Dan Masjid Pun Menangis

0
31 views

Abd. Muid N.

Ini bukan kisah nyata. Hanya rekaan sunyi. Setiap yang bermula pasti ada akhir. Kemudian yang ada hanya diam. Seperti sebuah peristiwa yang berlalu meninggalkan debu dan desau angin. Bahkan pernikahan seorang keturunan bangsawan yang berlangsung tujuh hari tujuh malam yang gemerlap dan meriah penuh makanan dan minuman di mana semua orang bergembira, tetap harus berakhir di ujung hari ketika semua tamu berpulangan dan tenda serta panggung pesta digulung. Yang tersisa hanya gelas-gelas plastik air mineral bertebaran dipunguti pemulung.

Namun sisa-sisa pesta menyimpan arti pentingnya sendiri. Mereka adalah jejak yang menandai berlalunya sebuah peristiwa pesta. Kepada merekalah manusia-manusia belakangan bertanya tentang apa yang telah terjadi dan apa yang tidak terjadi. Hilangnya mereka berarti hilangnya tempat bertanya. Dan peristiwa pun berlalu ditelan masa.

Tanda dan jejak peristiwa itu sering disebut saksi bisu atau saksi diam. Mungkin sebutan itu tidak terlalu tepat karena pada dasarnya mereka tidak benar-benar bisu dan diam. Mereka bisa cerewet, bercerita banyak, dan gaduh. Saking cerewetnya, berbagai interpretasi pun berhamburan keluar dari balik kebisuan mereka. Lalu perdebatan pun marak.

Seorang warga sebuah kampung, namun lama meninggalkan kampung, suatu hari pulang kampung. Di kampungnya ada banyak masjid dan mushalla. Masing-masing menyimpan cerita. Salah satunya begini. Sebuah rumah ibadah yang dinamai masjid oleh sekelompok orang di sebuah kampung tiba-tiba diserang oleh sekelompok lainnya dengan brutal namun penuh khidmat karena diiringin teriakan-teriakan kalimat-kalimat suci.

Biasanya mereka datang berombongan dipimpin oleh seorang yang seperti pemimpin spiritual. Dengan satu komando, mereka menghancurkan apa saja dengan alat apa saja dan dengan cara apa saja. Lalu mereka pulang dengan senyum kepuasan di wajah, seperti orang yang sudah pasti dapat surga sepulangnya di rumah. Setelah itu barulah pihak berwenang datang, mengamankan, tetapi kedatangan mereka lebih tampak seperti upacara penutupan prosesi amuk. Seperti biasa, mereka terlambat datang.

Ternyata, bagi warga kampung itu sendiri, peristiwa tersebut bukan lagi barang aneh. Mereka sudah terbiasa. Mereka pun sudah capek bertanya mengapa itu terus-menerus terulang seperti kaset yang diputar berkali-kali, tapi tidak kusut-kusut. Kelompok yang diserang mulai terbiasa diserang dan kelompok penyerang sudah mulai lupa berapa kali mereka menyerang dan tidak peduli berapa kali lagi mereka akan mengamuk.

Warga kampung sendiri tidak lagi terlalu antusias menonton amukan seperti kala pertama kali mereka melihatnya. Kini mereka sudah terbiasa. Dulu, mereka rela meninggalkan pisang goreng mereka hangus di atas kuali atau nasi dalam tanakan hanya untuk menonton amukan. Kini tidak lagi.

Warga kampung kini memiliki kesenangan baru. Jika dulu mereka bergegas menonton amuk, kini mereka bersabar menunggu berakhirnya amuk dan kegaduhan teriakan-teriakan kalimat suci sambil makan pisang goreng dan menghirup secangkir kopi. Setelah semua reda, barulah mereka berbondong-bondong duduk dengan rapi sambil memandangi masjid yang sudah porak-poranda digilas amuk.

Dengan mata penuh perhatian, mereka menatap masjid yang tidak lagi berlampu, berjendela, dan berpintu. Dengan pelan mereka melangkah di antara serpihan-serpihan sisa hasil amuk. Di antara mereka ada yang diam-diam mengambil pecahan kaca atau kayu masjid dan memasukkannya ke dalam saku. Mungkin untuk jimat. Mungkin juga bukan.

Para warga kampung sudah tidak percaya lagi kepada saksi-saksi yang berbicara. Mereka kini lebih suka mendengarkan kesaksian bisu para saksi-saksi bisu. Masjid itu bisu tapi dia adalah saksi kunci yang berbicara banyak dan gaduh tentang kegaduhan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Masjid itu bercerita tentang kesuciannya yang menurutnya kini ternoda. Dia adalah masjid yang dulu begitu percaya diri dianggap suci oleh banyak orang, disapu tiap hari, disumbang, dicat, dan ditempati beribadah. Kini ia mulai berubah pandangan dan mulai hilang kepercayaan diri. Masjid itu mengaku baru sadar bahwa ternyata kesuciannya bukanlah kesucian mutlak. Ternyata selama ini dia hanya geer dianggap suci. Ternyata yang menganggapnya suci hanya segelintir orang. Di luar sana, jauh lebih banyak orang yang tidak menganggapnya suci, bahkan melemparinya dengan batu. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali sepanjang tahun.

Yang membuat sang masjid semakin sedih adalah bahwa para pelempar-pelepar itu juga mengaku suci, berpakaian suci, dan dari wajah mereka tampak bahwa mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah di tempat suci. Bagaimana bisa kesucian beradu perang sedemikian rupa? Sang masjid juga bingung.

Sebagai saksi, masjid itu telah banyak berbicara tanpa disuruh. Dia berbicara sendiri seperti monolog dan warga kampung mendengarkan dengan khusyuk, sambil sekali-kali termanggut-manggut. Kebisuan sang masjid bukan kebisuan yag diam tetapi begitu gaduh dan juga tragis.

Warga kampung mendengar sang masjid yang bisu berkisah. Tidak terasa air mata menggenangi pipi mereka dan mereka pun terisak. Entah mereka terisak karena mendengar kisah sedih masjid bisu atau mereka capek kampung mereka selalu gaduh. Satu per satu mereka pulang meninggalkan masjid yang sedang menangis sedih dan tidak percaya diri.[]