak orang-orang Quraisy bahwa rumah anak-anak remaja akan di jadikan sebagai markas pertemuan, yang ada di benak mereka adalah markas tersebut berada di tempat sahabat-sahabat besar.

Arqom Hijrah ke Madinah

Arqam hijrah ke Madinah dan Rasulullah saw mempersaudaraknnya dengan Zaid bin Sahl- semoga Allah swt meridloi keduanya- beliau juga mengikuti perang Badar, perang Uhud dan seluruh perang lainnya, bahkan tidak pernah absen dalam mengikuti berbagai perang. Rasulullah saw memberikan kepadanya sebuah rumah di Madinah.

Perang Badar

Rasulullah berkata pada peperangan badar: “ tinggalkan oleh kalian apa-apa yang terasa berat oleh kalian, Abu Usaid mengangkat pedang milik ibnu ‘aidz al-Mazraban (kemudian meninggalkannya), Hal tersebut diketahui oleh Arqam bin Abi Arqam, maka dia berkata:  “berikanlah ia kepadaku ya Rasulullah,maka Rasulpun memberikannya kepadanya. Dan diriwayatkan dari Arqam bahwasanya dia mendatangi Rasulullah, maka Rasulullah pun berkata: “ kemana kamu hendak pergi? Arqam menjawab: “Aku ingin ke sana, dengan memberi isyarat kearah Baitul Maqdis. Rasulullah bertanya kepadanya: “Apakah perdagangan yang mendorongmu untuk pergi kesana? Akupun menjawab: “Tidak, aku ingin sholat disana. Maka Rasulullah pun menjawab: “Shalat di sana seraya mengisyaratkan dengan jari telunjuk beliau ke arah Makkah lebih baik dari seribu sholat yang dilakukan di sana, seraya memberikan isyarat ke arah Syam (Baitul Maqdis).(HR. Hakim)

Wafatnya

Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Imron bin Hind dari bapaknya bahwa ketika mendekati wafatnya, Arqam bin Abi Arqam berwasiat agar dia disholatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqosh. Maka Marwan(Gubernur madinah) berkata: “Apakah kalian ingin menunda (penguburan seorang shahabat Rasul) dikarenakan seseorang yang tidak hadir dalam pensholatannya? Maka Abdullah bin Arqam menolak saran Marwan tersebut (untuk menyegerakan penguburan jenazah bapaknya). Maka bani Makhzumpun menyetujui sikap Abdullah, Kemudian Sa’ad pun datang dan mensholatkannya. Hal tersebut terjadi pada tahun 55 H di kota Madinah, dia meninggal pada umur delapan puluhan.

Referensi:

  1. Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah
  2. Ibnu Abdil Bar, Al-Istii’ab
  3. Al-Hakim, al-Mustadrak
BAGI
Artikel SebelumnyaSeimbang
Artikel BerikutnyaBerhala